Cat-1

Cat-2

Cat-3

Cat-4

Label: Foto

Beberapa pilihan foto-foto kenangan Presiden Soekarno semasa hidupnya.

Saat jadi komandan Romusha di masa Jepang | Foto: Fotoleren

Foto keluarga, dari kiri: Soekarno, Megawati, Guntur, dan Fatmawati. Tahun 1949 | Foto: Getty Images

Sungkem ke ibu Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai, 1946 | Foto: John Florea - LIFE

Bebronceng sepeda dengan Ibu Fatmawati di India 1950 | Foto: Fotoleren

Berdansa dengan Mrs. Howard P. Jones (Istri Dubes AS) di Jakarta 1959 | Foto: Getty Images 

Bermain Dumbo dengan anak, Guntur, di Disneyland, California AS 1956 | Foto: Corbis

Tanpa kopiah bersama Hartini, istri ke empat, di Istana Bogor 1965 | Foto: Getty Images

Membawa anak-anaknya, Guntur dan Megawati, ke New York tahun 1961 | Foto: Getty Images

Sedang santai bercanda di Athena, Yunani, tahun 1965 | Foto: Fotoleren

Tanpa kopiah di Istana Negara tahun 1967 | Foto: Fotoleren


Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl
Tim Nasiona Hindia-Belanda sedang berfoto bersama di Amsterdam bersama pada pejabat Belanda setelah mengikuti Piala Dunia di Perancis tahun 1938


Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl
Achmad Nawir (kapten kesebelasan Hindia-Belanda) di sebelah Puck van Heel (kapten kesebelasan Belanda) saat pertandingan persahabatan antara Hindia-Belanda dengan Belanda pada 26 Juni 1938.


Foto-foto ketika Hindia-Belanda kebobolan.
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl

Gambar-gambar ini merupakan pertandingan persahabatan antara Hindia-Belanda melawan Belanda di Stadion Olimpiade, Amsterdam, pada 26 juni 1938. Adu laga berakhir 9-2 untuk Belanda.

Foto-foto Jembatan Merah Surabaya tempo dulu yang berhasil admin himpun dari commons.wikimedia.org


De Willemskade langs de Kali Mas, Soerabaja | commons.wikimedia.org
Kali Mas Surabaya yang terlihat Jembatan Merah di ujung. 
Foto sekitar tahun 1870 - 1892.



De Roode Brug over de Kali Mas bij de Willemskade, Soerabaja | commons.wikimedia.org
Suasana Jembatan Merah Surabaya sekitar tahun 1880-1900



De Rode brug in Soerabaja ten tijde van de kroningsfeesten van Koningin Wilhelmina in 1898 | commons.wikimedia.org
Arti: Jembatan Merah di Surabaya pada saat penobatan Ratu Wilhelmina tahun 1898



De Roode Brug en de Handelstraat in Soerabaja | commons.wikimedia.org
Suasana Jembatan Merah antara tahun 1920 - 1931. Tampak sudah ramai kendaraan mesin roda 4.



Luchtfoto van Soerabaia, in het midden de Roode Brug over de Kali Mas | commons.wikimedia.org
Kota Surabaya dari atas yang dipotong oleh Sungai Kali Mas, terlihat di tengah-tengah ada Jembatan Merah. Foto sekitar tahun 1940.


Tentang Jembatan Merah Surabaya 

Jembatan Merah merupakan salah satu monumen sejarah di Surabaya, Jawa Timur yang dibiarkan seperti adanya: sebagai jembatan. Jembatan yang menjadi salah satu judul lagu ciptaan Gesang ini, semasa zaman VOC dahulu dinilai penting karena menjadi sarana perhubungan paling vital melewati Kalimas menuju Gedung Karesidenan Surabaya, yang sudah tidak berbekas lagi.

Kawasan Jembatan Merah merupakan daerah perniagaan yang mulai berkembang sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam perjanjian itu sebagian daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC. Sejak saat itulah Surabaya berada sepenuhnya dalam kekuasaan Belanda. Kini, posisinya sebagai pusat perniagaan terus berlangsung. Di sekitar jembatan terdapat indikator-indikator ekonomi, termasuk salah satunya Plaza Jembatan Merah.

Perubahan fisiknya terjadi sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatasnya dengan sungai diubah dari kayu menjadi besi. Kini kondisi jembatan yang menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya itu, hampir sama persis dengan jembatan lainnya. Pembedanya hanyalah warna merah.
Sumber: Wikipedia
Oleh Ridwan Hd

Susu kental manis dengan sebutan Susu Bendera bukan barang asing bagi kita. Ditelisik dari sejarahnya, susu ini sudah berada di tanah air sejak masa Hindia Belanda. Tepatnya pada 1922, merek susu kental manis yang berasal dari Netherlands bernama Friesche Vlag masuk ke pasar Batavia (Jakarta saat ini).

Awalnya, para peternak susu di negeri Belanda mengadakan kongsi (berkoperasi) untuk mencari cara meningkatkan kekuatan pasar dengan menjaga kualitas susu. Semakin panjang arus distribusi semakin lama juga waktu yang diperlukan agar produk susu bertahan lebih lama. Pada saat itu belum ada mesin pendingin. Pada 1913, beberapa kongsi peternakan itu mendirikan pengolahan susu bernama De Cooperatieve Condensfabriek Friesland (CCF) atau Pabrik Susu Kental Manis Friesland. Pabrik ini memproduksi susu dengan metode penguapan sehingga menjadi kental. Tujuannya agar susu menjadi awet ketika menjalani proses distribusi yang panjang. Pada saat itu juga, susuk hasil peternak Belanda di distribusiatau di ekspor ke seluruh negara Eropa.

Ketika susu kental ini masuk ke tanah air, mereka memberikan sebutan "Soesoe Tjap Bendera" agar bisa diterima oleh masyarakat. Sejak saat itu, Susu Bendera sudah menjadi konsumsi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan keterangan dari frisianflag.com, gambar ini adalah restoran anak-anak untuk produk susu tersebut yang tercatat pada 1935.

Berdasarkan info yang ditulis dari blog Indonesia Zaman Doeloe foto ini terjadi pada waktu 1949 yang bertempat di Jakarta. Kemungkinan ini adalah Kabinet Hatta I. Dilihat dari wajah tokoh-tokohnya dari kiri ke kanan terdiri dari :
- Mohammad Roem (tidak ada jabatan, saat itu Ketua Delegasi Roem-Royen)
- Kemungkinan H. Masjkur (Mentri Agama)
- Mohammad Hatta (Perdana Mentri)
- Soekarno (Presiden RI)
- Kemungkinan Hamengkubuwono IX (Mentri Pertahanan dan Negara)
- Agus Salim (Mentri Luar Negeri)
- Ali Sastroamidjojo (Mentri Pendidikan)
- Mohammad Natsir (Mentri Penerangan)

Sumber foto: Bert Hardy | Picture Post/Getty Images
Para Pengunjung Bioskop Rex Batavia ketika akan Menyaksikan Film The Dawn Patrol tahun 1939 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Rata-rata orang Indonesia gemar menonton film terutama di bioskop. Sejarah mencatat bahwa bioskop pertama kali diperkenalkan tahun 1895 oleh Robert Paul yang mendemonstrasikan kepada masyarakat di London mengenai kemampuan proyektor film. Lima tahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1900 film masuk ke Hindia Belanda (Batavia, sekarang Jakarta) semula hanya lantaran rasa kebanggaan orang kulit putih yang tidak mau kalah dari saudara-saudaranya yang tinggal di tanah airnya. Istilah pada saat itu adalah “gambar idoep”.

Borneo Bioscoop 1910 (Koleksi:http://www.kitlv.nl)

Bioscoop Alahambra te Jogjakarta 1935 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)
Bangunan bioskop masa itu menyerupai bangsal dengan dinding dari gedek dan beratapkan kaleng/seng. Setelah selesai pemutaran film, bioskop itu kemudian dibawa keliling ke kota yang lain. Bioskop ini di kenal dengan nama Talbot (nama dari pengusaha bioskop tsb). Bioskop lain diusahakan oleh seorang yang bernama Schwarz. Tempatnya terletak kira-kria di Kebon Jahe, Tanah Abang. Sebelum akhirnya hancur terbakar, bioskop ini menempati sebuah gedung di Pasar Baru.Tidak lama setelah itu (1903), sudah berdiri beberapa bioskop antara lain Elite untuk penonton kelas atas, Deca Park, Capitol untuk penonton kelas menengah, Rialto Senen dan Rialto Tanah Abang buat penonton kalangan menengah dan menengah ke bawah. Bioskop pertama di Indonesia berdiri pada Desember 1900, di Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat, karcis kelas I harganya dua gulden (perak) dan harga karcis kelas dua setengah perak.

Bioscoop te Magelang 1920 (Koleksi:http://www.kitlv.nl)
Setahun kemudian muncul fenomena layar tancap, antara lain di Deca Park (Gambir), Lapangan Tanah Abang, Lapangan Mangga Besar, Lapangan Stasiun Kota (Beos). Ada lagi bioskop yang bernama Jules Francois de Calonne (nama pengusahanya) yang terdapat di Deca Park. De Calonne ini mula-mula adalah bioskop terbuka di lapangan, yang pada zaman sekarang disebut “misbar”, gerimis bubar. De Calonne adalah cikal bakal dari bioskop Capitol yang terdapat di Pintu Air.

Suasana di dalam Bioskop Rex Batavia 1940 (Koleksi:http://www.kitlv.nl)
Pada  tahun 1936, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh HM Johan Tjasmadi, seorang tokoh perbioskopan Indonesia, terdapat 225  bioskop yang ada di Hindia Belanda, menyebar di Bandung 9 bioskop, Jakarta 13 bioskop, Surabaya 14 bioskop dan Yogyakarta 6 bioskop. Pada era itu, kepemilikan bioskop sudah didominasi oleh pengusaha Tionghoa. Ada anggapan bahwa orang Cina pada saat itu merasa tertantang untuk membuka usaha bioskop yang sebelumnya dijalankan oleh pengusaha londo atau kulit putih. Selain itu dengan memiliki usaha bioskop, para pengusaha Tionghoa itu dapat menjamu para pejabat Belanda  yang menjadi relasi mereka di bioskop miliknya dengan disertai undangan menonton bioskop  yang dibuat indah, dan para pejabat yang diundang juga diberi hadiah  upeti makanan dan minuman.

Bioskop Rex Surabaya tahun 1936 Memutar Film Captain Blood (Koleksi: http://www.kitlv.nl)
Sepanjang tahun 1920 – 1930, film-film yang masuk ke Hindia Belanda berasal  dari Amerika (Hollywood), Eropa (Belanda, Prancis, Jerman) dan China (Legenda Tiongkok Asli). Sekitar tahun 1925, film terbaru keluaran Hollywood bahkan sudah diputar di bioskop-bioskop Hindia Belanda, lebih cepat daripada bioskop di Belanda sendiri.

Poster Film Mandarin yang berjudul “Love and Justice” di Jakarta 1940 (Koleksi:http://www.kitlv.nl)
Hiburan di Hindia Belanda memang selalu di sesuaikan dengan kelas dan Bioskop menjadi penanda bagi struktur kelas kolonial di Hindia Belanda.

sumber copy dari : https://phesolo.wordpress.com/foto-masa-lampau/bioscoop-masa-kolonial-dalam-bingkai-foto/
Duduk dari kanan: Syekh Daud Rasyidi, Syekh Mohd. Djamil Djambek, 
Syekh Sulaiman Ar Rasuli (Inyiak Canduang),
Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek), Syekh DR. Abdullah Ahmad
Sebuah foto yang langka, memotret para ulama besar Ranah Minang pada awal abad ke-20 yang dianggap sebagai para pembaharu ajaran Islam di Sumatera Barat dalam satu frame. Mereka lah yang disebut dengan ulama "Kaum Muda" sebagai lawan kata dari ulama Sumatera Barat generasi sebelumnya yang dibahasakan sebagai ulama "Kaum Tua".

Mereka adalah Syekh DR. Abdullah Ahmad dari Padang (1878-1933), Syekh Ibrahim Musa dari Parabek, dikenal sebagai Inyiak Parabek (1884-1963), Syekh Sulaiman Ar Rasuli dari Canduang, dikenal sebagai Inyiak Canduang (1871-1970), Syekh Muhammad Djamil Djambek dari Bukittinggi, dikenal sebagai Inyiak Djambek (1860-1947) dan Syekh Daud Rasyidi dari Balingka, dikenal sebagaiInyiak Daud (1880-1948). Kalaupun ada yang kurang dalam rombongan ini mungkin ialah Syekh  DR. Abdul Karim Amrullah dari Maninjau, dikenal sebagaiInyiak De-Er atau Haji Rasul (1879-1945).

Kalau ditarik lebih jauh, hubungan persaudaraan diantara Inyiak-Inyiak tersebut bertemu kepada guru mereka di Makkah Al Mukarramah, yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Imam dan Khatib mazhab Syafi'i di Masjidil Haram yang berasal dari Balai Gurah Canduang, Agam. Konon beliau adalah orang non Arab pertama yang memperoleh kedudukan yang sangat terhormat itu. Setiap anak Melayu yang menuntut ilmu agama di Makkah pada awal abad ke-20 hampir  dapat dipastikan adalah murid beliau.

Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi
Syekh Ahmad Khatib (1860- 1916) terkenal karena sikap kritisnya terhadap adat istiadat dan praktik keislaman di kampung halamannya karena dianggap telah bercampur baur dengan penyakit "TBC" alias Tahayul, Bid'ah dan Khurafat. Tahayul contohnya percaya kepada hari-hari naas, Bid'ah adalah amalan yang diada-adakan tanpa ada contoh dari Rasulullah. Sedangkan Khurafat (ejaan lama: Churafat) adalah syirik yaitu mempercayai kekuatan lain selain Allah misalnya kuburan, batu, keris, dsb. Maka tak heran jika   muridnya mewarisi pendapat yang sama. Inilah cikal bakal gerakan pembaruan Kaum Muda di awal abad ke-20 itu. Tepatnya setelah para murid itu kembali dari belajar di Makkah.

Isu pembaharuan itu pada umumnya berkisar kepada 2 hal pokok yaitu perkara hukum agama versus hukum adat serta praktek Tariqat dalam perspektif ajaran Islam. Sebagaimana diketahui, ajaran Islam pertama yang masuk ke Ranah Minang adalah dalam versi ajaran Tariqat, sehingga ritual-ritual tariqat mewarnai praktik kehidupan keislaman sehari-hari orang Minang pada saat itu. Kaum Muda menilai sebagian dari praktik tersebut terjangkit penyakit TBC tadi sehingga perlu diluruskan. Akibatnya tak jarang terjadi gesekan dengan penganut faham Kaum Tua.  Gerakan pembaruan ini berkebetulan sejalan dengan gerakan Muhammadiyah yang juga sedang berkembang di Tanah Jawa. Itulah juga sebabnya mengapa Muhammadiyah bisa tumbuh subur di Ranah Minang. 

Pembaharuan lain yang dilakukan oleh para Inyiak diatas adalah metode pengajaran agama. Pembacaan kitab, riwayat maupun syair puji-pujian yang sebelumnya dibacakan dalam bahasa Arab, oleh para Inyiak kita tadi ditukar kedalam bahasa Melayu, agar dapat dimengerti oleh segenap lapisan masyarakat. Inyiak Djambek adalah salah satu yang pertama melakukan hal ini di suraunya di Tangah Sawah Bukittinggi. Selain itu -berbeda dengan ulama terdahulu yang umumnya didatangi oleh masyarakat- para ulama Kaum Muda ini justru aktif mendatangi masyarakat dengan melakukan perjalanan tabligh ke mesjid-mesjid dan surau-surau di seantero Sumatera Barat. Tak heran nama mereka sangat dikenal masyarakat Ranah Minang pada saat itu, meskipun belum pernah bertemu secara fisik.

Dari kiri: Syekh HM. Thaib Umar Sungayang,
DR. H. Abdullah Ahmad,
DR. H. Abdul Karim Amrullah
Hal lain yang paling dramatis mendapat sentuhan pembaharuan adalah cara belajar agama Islam yang sebelumnya berbasis halaqahdi surau, diganti dengan caraklasikal di dalam ruangan kelas. Berdirilah madrasah-madrasah "modern" yang pada gilirannya menjadi tujuan belajar santri dari seluruh penjuru nusantara. 

Inyiak Parabek mendirikan Perguruan Sumatera Thawalib di Parabek pada 1921. Inyiak Haji Rasul mendirikan Perguruan Sumatera Thawalib di Padang Panjang pada 1918. Haji Abdullah Ahmad mendirikan Perguruan Adabiyah di Padang pada 1909 serta Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) di Padang pada 1919. Inyiak Canduang mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Canduang pada 1926.

Kembali ke foto di awal tulisan, para murid yang berdiri di belakang guru-guru mereka memperlihatkan ciri pembaharuan itu. Mereka tidak memakai gamis dan surban, tetapi memakai peci dan kemeja serta jas dan pentalon. Bahkan ada yang berdasi dan bersepatu lokak. Pakaian seperti ini jugalah yang dipakai oleh H. Abdullah Ahmad dan H. Abdul Karim Amrullah pada saat menerima gelar Doktor dari Universitas Al Azhar Mesir pada tahun 1926, sehingga konon terjadi sedikit kehebohan karena pakaian mereka diluar "pakem" ulama saat itu.

Sebenarnya ambo sudah berusaha mencari dalam momen apa para ulama kharismatik ini berkodak basamo, tapi tidak berhasil. Dalam taksiran ambo, foto ini diambil sekitar pertengahan hingga akhir 1920-an, berpatokan kepada penampilan Inyiak Djambek yang terlihat berada pada umur pertengahan 60-an tahun. Yang pasti karena H. Abdullah Ahmad ikut didalam foto ini, artinya foto ini diambil sebelum tahun 1933, yaitu tahun berpulangnya beliau.

Terakhir, sebagaimana prinsip ulama dahulu bahwa ulama melahirkan ulama pula, setidaknya ada 2 ulama besar generasi berikutnya yang berasal dari keturunan para ulama di atas. Tabligh Inyiak De-Er atau Haji Rasul dilanjutkan oleh anaknya H. Abdul Malik Karim Amrullah yang populer sebagai Buya Hamka, sedangkan syiar Inyiak Daud diteruskan oleh putranya H. Mansur Daud yang kita kenal sebagai Buya HMD Dt. Palimo Kayo.


Perform

video

Feature

Cat-5

Cat-6