Cat-1
Cat-2
Cat-3
Cat-4
Label: Mozaik
Oleh Salim A. FIllah
![]() |
| Ilustrasi: historia.id |
Alkisah Sayyid Ja’far Ash Shadiq, sang Sunan Kudus menegur Sunan Kalijaga atas pakaiannya yang berwarna wulung, maka sang wali Kadilangu menjawab, “Jika dengan ini saya merasa dekat dengan yang saya dakwahi dan mereka merasa dekat dengan saya; bukankah pakaian terbaik adalah pakaian taqwa; sedang taqwa tersembunyi dalam dada?”
Sejak itu, pakaian beliau disebut Baju Taqwa.
Ketika bertakhta, Sang Sultan santri ‘Abdullah Muhammad Maulana Matarami Susuhunan Agung Hanyakrakusuma menjadikan pakaian ini sebagai busana kerajaan untuk para pejabatnya. Lalu pada Palihan Nagari 1755, Sultan Hamengkubuwana I menjadikannya sebagai busana resmi Keraton Kasultanan Yogyakarta. Adapun anasir utama dalam baju taqwa itu antara lain:
1) Keris. Dalam bahasa Jawa disebut Curiga (waspada) atau Dhuwung (sadar & hati-hati). Inilah makna taqwa seperti dalam bincang antara dua sahabat Nabi yang mulia. “Apakah taqwa itu?”, tanya ‘Umar. “Apakah engkau wahai Amirul Mukminin”, sahut Ubay ibn Ka’b, “Pernah berjalan di lintasan yang remang-remang sementara ada banyak duri dan onak?” “Ya”, jawab ‘Umar. “Apa yang kau lakukan ketika itu?”, tanya Ubay. “Aku berhati-hati”, jawabnya. “Maka itulah taqwa”, simpul Ubay ibn Ka’b. Adapun keris ini dikenakan di belakang sebab kewaspadaan yang terjaga tidak menafikan prasangka baik.
2) Kain bawahan atau sinjang yang dikenakan sebagai bebet. Maknanya, perut dan bawah perut adalah markas syahwat yang harus dibebeti, dibebat, dikendalikan agar tak liar. Kain ini di-wiru bagian ujungnya, yakni agar terjaga sifat wara’/wira’i. “Adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya dan mencegah diri dari hawa nafsunya, surgalah tempat tinggalnya.” (QS An Naazi’aat 40-41). Salah satu motif larangan yang hanya dikenakan oleh Sultan sejak masa Sultan Agung adalah Parang Barong. Parang bisa berarti lereng, menandakan perjuangan melawan hawa nafsu yang berat dan menanjak. Barong berarti singa, atau sesuatu yang besar. Seperti dikatakan Imam Wahb ibn Munabbih, “Siapa menjadikan syahwat takluk di bawah tapaknya, syaithanpun gentar pada bayangnya.”
3) Pasangan ikat pinggangnya disebut kamus dan timang. Taqwa harus diikat dengan ilmu. Kamus karena kosakata, nama-nama benda adalah ilmu pertama yang diajarkan pada Nabi Adam. Dan ilmu yang menjadi dasar iqra’, wajib dituntut sejak dari timangan, buaian hingga liang lahat.
4) Pakaian atasannya disebut surjan. Ia adalah suraksa-janma, sebaik-baik penjaga bagi manusia, yang harus punya watak nyawiji (menyatu dengan sesama), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), ora mingkuh (berani bertanggungjawab). Ketaqwaannya harus bersinar memancar, karena surjan juga bermakna “siraajan muniiraa”, mencahayai siang dan malam, memandu diri dan orang di sekitarnya. Kancing di lehernya ada 6, sesuai jumlah rukun iman. Dua kancing di dada kiri dan kanan melambangkan syahadatain, dan 3 kancing yang tersembunyi menunjukkan nafsu bahimah, lawwamah, dan syaithaniyyah. Motif khasnya adalah lurik, garis-garis selang-seling berwarna yang menuntut untuk lurus dalam hati, lurus dalam kata, dan lurus dalam tindakan. Seperti dikatakan Imam Sufyan Ats Tsaury, “Takkan lurus ‘amal seseorang hingga lurus hatinya. Dan takkan lurus hatinya hingga lurus lisannya.” Lurik birunya disebut Pranakan, artinya rahim. Bagaimana pemakainya harus menghayati bakti sebagai anak kepada orangtua.
5) ‘Imamah Jawiyah yang disebut blangkon. Ia semula adalah surban santri yang demi kemudahan pemakaiannya maka dipelipit, direkatkan dan dijahit. Pada gagrak Yogyakarta, ada mondholan di belakang. Sebab pemakainya harus menjadi “minzhalah”, payung pengayom bagi masyarakat.
Oleh Ridwa Hd.
![]() | ||
| Sebuah mural ekspresi kemerdekaan yang di foto tahun 1945 | Fotografer: John Florea, sumber: Time Life |
Sore hari pada 17 Agustus 1945, Mohammad Hatta menerima telepon dari Tuan Nishiyama, pembantu Admiral Maeda, yang meminta kesediannya untuk bicara dengan opsir Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Opsir itu ingin mengemukakan suatu hal yang sangat penting. Hatta mempersilakan datang.
Opsir sebagai utusan Kaigun menyampaikan aspirasi keberatan dari wakil-wakil umat Protestan dan Katolik di wilayah Indonesia Timur atas kalimat pembukaan Undang-undang Dasar yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Opsir itu menyampaikan jika wakil-wakil itu merasa di diskriminasi. Jika kalimat tersebut ditetapkan juga, mereka memilih berdiri di luar Republik Indonesia.
“Itu bukan suatu diskriminasi,” kata Hatta kepada opsir itu yang diceritakannya di buku Untukmu Negeriku. “Sebab, penetapan itu hanya mengenai rakyat yang beragama Islam. Waktu merumuskan Pembukaan Undang-undang Dasar, Mr. Maramis (beragama Kristen) yang ikut serta dalam panitia sembilan tidak mempunyai keberatan apa-apa dan pada tanggal 22 Juni ia ikut menandatanganinya.”
Opsir itu tetap menjelaskan bahwa apa yang disampaikan sudah menjadi pendirian para pemipin kristen dan katolik di daerah kekuasaan Angkatan Laut Jepang wilayah Indonesia Timur. Ancaman disintegrasi rupanya menakuti Hatta. Selama ini ia sudah berjuang mati-matian untuk bisa membuat negeri ini bersatu. Lalu Hatta meminta kepada opsir agar bersabar dan akan menyampaikan usulan itu kepada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) keesokan harinya.
Usul opsir itu disampaikan oleh Hatta pada sidang PPKI pada 18 Agustus 1945. Keributan pun terjadi. Kelompok Islam tidak terima dikarenakan Dasar Negara Pancasila sudah disepakati bersama pada 22 Juni 1945. “Memang pintar pihak minoritas non-Muslim itu. Pintar untuk memanfaatkan kesempatan moment psychologis.” komentar Kasman mengenai kejadian ini di buku Hidup itu Berjuang Kasman Singodemidjo 75 Tahun.
Mohammad Hatta mengusulkan formulasi baru pada sila pertama menjadi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Ia menafsirkan kata Tuhan sebagai Allah, Tuhannya umat Islam. Demi menjaga persatuan untuk menghadapi penjajahan kembali, beberapa tokoh golongan Islam mengambil sikap mengalah dan menyetujui rancangan baru tersebut. Tidak dengan Ki Bagus Hadikusomo yang tetap ngotot mempertahankan Piagam Jakarta.
Kasman yang ikut sebagai anggota tambahan sidang PPKI, sebenarnya ingin tetap mempertahankan hasil kesepakatan Piagam Jakarta sebagai dasar negara. Karena baginya Piagam Jakarta adalah wajar dan sangat logis bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Situasi yang genting dan waktu yang berjalan begitu cepat, ia memutuskan ikut mengalah untuk sementara.
Para tokoh Islam juga berupaya meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo tetapi tidak berhasil. Soekarno akhinya meminta batuan Kasman. Selain sesama orang Muhammadiyah, Kasman memang cukup dekat dengan Ki Bagus Hadikusumo. Dengan berpegang pada janji Soekarno akan dibahas kembali persoalan dasar negara 6 bulan kemudian di sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Kasman memutuskan ikut membantu meyakinkan Ketua Muhammadiyah itu agar bisa melihat kenyataan bahwa kondisi saat itu sedang darurat.
“Kiyai, tidakkah bijaksana, jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara mengalah demi kemenangan cita-cita kita bersama, yakni tercapainya Indonesia merdeka ....” begitu usaha lobi Kasman. Ki Bagus Hadikusumo pun luluh.
Setelah berkompromi secara bulat dan sikap toleransi para tokoh Islam, disepakati hasil rumusan Pancasila pada kesepaktan Piagam Jakarta di pasal 1 berubah dari ‘Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Butir Pancasila hasil kesepakatan dari Panitia Sembilan dan sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 itu yang dipakai hingga sekarang.
Sejak Soekarno memperkenalkan lima sila yang diberi nama Panca Sila pada 1 Juni 1945, masih belum disepakati sebagai dasar negara (baca juga: Sambutan Tepuk Tangan Ide Pancasila). Abdul Kahar Muzakkir, dalam pidatonya di Majelis Konstituante pada 1957, menceritakan kronologis pelaksaan sidang BPUPKI. Dengan jujur ia menjelaskan, bahwa dari 60 orang peserta sidang BPUPKI yang mewakili kelompok Islam hanya 25% saja. Kemudian yang memilih dasar negara kebangsaan sebanyak 45 suara dan memilih dasar Islam sebanyak 15 suara.
“Badan Penyelidik sesudah mengadakan rapat-rapatnya pada bulan Juni 1945 itu, memang belum begitu bulat pendapatnya tentang dasar negara,” ucap Muzakkir dalam sidang itu yang dirangkum di buku Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila Konstituante 1957. “Terbukti ketika ada kesempatan kebanyakan anggota-anggota Badan Penyelidik berkumpul di Jakarta pada 22 Juni 1945, maka Bung Karno mengundang mereka berapat di ruangan Hokokai (Kementrian Keuangan sekarang).”
Dalam rapat itu, Soekarno mengusulkan dibentuk panitia kecil yang diberi nama Panitia Sembilan. Angota Panitia Sembilan adalah: Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim, A. A. Maramis, Mohammad Yamin, Wahid Hasyim, A. Subarjo, Abikoesno, dan A. Kahar Muzakkir. Sebuah perbandingan yang adil dimana kelompok Islam berjumlah 4 orang, begitu juga kelompok kebangsaan 4 orang. Sedangkan Soekarno sebagai penengah dan pimpinan sidang.
Pada rapat 22 Juni 1945 itu, usulan lima sila soekarno yang terdiri dari: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa, disempurnakan oleh Panitia Sembilan.
Setelah rapat hingga jam 20.00 bertempat di kediaman Bung Karno di Jalan Pengangsaan Timur No. 56, Jakarta, disepakati rumusan lima sila yang berbunyi: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hasil rumusan Pancasila ini disepakati dengan nama Piagam Jakarta oleh Mohammad Yamin.
Kronologis jalannya sudang BPUPKI hingga PPKI juga diceritakan oleh Mohammad Yamin dalam buku Naskah Persiapan Undang-undang Dasar 1945. Hasil rumusan Panitia Sembilan memang banyak penolakan dari kelompok kebangsaan di Sidang BPUPKI tahap ke 2. Tetapi Soekarno dengan tegas mengatakan, “Kalau kalimat ini tidak dimasukan, tidak bisa diterima oleh kaum Islam.” Begitu juga anggota yang lain yang masih mempersoalkan sila pertama, lagi-lagi Soekarno dengan tegas bawah anak kalimat itu merupakan, “Kompromi antara golongan Islam dan kebangsaan, yang hanya didapat dengan susah payah.”
Rupanya penolakan sila pertama tak hanya datang dari kelompok kebangsaan, dari kalangan Islam, yakni Ki Bagus Hadikusumo juga tak sepakat dengan anak kalimat pasal satu: ... bagi pemeluk-pemeluknya. Ia meminta agar kalimat terakhir itu dihapus saja, tak perlu menggunakan kalimat Bagi pemeluk-pemeluknya.
Sekali lagi Soekarno mengingatkan sidang, bahwa anak kalimat itu adalah hasil kompromi antara dua pihak, “pendek kata inilah kompromis yang sebaik-baiknya. Jadi Panitia memegang teguh kompromis yang dinamakan oleh anggota yang terhormat Muhammad Yamin ‘Jakarta Charter’ yang disertai perkataan anggota yang terhormat Sukiman ‘Gentelman’s Agreement’, supaya ini dipegang teguh di antara pihak Islam dan pihak kebangsaan.” jelas Soekarno. Setelah mendengar pidato Abikoesno dari kelompok Islam, akhirnya sidang secara bulat sepakat dasar negara yang akan ditetapkan sesuai rumusan Panitia Sembilan.
“Dengan penegasan itu, belumlah berarti bahwa Islam dijadikan dasar negara,” kata Muzakkir kemudian di dalam pidato Majelis Konstituante pada 1957. “banyak sedikitnya dapat sekedar memberi jaminan bagi berlakunya hukum Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Oleh Yusuf Maulana
"Selama penaklukan-penaklukan mereka di wilayah Timur Tengah pada abad ke-13, pasukan Mongol tidak menunjukkan kecintaannya pada dunia pendidikan dan tidak menghargai kekayaan. Mereka menghancurkan keseluruhan kota dan (menyebabkan) koleksi perpustakaan hilang dalam pembakaran-pembakaran (dalam pengertian yang literal), sebab anggota-anggota dari pasukan berkuda yang merusak itu menggunakan manuskrip-manuskrip untuk bahan pembakar.
Perpustakaan utama di kota Tripoli dirusak oleh tentara pasukan perang Salib atas perintah seorang biarawan yang tidak suka dengan salinan-salinan Al-Qur'an yang tersimpan di rak-raknya. Jumlah seri yang dihancurkan dengan semangat keagamaan tentara Salib bahkan tidak dapat diperkirakan.
Perpustakaan-perpustakaan besar di pusat-pusat kebudayaan bangsa Moor (Andalusia; Spanyol) juga punah karena keberingasan orang-orang Kristen yang menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai buku-buku berbahaya yang menyelewengkan ajaran (heretik) dan mengandung ilmu mistik orang-orang kafir. Sedikit koleksi pribadi dan umum di Cordova, Granada, dan Toledo masih tersisa.
Untungnya, banyak karya terbaik pemikiran keislaman sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebelum peristiwa-peristiwa penghancuran ini, dan selamat dari kehancuran untuk menerangi sarjana-sarjana yang mulai tumbuh di dunia Barat. Namun, kita, para sarjana dari generasi kemudian, hanya dapat memperkirakan tentang banyaknya (karya-karya) yang hilang.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, kekosongan apa pun yang terjadi pasti terjembatani. Tetapi, dalam dunia filsafat dan seni sastra, sama sekali tidak ada jalan untuk menghitung keuntungan yang mestinya diraih, oleh generasi belakangan, dari (sic! musnahnya) pandangan otak-otak yang cemerlang pada abad itu."
Demikian petikan apik dari buku Charles Michael Spanyol, Pendidikan Tinggi dalam Islam (Jakarta: Logis), 1994, halaman 170-171. Saya cuplik dengan menata alinea agar sedap di mata kisanak. Sebuah kado di Hari Buku Nasional, 17 Mei ini.
Membaca masa silam disingkirkannya alam berpikir lewat teks langsung terpaut dengan berita razia dan pelarangan buku bernuansa komunis atau sekurangnya bersimpati pada isme ini. Memang ada sikap berlebihan dari aparat yang kadang malah bukan saja tidak efektif, melainkan juga kontraproduktif hasilnya lantaran mengundang rasa penasaran anak muda. Sesuatu yang awalnya berjarak malah didekati karena ingin menciptakan penanda beda dengan penguasa. Lebih-lebih disokong arus global yang tidak hendak adanya pembatasan.
Namun berlebihan kiranya juga patut disematkan pada sebagian pencela aparat. Seolah razia dan pelarangan buku isme kiri puncak fasisme. Kekerasan dilawan dengan kekerasan bahasa. Menuding pelarangan sementara faktanya mesin distribusi buku tersebut masih beroperasi di bawah tanah dengan aman. Amat jauh dengan fasisme ala Mongol hingga pasukan Salib dalam melampaui kenormalan manusia. Buku dihanguskan tanpa ampun. Tapi bagi Muslim kala itu, adakah praktik protes kekerasan bahasa hingga sikap-sikap "lebay" nan cengeng meratapi kekalahan?
![]() |
| Ilustrasi: Aljazeera |
Perpustakaan utama di kota Tripoli dirusak oleh tentara pasukan perang Salib atas perintah seorang biarawan yang tidak suka dengan salinan-salinan Al-Qur'an yang tersimpan di rak-raknya. Jumlah seri yang dihancurkan dengan semangat keagamaan tentara Salib bahkan tidak dapat diperkirakan.
Perpustakaan-perpustakaan besar di pusat-pusat kebudayaan bangsa Moor (Andalusia; Spanyol) juga punah karena keberingasan orang-orang Kristen yang menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai buku-buku berbahaya yang menyelewengkan ajaran (heretik) dan mengandung ilmu mistik orang-orang kafir. Sedikit koleksi pribadi dan umum di Cordova, Granada, dan Toledo masih tersisa.
Untungnya, banyak karya terbaik pemikiran keislaman sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebelum peristiwa-peristiwa penghancuran ini, dan selamat dari kehancuran untuk menerangi sarjana-sarjana yang mulai tumbuh di dunia Barat. Namun, kita, para sarjana dari generasi kemudian, hanya dapat memperkirakan tentang banyaknya (karya-karya) yang hilang.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, kekosongan apa pun yang terjadi pasti terjembatani. Tetapi, dalam dunia filsafat dan seni sastra, sama sekali tidak ada jalan untuk menghitung keuntungan yang mestinya diraih, oleh generasi belakangan, dari (sic! musnahnya) pandangan otak-otak yang cemerlang pada abad itu."
Demikian petikan apik dari buku Charles Michael Spanyol, Pendidikan Tinggi dalam Islam (Jakarta: Logis), 1994, halaman 170-171. Saya cuplik dengan menata alinea agar sedap di mata kisanak. Sebuah kado di Hari Buku Nasional, 17 Mei ini.
Membaca masa silam disingkirkannya alam berpikir lewat teks langsung terpaut dengan berita razia dan pelarangan buku bernuansa komunis atau sekurangnya bersimpati pada isme ini. Memang ada sikap berlebihan dari aparat yang kadang malah bukan saja tidak efektif, melainkan juga kontraproduktif hasilnya lantaran mengundang rasa penasaran anak muda. Sesuatu yang awalnya berjarak malah didekati karena ingin menciptakan penanda beda dengan penguasa. Lebih-lebih disokong arus global yang tidak hendak adanya pembatasan.
Namun berlebihan kiranya juga patut disematkan pada sebagian pencela aparat. Seolah razia dan pelarangan buku isme kiri puncak fasisme. Kekerasan dilawan dengan kekerasan bahasa. Menuding pelarangan sementara faktanya mesin distribusi buku tersebut masih beroperasi di bawah tanah dengan aman. Amat jauh dengan fasisme ala Mongol hingga pasukan Salib dalam melampaui kenormalan manusia. Buku dihanguskan tanpa ampun. Tapi bagi Muslim kala itu, adakah praktik protes kekerasan bahasa hingga sikap-sikap "lebay" nan cengeng meratapi kekalahan?
Oleh Ridwan Hd.
![]() |
| Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta | Foto: KITLV |
Lima tahun setelah penetapan hari kelahiran Budi Utomo sebagai hari kebangkitan nasional Hadji Samahoedi akhirnya bersuara. Ia menuturkan kepada Tamar Djaja, salah seorang jurnalis dari Himpunan Pengarang Islam, bahwa Sarekat Dagang Islam didirikan oleh dirinya pada 16 Oktober 1905. Penuturannya itu dilakukan ketika ia datang ke Jakarta menghadiri pertemuan para veteran Sarekat Islam pada 1953 saat umurnya telah menginjak 75 tahun. Sejak lepas dari jabatan Ketua Sarekat Islam hingga Indonesia Merdeka, ia tidak aktif lagi di dunia pergerakan.
Timur Jaylani dalam tesisnya di Institute of Islamic studies, McGill University pada April 1959 dengan judul The Sarekat Islam Movement; It's Contribution to Indonesian Nationalism, menuliskan bahwa Hadji Samanhoedi memilki saksi dan bukti pendukung penuturannya. Para saksi itu adalah Suwandi dan Raden Gunawan. Kedua orang ini terlibat dalam pertemuan 16 Oktober 1905 di rumah Hadji Samanhoedi untuk menggagas organisasi penghimpun para pedagang muslim. Mereka semua masih hidup dan ikut hadir pada pertemua itu. Selain itu, ada bukti lain dari kebenaran pernyataan Hadji Samanhudi ini, yaitu foto-foto pertama Sarekat Dagang Islam berdiri.
Penuturan Hadji Samanhoedi yang dipublikasi oleh Tamar Djaja dan juga menjadi tesis Timur Jaylani menjadi rujukan utama para sejarawan pendukung berdirinya Sarekat Dagang Islam di tahun 1905. Lalu muncul tuntutan agar Sarekat Dagang Islam seharusnya menjadi pelopor kebangkitan nasional. Tuntutan itu sudah dimulai sejak Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan pada 1956 agar hari kebangkitan nasional menjadi 16 Oktober.
Berbeda dengan Deliar Noer, sejarawan Muslim melalui disertasinya di Cornell University yang berjudul The Modernist Muslim Movement In Indonesia, menyatakan tidak sepakatnya. Deliar Noer bercerita dalam catatan kaki, ia membantah kesimpulan Tamar Djaja atas penuturan Hadji Samanhoedi.
Deliar Noer juga mengaku melakukan wawancara dengan Hadji Samanhoedi, termasuk para tokoh penting Sarekat Islam seperti Abdoel Moeis (Wakil Ketua Sarekat Islam 1916-1923), Syaikh Awad Sjahbal (teman rapat Samanhoedi), Ki Ahmad Bermawi (Pendiri SI di Palembang tahun 1913), dan Raden Gunawan. Begitu juga data-data dari berbagai surat kabar yang terbit sekitar waktu berdirinya Sarekat Islam ia teliti. Nampak, Deliar Noer lebih memilih sikap berdasar data-data tertulis seperti publikasi media atau catatan resmi yang dikeluarkan oleh badan hukum dari pada sekedar pengakuan.
Sesuai akta badan hukum pemerintah Hindia Belanda, Deliar Noer menyimpulkan, Sarekat Islam yang berawal dari Sarekat Dagang Islam dengan tokoh pendirinya Hadji Samanhoedi berdiri pada 11 November 1911.
Versi menarik lagi dari Takashi Sirashi dengan bukunya Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912 – 1916, yang juga hasil disertasi dari Cornell Unniversty tahun 1990. Takashi lebih banyak mengambil data tertulis dari catatan DA. Rinkes, pejabat penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera. Ia juga banyak mengambil data dari arsip inventaris Pemerintahan Hindia Belanda langsung.
Menurut Takashi, Sarekat Dagang Islam yang dikomando oleh Samanhoedi adalah cabang dari Sarkat Dagang Islamijah Bogor yang didirikan RM Tirto Adhi Soewirjo tahun 1909. Awalnya mereka adalah para pedagang batik di Lawean, Solo, yang mendirikan kelompok ronda bernama Rekso Roemekso. Niatnya hanya menjaga keamanan dari para kecu yang sering mencuri batik produksi mereka. Seiring waktu, ketika Cina berhasil dalam revolusinya menurunkan Kaisar Puyi tahun 1911, orang-orang Cina di Solo menunjukkan sikap angkuh. Konflik pun terjadi antara Rekso Roemekso dengan organisasi dagang orang-orang Cina yang memiliki nama Kong Sing.
Konflik tersebut membuat Residen Solo saat itu mempertanyakan status legalitas Rekso Roemekso. Jika tidak ada legalitasnya bisa dianggap sebagai organisasi liar yang harus diberantas. Atas ancaman itu, teman dekat Samahoedi yang bernama Djojomargoso dari pegawai kepatihan meminta tolong kepada Martodharsono yang merupakan teman dari Tirto. Tirto tak hanya sebagai pendiri Sarekat Dagang Islam di Bogor, tetapi juga pimpinan redaksi surat kabar Medan Prijaji dan dekat dengan kalangan pemerintah Hindia Belanda.
Ketika ada penyelidikan, Martodharsono mengatakan kepada penyidik bahwa Rekso Roemekso adalah Sarekat Dagang Islam cabang dari Sarekat Dagang Islam yang ada di Bogor yang didirikan Tirto. Lalu, Djojomargoso melalui Martodharsono juga meminta bantuan Trito membuatkan anggaran dasar organisasi. Namuni yang terjadi, Tirto menyusun Anggaran Dasar dengan nama Sarekat Islam bertanda tangan pada 9 November 1911. Meski sudah berbentuk organisasi modern, menurut Takashi, langkah geraknya masih seperti organisasi ronda sebelumnya hingga Tjokroaminoto bergabung menjadi anggota.
Deliar Noer juga menyebut nama Tirto dalam bukunya. Ia mengatakan jika Tirto memang diminta Samanhoedi membuatkan anggaran dasar organisasi. Tapi tidak menyebutkan ada nama Rekso Roemekso. Samanhoedi kenal dengan Tirto ketika sedang berkunjung ke Bogor dalam rangka dagang.
Dibalik perdebatan tentang waktu berdirinya Sarekat Dagang Islam, baik Deliar Noer, Timur Jaylani, dan Takashi Shiraisi tetap sepakat bahwa Boedi Utomo tak layak sebagai pelopor kebangkitan nasional karena sifatnya yang tertutup, hanya menerima anggota dari kalangan orang Jawa saja. Bahkan, setelah Dr. Soetomo tidak lagi memimpin setelah 6 bulan berdiri, anggota Boedi Utomo hanya dikuasai oleh para priayi.
Menariknya lagi, Takashi lebih menyebut nama RM Tirto Adhi Soewirjo sebagi pelopor kesadaran nasional. “Ia adalah archetypepemimpin pergerakan dekade berikutnya dan bumiputera pertama yang menggerakan ‘bangsa’ melalui bahasanya, yaitu bahasa yang ditulisnya dalam meda prijaji.” tulisnya.
Dari catatan Takashi, Tirto menjadi wartawan surat kabar sejak 1903 di usia 21 tahun. Ia mendirikan surat kabar Soenda Berita yang didanai oleh Bupati Cianjur RAA Prawiradiredja. Soenda Berita adalah surat kabar yang didanai, dikelola, dan diterbitkan murni oleh bumiputera. Saat itu, surat kabar kebanyakan masih dikolela atau didanai oleh kalangan Eropa ataupun Cina.
Pada 1906, ia juga terlibat mendirikan organisasi Sarekat Prijaji yang bertujuan memajukan pendidikan anak-anak priayi. Kemudian pada 1907, Tirto menerbitkan surat kabar mingguan bernama Meda Prijaji. Pada 1909, Medan prijaji berubah menjadi surat kabar harian. “Tirtoadhisoerjo menciptakan gaya jurnalistik tersendiri dalam Medan Prijaji dengan bahasa yang penuh sindiran dan penggunaan kata-kata Jawa dan Belanda.” tulis Takashi. Meski bernama Medan Prijaji, surat kabar ini tak hanya untuk kalangan priayi, tetapi dibaca oleh semua kalangan dengan bahasa melayu, dan menjadi surat kabar populer hingga 1911.
Peran membangun kesadaran “bangkit” melalui surat kabar ini dianggap Takashi sebagai bumiputera pertama yang menggerakan bangsa melalui bahasa. Kesimpulan Takashi juga sejalan dengan Pramoedya Ananta Toer yang kemudian menuliskan biografi lengkap Tirto pada buku Sang Pemula.
Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara justru menulis Tirto sebagai tokoh antagonis. Ia melihat Tirto jauh dari tokoh yang berjuang untuk bangsanya. Di dalam buku Api Sejarah, Ahmad Mansyur menyimpulkan dari kedekatan dengan RAA Prawiradiredja yang mendanai surat kabarnya, Soenda Berita. Sedangkan RAA Prawiradiredja adalah bupati yang berjasa kepada pemerintah Hindia Belanda dalam menjalankan tanam paksa di Cianjur. Karena program tanam paksa itu, RAA Prawiradiredja mendapat penghargaan mulia dari pemerintah dan menjadi bupati terkaya di Pulau Jawa.
Begitu juga dengan Tirto, ia sendiri lahir dari keluarga yang terkenal sukses dalam memungut pajak rakyat untuk pemerintah Hindia Belanda. Jasa keluarga ini menjadikan modal dirinya bisa sangat dekat dengan para petinggi pemerintah. Kedekatan Tirto dengan penguasa Hindia Belanda juga diakui Takashi dengan menuliskan, “Keberhasilan Tirtoadhisoerjo sebagai redaktur-penerbit pertama sebagian karena hubungannya dengan Gubernur Jenderal Van Heutsz, yang memberinya perlindungan dari ganguan birokrasi...”
Di dalam bukunya itu juga Ahmad Mansyur menjelaskan bahwa Sarekat Dagang Islamijah yang didirikan Tirto di Bogor tahun 1909 adalah organisasi sempalan yang disponsori pemerintah Hindia Belanda untuk menyaingi Sarekat Dagang Islam pimpinan Samanhoedi di Solo. Perbedaannya, Sarekat Dagang Islamijah di Bogor terdaftar resmi secara legalitas di notaris pemerintah, sedangkan Sarekat Dagang Islam di Solo belum tercatat meski jumlah anggotanya lebih besar. Ahmad Mansyur termasuk sejarawan yang mendukung Sarekat Dagang Islam berdiri pada 16 Oktober 1905.
Apapun perdebatan sosok yang layak menjadi pelopor kebangkitan bangsa, keputusan pemerintah pada Kabinet Hatta tahun 1948 menetapkan Budi Utomo sebagai organisasi pelopor kebangkitan memang layak digugat kembali. Kemudian mencari pendapat yang kuat antara memilih Hadji Samanhoedi atau RM. Tirto Adhi Soerjo sebagai tokoh yang pantas, ataukah tak perlu ada hari kebangkitan nasional sama sekali?
oleh Salim A. Fillah
“Yogya itu ngangeni”, kata mereka yang pernah mengunjunginya. Alasannya tak satu dan tak baku. Setiap orang punya penjelasannya sendiri, karena kenangan itu menjerat hati, bukan isi kepala. Tapi ternyata bukan hanya kini, bahkan pengunjungnya di perempat abad kesembilan-belas menuliskan kesan ini:
“..Tapi Djocja (Yogyakarta) dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailles Jawa. Kini tak sampai sepersepuluhnya yang tinggal utuh, tapi (aslinya dulu) terlihat dari reruntuhan tembok yang besar-besar..”
-Willem von Hogendorp, 1828-
Ahli hukum lulusan Leiden Universiteit ini menyambanginya setelah 3 tahun Perang Diponegoro (1825-1830) berkecamuk. Kala itu, banyak pangeran telah menghancurkan kediaman-kediaman megah mereka di sekitar Kraton sebelum bergabung dengan barisan juang putra sulung Sultan Hamengkubuwana III itu. Pun karena beberapa pertempuran, bangunan-bangunan terbaik telah menjelma jadi reruntuhan.
Bahkan 16 tahun sebelumnya, pada Juni 1812, bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancur-leburkan Benteng Baluwarti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.
Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli.
Yogyakarta yang dilihat Von Hogendorp dalam tugasnya sebagai Ajudan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pada 1828, adalah sosok kalah dan lelah yang terluka parah, tapi pesonanya masih memukau. Sebab ia memang suatu Versailles Jawa dalam kejelitaannya, dan bahkan Madinah Jawa dalam nilai-nilainya. Madinah dari suatu tamadun yang madani, yang pada setiap sisi tata kotanya terjabarkan hakikat kemanusiaan, kehambaan, dan kebersamaan.
Yogya itu ngangeni, barangkali karena tata-kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang hakikat hidup kita.
Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kota ini, agaknya telah menyeksamai dengan cermat penempatan kratonnya. Di samping faktor kesejarahan bahwa Kota Gede-Karta-Pleret; ibukota Kesultanan Mataram Islam yang didirikan leluhurnya berada di dekatnya; alasan filosofis, militer, geografis, dan sosiologis agaknya membuat beliau bersikukuh untuk memilih Alas Paberingan dan Umbul Pacethokan ini dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Berbagai pihak hingga kini memperbincangkan keistimewaan tata-kota Yogyakarta pada mulanya, yang didasarkan pada falsafah hakikat manusia dari Sultan Hamengkubawana I yang dapat kita ringkas menjadi 3 prinsip yang dijiwai 5 nilai:
1. Prinsip Poros, dijiwai oleh “Sangkan Paraning Dumadi” Prinsip Geometris, dijiwai oleh
2. “Hamangku, Hamengku, Hamengkoni” dan “Hamemayu Hayuning Bawana”
3. Prinsip Konfiguratif, dijiwai oleh “Catur Sagatra” dan “Nyawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh”
PRINSIP POROS
Secara harfiah kalimat “Sangkan Paraning Dumadi” bermakna keinsyafan akan asal dan tujuan hidup sebagai makhluq. Dalam pembangunan Kota Yogyakarta, disusun sebuah poros lurus yang seakan meletakkan Kraton berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di titik selatan. Tetapi lebih dari itu, sejak Panggung Krapyak yang menandai batas selatan kota tua Yogyakarta hingga Keraton adalah pralambang sangkan, asal kehidupan. Adapun dari Kraton hingga Tugu Golong Gilig yang menjadi had utara menguraikan makna paran, tujuan hidup insan.
“Maka hendaklah insan memperhatikan dari mana ia diciptakan. Dia dicipta dari air yang dipancarkan.” (QS Ath Thariq [86]: 5-6)
Panggung Krapyak berujud bangunan persegi bertingkat sebagai perlambang rahim seorang ibu. Di lantai bawah, rusa-rusa dikandangkan. Pada kesempatan tertentu, Sultan dan para punggawa naik ke tingkat atas dengan membawa busurnya. Ketika pintu kandang rusa di bawah dibuka, rusa-rusa berlarian dan para pemanah itupun menembak mereka dengan jemparingnya. Inilah pralambang konsepsi, benih lelaki yang dibidikkan pada benih perempuan.
Maka kampung di sebelah selatan Panggung Krapyak dinamakan Mijen, yakni tumbuhnya manusia sebagai nutfah, ‘alaqah, dan mudghah, lalu Malaikat pun datang untuk meniupkan ruhnya serta menuliskan ajal, rizqi, ‘amal, serta apakah termasuk orang beruntung ataukah celaka. Lalu tumbuhnya sang janin berlanjut menyempurna. Kelahirannya ditandai dengan nama kampung di sebelah utara Panggung; Mijil.
Jalan yang menghubungkan antara Panggung Krapyak hingga ke gerbang selatan Baluwarti Kraton yang disebut Plengkung Nirbaya di Gading; kanan serta kirinya ditanami pohon Asem (Tamarindus indica) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi L.). Inilah penanda bagaimana membesarkan seorang bayi; yakni Asem yang dimaknai harus banyak Mesem (tersenyum) sebagai tanda syukur, sebab sungguh bayi itu amat Sengsem (mempesona). Tanjung bermakna bayi itu harus disanjung sembari menyanjung Penciptanya, suatu cara menumbuhkan berbagai potensinya kelak untuk bekal di usia dewasa.
Memasuki alun-alun selatan, ditandai dengan lima jalan yang berarti kesiapan seluruh panca-indra. Dua jalan utama diberi akses langsung ke dalam tanah lapang; pendengaran dan penglihatan yang terhubung hati-fikiran, semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai penandanya, ditanam pohon Asem yang daun mudanya disebut Sinom; karena sipating nom-noman (sifat orang muda) yang mulai memperhatikan penampilan.
Halaman berpasirnya menunjukkan betapa ia bisa ditulisi berbagai hal; belajar di usia emas menggoreskan bekas yang tak mudah hilang. Di tengah alun-alun ditanam pohon Wok, sepasang beringin dengan akar berjumbai. Yang satu berarti brewok (cambang dan jenggot), suatu tanda kedewasaan sekaligus sunnah Nabi untuk dipelihara. Yang satu lagi berarti rambut kemaluan, maka harus dikurung; baligh berarti tiba kewajiban untuk menutup ‘aurat dengan sempurna.
Sekeliling alun-alun itu dahulu dirimbuni pohon Pakel (Mangifera foetida L.), Pelem (Mangifera indica), dan Kweni (Mangifera odorata). Pakel sebagai wakil makna ‘Aqil, yakni tidak hanya baligh secara biologis tapi harus optimal dalam kedewasaan akal. Pelem artinya Gelem (mau); yakni bersedia melaksanakan tuntutan syari’at sebab dia sudah mukallaf. Dan Kweni artinya wani (berani); yaitu sanggup bertanggungjawab atas segala perbuatannya.
Beranjak ke utara terdapat Tratag menuju Sitihinggil, lambang bagi jenjang hidup yang dititi dan didaki oleh seorang manusia. Betapapun bentuknya berundak-undak memayahkan, sebagai lambang perjuangan hidup; di kanan dan kirinya ditanam pohon Gayam (Inocarpus fagiferus). Gayam bermakna ayem (tenang dan teduh), ketentraman akan turun ke dalam hati selama seorang hamba bersandar pada Allah dalam ikhtiyarnya.
Di Sitihinggil itu, ada Sela Gilang tempat singgasana Sultan diletakkan untuk menyaksikan berbagai gladi, latihan perang, persiapan grebeg, hingga rampogan (pertandingan ketangkasan manusia, kerbau, dan harimau). Sifatnya yang seremonial juga melambangkan pernikahan seorang hamba yang semarak di sela karirnya yang menanjak. Tanaman hias di sekelilingnya berupa Gayam, Soka (Saraca indica), dan Mangga Cempora. Sebaran bunga yang harum ditambah warna kembang merah merona dan putih melambangkah kehidupan asmara sang mempelai yang diharapkan penuh sakinah (gayam), mawaddah (soka), dan rahmah (cempora).
Di dalam Kraton, kehidupan sang hamba Allah sejak dari kehamilan istrinya, tergambar sebagai Kemandungan, kelahiran (Pamengkang), dan seterusnya dia menumbuhbesarkan anaknya diulang sebagai pralambang-pralambang yang lebih rinci daripada yang tergambar antara Panggung Krapyak hingga Sitihinggil Selatan. Tapi pilar dari kesemua itu adalah cinta Allah, cinta Rasulullah, dan cinta Al Quran; sebagaimana setiap tiang dalam bangunan-bangunan di Kraton selalu dipahatkan stilisasi kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Laam Mim Ra. Kita akan meloncatinya untuk langsung menuju bagian depan Kraton di utara melihat gambaran tentang Paraning Dumadi, tujuan hidup kita sebagai makhluq.
Bangsal Witana, gambaran dari wiwit ana, pemahaman hamba akan jiwanya sendiri sehingga dia mulai menyadari keberadaannya di dunia yang akan segera sirna menuju akhirat yang sejati dan abadi. Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara menunjukkan tempat untuk mangun (memperbaiki diri), dan anangkil (mendaki menuju Allah).
Ke depan tampak Tarub Agung, penanda taqarrub kepada Allah Yang Maha Agung dengan 4 pilar: syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Di paling depan, Bangsal Pagelaran berdiri megah penanda pager-aran; yang bermakna tak lagi pentingnya nama dan ketenaran dalam pengabdian yang ikhlas. Juga pagelaran dari kata “gilar” yang bermakna telah terang dan tampak luas jalannya.
Dengan demikian, sang hamba mencapai keheningan jiwa dan kelapangan dada seperti tergambar oleh Alun-alun Utara yang dikiblati oleh Masjid Gede Kauman di bagian barat. Di tengah ada beringin Dewandaru, penanda hubungan yang kokoh dengan Ilah sesembahan, dan beringin Janandaru, simbol hubungan yang kokoh dengan sesama manusia. Di sekeliling alun-alun, 64 pohon beringin menggambarkan usia Rasulullah dalam Qamariyah dibulatkan ke atas, senyampang 60 pilar di pagelaran menggambarkan usia Rasulullah dalam Syamsiyah dibulatkan ke bawah.
Keluar ke arah utara, terbentanglah jalan Marga Mulya, yang berarti jalan kemuliaan. Di jalan kemuliaan ini dibentangkan aneka goda dan ujian; akidah dengan Gereja Kidul Loji, rasa takut dengan Benteng Belanda Fort Vredeburg, kekuasaan asing dengan kediaman Residen Gedung Agung, harta dengan Pasar Beringharjo, karir politik dengan Kepatihan Danurejan, dan wanita dengan pasar Kembang.
Sebagai penyambung Marga Mulya; jalannya Malih Obora, yang berarti jadilah kamu obor pelita, siraajan muniira. Justru berbagai godaan itu harus menjadikan sang hamba sebagai Imamul Muttaqin, pemimpin orang bertaqwa yang menjadi suluh teladan bagi sesama. Hingga jika lulus ke ujung, sampailah sang hamba ke Marga Utama; jalan keutamaan yang kini membentang antara rel kereta api hingga Tugu. Inilah tibanya hamba pada saat kehambaan paripurna:
“Hingga apabila dia telah sampai pada usia dewasa dan sampai pada usia empat puluh, dia berdoa, 'Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Kau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk beramal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang yang berserah diri kepadaMu.'” (QS Al Ahqaaf [46]: 15)
Di ujung Marga Utama itulah dulu berdiri kokoh setinggi hampir dua kali lipat bangunan De Witt Paal yang sekarang; Tugu Golong Gilig. Sultan Hamengku Buwana I bila bertakhta di Sitihinggilnya dapat memandang lurus ke puncak tugu yang oleh beliau disebut sebagai Alif Mutakalliman Wahid ini. Di sinilah tegak Tauhid, kalimat suci yang diharapkan terucap di saat nyawa terrenggut, “Laa ilaaha illaLlaah.” Dialah kebulatan tekad (golong) dan juga ketegasan ‘aqidah (gilig). Dialah simbol persatuan raja dan rakyatnya; satu tekad, satu tujuan, untuk menegakkan kehambaan (‘Abdullah) dan pemakmuran bumi (Khalifatullah).
Inilah Krapyak hingga Tugu; poros tauhid di kota ini yang perlu disusuri untuk memahami hakikat kehidupan kita.
PRINSIP GEOMETRIS
Sesuai nama yang disandangnya, pendiri kota Yogyakarta disifati Hamangku (berkhidmat melayani), Hamengku (melindungi dengan kasih sayang sekaligus keadilan), serta Hamengkoni (siap bertanggungjawab atas amanah di pundaknya). Ketiga hal ini pula diwujudkan dalam tata kotanya, yakni kota yang melayani, melindungi, dan memenuhi tugasnya.
Adapun Hamemayu Hayuning Bawana yang menjadi semboyan Sang Sultan bermakna harfiah memperindah keindahan semesta. Hadirnya manusia, juga Kota Yogyakarta hendaknya menjadikan kian indahnya alam kehidupan, makin bermakna, dan bernilai tambah.
Kedua prinsip ini menjadi jiwa dari tata-letak geografis dan diwujudkan dalam hubungan-hubungan geometris yang teratur demi terwujudnya kesemua maksud pembangunan dan pengembangan kota.
“Dan bumi telah Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 48)
Yogyakarta berdiri di sebuah bentang medan yang datar dengan kisaran lereng hanya 3%, terletak di tengah jazirah Kewu-Mataram yang sejak lama menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan beberapa kerajaan. Pengapitnya berupa 3 sungai di barat (Progo, Bedog, Winongo) dan 3 sungai di timur (Code, Opak, Oya) yang menjamin ketersediaan air, menyalurkan air buangan, menjaganya dari banjir, dan sebagai garis pertahanan alami.
Di ufuk utara, tampak Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan dengan abu vulkanisnya, sementara bahaya letusan dan awan panasnya ke arah Kota Yogyakarta diperisai oleh bukit kembar; Turgo dan Pelawangan. Di arah selatan, Samudera Hindia yang membentang penuh dengan potensi besar namun bergempa; terbentengi tsunaminya oleh anak perbukitan kapur selatan dari arah Panggang hingga Pajangan.
Dengan alun-alun utara berpagar kayu yang sebelum digerogoti oleh pemukiman Belanda dan Tionghoa lebarnya mencapai 1200 meter, Kraton berdiri gagah di selatannya dipagari benteng baluwarti setinggi 4 meter yang kokoh dengan jagang, saluran air pertahanan selebar 3 meter dan bastion yang menjorok keluar di masing-masing sudutnya. Tebal tembok bagian atas mencapai 3 meter, cukup dilewati kereta Sultan, Kanjeng Nyai Jimat, yang sering diiring putra mahkota menunggang kuda berkeliling untuk menginspeksi. Padanya terdapat 5 pintu gerbang utama yang disebut Plengkung; Tarunasura, Madyasura, Jagasura, Jagabaya, serta Nirbaya.
Di sudut barat laut Keraton dibangun Tamansari yang secara lahiriah tampak sebagai sebuah arena pemandian dan pelesir sampan yang luas, dengan lorong-lorong yang rumit dan pengaturan air yang canggih. Kompleks indah ini semula terdiri atas 59 bangunan, termasuk Masjid, kolam-kolam pemandian, sumur gumuling, dan rangkaian 18 pertamanan beserta paviliunnya yang dikelilingi danau buatan. Dinamakan Segaran yang berarti laut tiruan, danau ini sering menjadi tempat Sultan Hamengkubuwana I menjamu tamu-tamunya di atas perahu, seperti dikisahkan Gubernur Noord-Oost Kust, Jan Greeve dalam kunjungannya pada tahun 1790.
Disebutkan bahwa apabila Keraton dalam keadaan terkepung, arus air dari Kali Winongo di Badran dan Kali Code di Gondolayu akan dibelokkan memasuki Keraton menjadikan kesemua bagiannya terendam menyisakan Pulo Kenongo dan Tajug di tengah Tamansari yang menjadi pusat pengaturan arus air, di mana di bawahnya terdapat lorong-lorong yang tembus hingga keluar Kraton untuk sarana meloloskan diri anggota keluarga kerajaan dan mennghimpun kembali kekuatan bersama rakyat.
Di luar Tembok Kraton, kompleks-kompleks prajurit secara geometris disusun menurut gelar perang tradisional yang sigap menghadapi bahaya. Di barat melingkar ke selatan; bermukim kesatuan Wirobraja, Patangpuluh, Ketanggung, Bugis, dan Daeng. Di sebelah selatan terdapat kompleks para-komando yang disebut Kumendaman, dengan dijajari oleh kesatuan Mantrijero, Jogokaryo, dan Prawiratama. Di timur melingkar ke utara; kesatuan Nyutra dan Surakarsa. Di sela-sela garnisun berbagai kesatuan perang ini, prajurit kanayakan ditempatkan; Penumping, Sitisewu, Gedongtengen, Gedongkiwa, Numbakanyar, dan Keparak.
Tepat sebelum peristiwa penyerbuan Inggris yang kami sebut dalam pengantar, Jan Izaak van Sevenhoven (1782-1841), pejabat tinggi Belanda yang suka berkelana mengunjungi kota ini pada awal 1812. “Di sepanjang jalan utama menuju Keraton”, kisahnya, “Terdapat pepohonan tinggi dan rindang dengan jajaran rumah tinggal para pangeran serta para pegawai Keraton yang tertata, sementara rumah-rumah penduduk biasa diatur rapi lebih menjorok sedikit ke belakang dari bahu jalan.”
Peter Carey dalam Kuasa Ramalan-nya menggarisbawahi, Yogyakarta di masa sebelum pertempuran 1812 yang dalam khazanah Jawa disebut Geger Sepoi itu memang tak tertandingi sebagai kota Jawa ber-bangunan tembok paling banyak dan tertata, dengan bata serta kapur putih yang dipasok dari daerah Gamping di barat lautnya.
Residen Yogyakarta dari pertengahan abad ke-19, A.H.W. Baron de Kock menambahkan tentangnya, “Masa itu, Yogya makmur, kaya, dan indah; negeri subur dan mujur; ibukota cantik dan asri; penuh dengan gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi, dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air melimpah. Kala itu, perniagaan, kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Jawa (Yogyakarta) amat bangga dengan kota kelahiran mereka.”
Alexander de Nelly, seorang di antara murid-murid Johannes Rach dari Denmark, berhasil mensketsa pemandangan Keraton Yogyakarta pada sekira tahun 1771, dari arah alun-alun utara. Tampak di sini dua lapis pagar kayu kokoh yang nantinya akan menjadi Gapura Gladhak dan Gapura Pangurakan. Di tengah panorama, pohon beringin kurung Dewandaru dan Janandaru ditingkahi oleh berbagai paviliun cilik yang apik. Sementara di latar belakang, Tratag Rambat yang tinggi sebagai cikal bakal Pagelaran menjulurkan tembok baluwarti yang kokoh ke arah kanan dan kiri.
Inilah struktur geometri kota yang melayani, melindungi, menunaikan tugas, dan menambahkan makna pada keindahan ciptaan Allah.
PRINSIP KONFIGURATIF
Dengan Kraton sebagai pralambang pemerintahan, Alun-alun sebagai pralambang rakyat, Masjid Gede sebagai pralambang keagamaan, dan Pasar sebagai pralambang perekonomian; unsur-unsur ini disebut sebagai Catur Sagatra yang berarti empat pilar kehidupan sebagai satu kesatuan. Ini memang pola umum tata-kota di Jawa, tetapi peletakannya di Yogyakarta agak istimewa.
Pasar, diletakkan agak menjauh dari tiga unsur lain yang menyatu. Seakan menunjukkan tidak bagusnya kondisi kong-kalikong antara penguasa dan pengusaha; jalan yang dilewati para niagawan itu untuk bertemu Sultan harus melalui alun-alun di mana rakyat mengawasi dan langkah-langkah merekapun tak lepas dari tatap seksama para ‘ulama yang ada di Masjid Agung.
Sebaliknya, kawasan Pekapalan, tempat para Bupati dari wilayah-wilayah jauh datang, menambat kuda, dan menginap sebelum menghadap Sultan; diletakkan dekat sekali dengan Masjid. Sebab di Masjid-lah seharusnya, para penguasa mudah dijumpai dan diajak mengingat Allah atas amanah berat di pundak mereka yang kelak akan dimintai tanggung-jawabnya oleh Allah. Di sekitar Masjid tinggal para Pengulu dan Abdi Dalem Suranata, yang arti harfiahnya adalah berani kepada Raja; berani untuk menyampaikan nasehat dan kalimat yang haq.
Masjid juga memiliki kedudukan tersendiri yang terorganisasi hingga ke berbagai penjuru. Selain Masjid Gede Kauman sebagai pusat, empat Masjid pancer didirikan oleh Sultan sebagai Patok Negara di keempat arah mata angin; Mlangi di Barat Laut, Dongkelan di Barat Daya, Babadan di Tenggara, dan Plosokuning di Timur Laut.
Selain menjadi pusat ibadah Islam, dengan para Imam yang melapor langsung pada Kyai Pengulu Ageng di Masjid Gede, Masjid-masjid Patok Negara ini menjadi tempat pendidikan bagi para santri, pusat syi’ar Islam, hingga pusat koordinasi pertahanan semesta dan ‘sertifikasi halal’. Para Modin desa dididik dan dilantik di sini, yang selain bertugas memimpin ibadah, sampai soal menyembelih hewan untuk konsumsi masyarakat pun hanya mereka yang berhak demi menjamin agar kehalalannya terjaga.
Masjid-masjid ini juga dibangun dengan berbagai unsur pralambang yang dimaksudkan untuk mendidik masyarakat secara terus-menerus. Memasuki halamannya orang akan melihat pohon Sawo (Manilkara zapota) berjajar, dimaksudkan untuk mengingatkan, “Sawwuu shufuufakum, luruskan shaff-shaff kalian.” Pagarnya dipuncaki ukiran buah Waluh (labu kuning), untuk membawa pada tauhid, “Wallah” dan “Qul huwallaahu Ahad.”
Memasuki ruang serambi, tempat di mana Mahkamah Syari’ah biasanya digelar tampak pintu Masjid diukiri gambar wajik. Ini untuk mengingatkan hakikat pengadilan akhirat yang lebih kuat. “Wajii-a yaumaidzin bijahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insaanu wa anna lahudz dzikraa.. Dan pada hari itu didatangkan jahannam. Pada hari itu manusia menjadi ingatlah manusia akan segala perbuatannya, tapi apalah guna ingat di saat terlambat itu.” (QS Al Fajr [89]: 23)
Di langit-langitnya yang indah, ukiran berbentuk buah nanas melambangkan Masjid sebagai tempat berlindung manusia dari segala was-was syaithan kepada Pencipta manusia, Penguasa manusia, dan Sesembahan manusia. Nanas menjadi penuntun membaca salah satu Surat Mu’awwidzatain, “Qul a’udzu bi Rabbinnaas, Malikinnaas, Ilahinnaas..”
Di serambi itu diukirkan sulur-sulur tetumbuhan yang disebut lung-lungan. Maknanya, bahwa segala tujuan ibadah hanyalah untuk Allah, menggapai ridhaNya, hingga lebih masyhur di langit daripada di bumi. “Akarnya kokoh menghunjam dan cecabangnya menggapai langit.” (QS Ibrahim [14]: 24). Pula ia bermakna tulung-tulungan, “Dan saling tolong menolonglah kalian di atas kebajikan dan taqwa.” (QS Al Maidah [5]: 2).
Di puncak Masjid, di atas atap tajuk bertumpang tiga, mustaka Masjid tak berbentuk kubah melainkan ukiran tumpuk daun Kluwih (Artocarpus camansi). Maknanya, segala kaluwihan (karunia, kebaikan, dan keutamaan) adalah milik dan dari Allah; “Qul innal fadhla biyadillah.. Katakanlah (hai Muhammad) bahwa karunia itu di tangan Allah, Dia berikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran [3]: 73)
Di jalan-jalan keluar Masjid biasanya tertanam pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki). Makna tersiratnya adalah sarwo becik, serba baik lagi penuh kebaikan seperti tertuntut dari orang yang menunaikan ibadah; ia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, menebar salam dan manfaat bagi sesamanya.
Keseluruhan konfigurasi tata-kota ini juga menjadi penyelaras bagi watak masyarakat yang diteladankan Sang Sultan; nyawiji (menyatu), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), dan ora mingkuh (berani bertanggungjawab).
Bagaimanapun juga; selamat mengunjungi Yogyakarta dan menelusuri hakikat kemanusiaan kita. Ahlan wa sahlan, dan bersiaplah untuk kangen.
BACAAN
![]() |
| Tugu Jogja yang di foto oleh Th. van de Burgt pada Desember 1948. Sumber: Het Nationaal Archief | gahetna.nl |
“Yogya itu ngangeni”, kata mereka yang pernah mengunjunginya. Alasannya tak satu dan tak baku. Setiap orang punya penjelasannya sendiri, karena kenangan itu menjerat hati, bukan isi kepala. Tapi ternyata bukan hanya kini, bahkan pengunjungnya di perempat abad kesembilan-belas menuliskan kesan ini:
“..Tapi Djocja (Yogyakarta) dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailles Jawa. Kini tak sampai sepersepuluhnya yang tinggal utuh, tapi (aslinya dulu) terlihat dari reruntuhan tembok yang besar-besar..”
-Willem von Hogendorp, 1828-
Ahli hukum lulusan Leiden Universiteit ini menyambanginya setelah 3 tahun Perang Diponegoro (1825-1830) berkecamuk. Kala itu, banyak pangeran telah menghancurkan kediaman-kediaman megah mereka di sekitar Kraton sebelum bergabung dengan barisan juang putra sulung Sultan Hamengkubuwana III itu. Pun karena beberapa pertempuran, bangunan-bangunan terbaik telah menjelma jadi reruntuhan.
Bahkan 16 tahun sebelumnya, pada Juni 1812, bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancur-leburkan Benteng Baluwarti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.
Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli.
Yogyakarta yang dilihat Von Hogendorp dalam tugasnya sebagai Ajudan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pada 1828, adalah sosok kalah dan lelah yang terluka parah, tapi pesonanya masih memukau. Sebab ia memang suatu Versailles Jawa dalam kejelitaannya, dan bahkan Madinah Jawa dalam nilai-nilainya. Madinah dari suatu tamadun yang madani, yang pada setiap sisi tata kotanya terjabarkan hakikat kemanusiaan, kehambaan, dan kebersamaan.
Yogya itu ngangeni, barangkali karena tata-kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang hakikat hidup kita.
Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kota ini, agaknya telah menyeksamai dengan cermat penempatan kratonnya. Di samping faktor kesejarahan bahwa Kota Gede-Karta-Pleret; ibukota Kesultanan Mataram Islam yang didirikan leluhurnya berada di dekatnya; alasan filosofis, militer, geografis, dan sosiologis agaknya membuat beliau bersikukuh untuk memilih Alas Paberingan dan Umbul Pacethokan ini dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Berbagai pihak hingga kini memperbincangkan keistimewaan tata-kota Yogyakarta pada mulanya, yang didasarkan pada falsafah hakikat manusia dari Sultan Hamengkubawana I yang dapat kita ringkas menjadi 3 prinsip yang dijiwai 5 nilai:
1. Prinsip Poros, dijiwai oleh “Sangkan Paraning Dumadi” Prinsip Geometris, dijiwai oleh
2. “Hamangku, Hamengku, Hamengkoni” dan “Hamemayu Hayuning Bawana”
3. Prinsip Konfiguratif, dijiwai oleh “Catur Sagatra” dan “Nyawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh”
PRINSIP POROS
Secara harfiah kalimat “Sangkan Paraning Dumadi” bermakna keinsyafan akan asal dan tujuan hidup sebagai makhluq. Dalam pembangunan Kota Yogyakarta, disusun sebuah poros lurus yang seakan meletakkan Kraton berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di titik selatan. Tetapi lebih dari itu, sejak Panggung Krapyak yang menandai batas selatan kota tua Yogyakarta hingga Keraton adalah pralambang sangkan, asal kehidupan. Adapun dari Kraton hingga Tugu Golong Gilig yang menjadi had utara menguraikan makna paran, tujuan hidup insan.
“Maka hendaklah insan memperhatikan dari mana ia diciptakan. Dia dicipta dari air yang dipancarkan.” (QS Ath Thariq [86]: 5-6)
Panggung Krapyak berujud bangunan persegi bertingkat sebagai perlambang rahim seorang ibu. Di lantai bawah, rusa-rusa dikandangkan. Pada kesempatan tertentu, Sultan dan para punggawa naik ke tingkat atas dengan membawa busurnya. Ketika pintu kandang rusa di bawah dibuka, rusa-rusa berlarian dan para pemanah itupun menembak mereka dengan jemparingnya. Inilah pralambang konsepsi, benih lelaki yang dibidikkan pada benih perempuan.
Maka kampung di sebelah selatan Panggung Krapyak dinamakan Mijen, yakni tumbuhnya manusia sebagai nutfah, ‘alaqah, dan mudghah, lalu Malaikat pun datang untuk meniupkan ruhnya serta menuliskan ajal, rizqi, ‘amal, serta apakah termasuk orang beruntung ataukah celaka. Lalu tumbuhnya sang janin berlanjut menyempurna. Kelahirannya ditandai dengan nama kampung di sebelah utara Panggung; Mijil.
Jalan yang menghubungkan antara Panggung Krapyak hingga ke gerbang selatan Baluwarti Kraton yang disebut Plengkung Nirbaya di Gading; kanan serta kirinya ditanami pohon Asem (Tamarindus indica) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi L.). Inilah penanda bagaimana membesarkan seorang bayi; yakni Asem yang dimaknai harus banyak Mesem (tersenyum) sebagai tanda syukur, sebab sungguh bayi itu amat Sengsem (mempesona). Tanjung bermakna bayi itu harus disanjung sembari menyanjung Penciptanya, suatu cara menumbuhkan berbagai potensinya kelak untuk bekal di usia dewasa.
Memasuki alun-alun selatan, ditandai dengan lima jalan yang berarti kesiapan seluruh panca-indra. Dua jalan utama diberi akses langsung ke dalam tanah lapang; pendengaran dan penglihatan yang terhubung hati-fikiran, semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai penandanya, ditanam pohon Asem yang daun mudanya disebut Sinom; karena sipating nom-noman (sifat orang muda) yang mulai memperhatikan penampilan.
Halaman berpasirnya menunjukkan betapa ia bisa ditulisi berbagai hal; belajar di usia emas menggoreskan bekas yang tak mudah hilang. Di tengah alun-alun ditanam pohon Wok, sepasang beringin dengan akar berjumbai. Yang satu berarti brewok (cambang dan jenggot), suatu tanda kedewasaan sekaligus sunnah Nabi untuk dipelihara. Yang satu lagi berarti rambut kemaluan, maka harus dikurung; baligh berarti tiba kewajiban untuk menutup ‘aurat dengan sempurna.
Sekeliling alun-alun itu dahulu dirimbuni pohon Pakel (Mangifera foetida L.), Pelem (Mangifera indica), dan Kweni (Mangifera odorata). Pakel sebagai wakil makna ‘Aqil, yakni tidak hanya baligh secara biologis tapi harus optimal dalam kedewasaan akal. Pelem artinya Gelem (mau); yakni bersedia melaksanakan tuntutan syari’at sebab dia sudah mukallaf. Dan Kweni artinya wani (berani); yaitu sanggup bertanggungjawab atas segala perbuatannya.
Beranjak ke utara terdapat Tratag menuju Sitihinggil, lambang bagi jenjang hidup yang dititi dan didaki oleh seorang manusia. Betapapun bentuknya berundak-undak memayahkan, sebagai lambang perjuangan hidup; di kanan dan kirinya ditanam pohon Gayam (Inocarpus fagiferus). Gayam bermakna ayem (tenang dan teduh), ketentraman akan turun ke dalam hati selama seorang hamba bersandar pada Allah dalam ikhtiyarnya.
Di Sitihinggil itu, ada Sela Gilang tempat singgasana Sultan diletakkan untuk menyaksikan berbagai gladi, latihan perang, persiapan grebeg, hingga rampogan (pertandingan ketangkasan manusia, kerbau, dan harimau). Sifatnya yang seremonial juga melambangkan pernikahan seorang hamba yang semarak di sela karirnya yang menanjak. Tanaman hias di sekelilingnya berupa Gayam, Soka (Saraca indica), dan Mangga Cempora. Sebaran bunga yang harum ditambah warna kembang merah merona dan putih melambangkah kehidupan asmara sang mempelai yang diharapkan penuh sakinah (gayam), mawaddah (soka), dan rahmah (cempora).
Di dalam Kraton, kehidupan sang hamba Allah sejak dari kehamilan istrinya, tergambar sebagai Kemandungan, kelahiran (Pamengkang), dan seterusnya dia menumbuhbesarkan anaknya diulang sebagai pralambang-pralambang yang lebih rinci daripada yang tergambar antara Panggung Krapyak hingga Sitihinggil Selatan. Tapi pilar dari kesemua itu adalah cinta Allah, cinta Rasulullah, dan cinta Al Quran; sebagaimana setiap tiang dalam bangunan-bangunan di Kraton selalu dipahatkan stilisasi kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Laam Mim Ra. Kita akan meloncatinya untuk langsung menuju bagian depan Kraton di utara melihat gambaran tentang Paraning Dumadi, tujuan hidup kita sebagai makhluq.
Bangsal Witana, gambaran dari wiwit ana, pemahaman hamba akan jiwanya sendiri sehingga dia mulai menyadari keberadaannya di dunia yang akan segera sirna menuju akhirat yang sejati dan abadi. Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara menunjukkan tempat untuk mangun (memperbaiki diri), dan anangkil (mendaki menuju Allah).
Ke depan tampak Tarub Agung, penanda taqarrub kepada Allah Yang Maha Agung dengan 4 pilar: syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Di paling depan, Bangsal Pagelaran berdiri megah penanda pager-aran; yang bermakna tak lagi pentingnya nama dan ketenaran dalam pengabdian yang ikhlas. Juga pagelaran dari kata “gilar” yang bermakna telah terang dan tampak luas jalannya.
Dengan demikian, sang hamba mencapai keheningan jiwa dan kelapangan dada seperti tergambar oleh Alun-alun Utara yang dikiblati oleh Masjid Gede Kauman di bagian barat. Di tengah ada beringin Dewandaru, penanda hubungan yang kokoh dengan Ilah sesembahan, dan beringin Janandaru, simbol hubungan yang kokoh dengan sesama manusia. Di sekeliling alun-alun, 64 pohon beringin menggambarkan usia Rasulullah dalam Qamariyah dibulatkan ke atas, senyampang 60 pilar di pagelaran menggambarkan usia Rasulullah dalam Syamsiyah dibulatkan ke bawah.
Keluar ke arah utara, terbentanglah jalan Marga Mulya, yang berarti jalan kemuliaan. Di jalan kemuliaan ini dibentangkan aneka goda dan ujian; akidah dengan Gereja Kidul Loji, rasa takut dengan Benteng Belanda Fort Vredeburg, kekuasaan asing dengan kediaman Residen Gedung Agung, harta dengan Pasar Beringharjo, karir politik dengan Kepatihan Danurejan, dan wanita dengan pasar Kembang.
Sebagai penyambung Marga Mulya; jalannya Malih Obora, yang berarti jadilah kamu obor pelita, siraajan muniira. Justru berbagai godaan itu harus menjadikan sang hamba sebagai Imamul Muttaqin, pemimpin orang bertaqwa yang menjadi suluh teladan bagi sesama. Hingga jika lulus ke ujung, sampailah sang hamba ke Marga Utama; jalan keutamaan yang kini membentang antara rel kereta api hingga Tugu. Inilah tibanya hamba pada saat kehambaan paripurna:
“Hingga apabila dia telah sampai pada usia dewasa dan sampai pada usia empat puluh, dia berdoa, 'Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Kau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk beramal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang yang berserah diri kepadaMu.'” (QS Al Ahqaaf [46]: 15)
Di ujung Marga Utama itulah dulu berdiri kokoh setinggi hampir dua kali lipat bangunan De Witt Paal yang sekarang; Tugu Golong Gilig. Sultan Hamengku Buwana I bila bertakhta di Sitihinggilnya dapat memandang lurus ke puncak tugu yang oleh beliau disebut sebagai Alif Mutakalliman Wahid ini. Di sinilah tegak Tauhid, kalimat suci yang diharapkan terucap di saat nyawa terrenggut, “Laa ilaaha illaLlaah.” Dialah kebulatan tekad (golong) dan juga ketegasan ‘aqidah (gilig). Dialah simbol persatuan raja dan rakyatnya; satu tekad, satu tujuan, untuk menegakkan kehambaan (‘Abdullah) dan pemakmuran bumi (Khalifatullah).
Inilah Krapyak hingga Tugu; poros tauhid di kota ini yang perlu disusuri untuk memahami hakikat kehidupan kita.
PRINSIP GEOMETRIS
Sesuai nama yang disandangnya, pendiri kota Yogyakarta disifati Hamangku (berkhidmat melayani), Hamengku (melindungi dengan kasih sayang sekaligus keadilan), serta Hamengkoni (siap bertanggungjawab atas amanah di pundaknya). Ketiga hal ini pula diwujudkan dalam tata kotanya, yakni kota yang melayani, melindungi, dan memenuhi tugasnya.
Adapun Hamemayu Hayuning Bawana yang menjadi semboyan Sang Sultan bermakna harfiah memperindah keindahan semesta. Hadirnya manusia, juga Kota Yogyakarta hendaknya menjadikan kian indahnya alam kehidupan, makin bermakna, dan bernilai tambah.
Kedua prinsip ini menjadi jiwa dari tata-letak geografis dan diwujudkan dalam hubungan-hubungan geometris yang teratur demi terwujudnya kesemua maksud pembangunan dan pengembangan kota.
“Dan bumi telah Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 48)
Yogyakarta berdiri di sebuah bentang medan yang datar dengan kisaran lereng hanya 3%, terletak di tengah jazirah Kewu-Mataram yang sejak lama menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan beberapa kerajaan. Pengapitnya berupa 3 sungai di barat (Progo, Bedog, Winongo) dan 3 sungai di timur (Code, Opak, Oya) yang menjamin ketersediaan air, menyalurkan air buangan, menjaganya dari banjir, dan sebagai garis pertahanan alami.
Di ufuk utara, tampak Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan dengan abu vulkanisnya, sementara bahaya letusan dan awan panasnya ke arah Kota Yogyakarta diperisai oleh bukit kembar; Turgo dan Pelawangan. Di arah selatan, Samudera Hindia yang membentang penuh dengan potensi besar namun bergempa; terbentengi tsunaminya oleh anak perbukitan kapur selatan dari arah Panggang hingga Pajangan.
Dengan alun-alun utara berpagar kayu yang sebelum digerogoti oleh pemukiman Belanda dan Tionghoa lebarnya mencapai 1200 meter, Kraton berdiri gagah di selatannya dipagari benteng baluwarti setinggi 4 meter yang kokoh dengan jagang, saluran air pertahanan selebar 3 meter dan bastion yang menjorok keluar di masing-masing sudutnya. Tebal tembok bagian atas mencapai 3 meter, cukup dilewati kereta Sultan, Kanjeng Nyai Jimat, yang sering diiring putra mahkota menunggang kuda berkeliling untuk menginspeksi. Padanya terdapat 5 pintu gerbang utama yang disebut Plengkung; Tarunasura, Madyasura, Jagasura, Jagabaya, serta Nirbaya.
Di sudut barat laut Keraton dibangun Tamansari yang secara lahiriah tampak sebagai sebuah arena pemandian dan pelesir sampan yang luas, dengan lorong-lorong yang rumit dan pengaturan air yang canggih. Kompleks indah ini semula terdiri atas 59 bangunan, termasuk Masjid, kolam-kolam pemandian, sumur gumuling, dan rangkaian 18 pertamanan beserta paviliunnya yang dikelilingi danau buatan. Dinamakan Segaran yang berarti laut tiruan, danau ini sering menjadi tempat Sultan Hamengkubuwana I menjamu tamu-tamunya di atas perahu, seperti dikisahkan Gubernur Noord-Oost Kust, Jan Greeve dalam kunjungannya pada tahun 1790.
Disebutkan bahwa apabila Keraton dalam keadaan terkepung, arus air dari Kali Winongo di Badran dan Kali Code di Gondolayu akan dibelokkan memasuki Keraton menjadikan kesemua bagiannya terendam menyisakan Pulo Kenongo dan Tajug di tengah Tamansari yang menjadi pusat pengaturan arus air, di mana di bawahnya terdapat lorong-lorong yang tembus hingga keluar Kraton untuk sarana meloloskan diri anggota keluarga kerajaan dan mennghimpun kembali kekuatan bersama rakyat.
Di luar Tembok Kraton, kompleks-kompleks prajurit secara geometris disusun menurut gelar perang tradisional yang sigap menghadapi bahaya. Di barat melingkar ke selatan; bermukim kesatuan Wirobraja, Patangpuluh, Ketanggung, Bugis, dan Daeng. Di sebelah selatan terdapat kompleks para-komando yang disebut Kumendaman, dengan dijajari oleh kesatuan Mantrijero, Jogokaryo, dan Prawiratama. Di timur melingkar ke utara; kesatuan Nyutra dan Surakarsa. Di sela-sela garnisun berbagai kesatuan perang ini, prajurit kanayakan ditempatkan; Penumping, Sitisewu, Gedongtengen, Gedongkiwa, Numbakanyar, dan Keparak.
Tepat sebelum peristiwa penyerbuan Inggris yang kami sebut dalam pengantar, Jan Izaak van Sevenhoven (1782-1841), pejabat tinggi Belanda yang suka berkelana mengunjungi kota ini pada awal 1812. “Di sepanjang jalan utama menuju Keraton”, kisahnya, “Terdapat pepohonan tinggi dan rindang dengan jajaran rumah tinggal para pangeran serta para pegawai Keraton yang tertata, sementara rumah-rumah penduduk biasa diatur rapi lebih menjorok sedikit ke belakang dari bahu jalan.”
Peter Carey dalam Kuasa Ramalan-nya menggarisbawahi, Yogyakarta di masa sebelum pertempuran 1812 yang dalam khazanah Jawa disebut Geger Sepoi itu memang tak tertandingi sebagai kota Jawa ber-bangunan tembok paling banyak dan tertata, dengan bata serta kapur putih yang dipasok dari daerah Gamping di barat lautnya.
Residen Yogyakarta dari pertengahan abad ke-19, A.H.W. Baron de Kock menambahkan tentangnya, “Masa itu, Yogya makmur, kaya, dan indah; negeri subur dan mujur; ibukota cantik dan asri; penuh dengan gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi, dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air melimpah. Kala itu, perniagaan, kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Jawa (Yogyakarta) amat bangga dengan kota kelahiran mereka.”
Alexander de Nelly, seorang di antara murid-murid Johannes Rach dari Denmark, berhasil mensketsa pemandangan Keraton Yogyakarta pada sekira tahun 1771, dari arah alun-alun utara. Tampak di sini dua lapis pagar kayu kokoh yang nantinya akan menjadi Gapura Gladhak dan Gapura Pangurakan. Di tengah panorama, pohon beringin kurung Dewandaru dan Janandaru ditingkahi oleh berbagai paviliun cilik yang apik. Sementara di latar belakang, Tratag Rambat yang tinggi sebagai cikal bakal Pagelaran menjulurkan tembok baluwarti yang kokoh ke arah kanan dan kiri.
Inilah struktur geometri kota yang melayani, melindungi, menunaikan tugas, dan menambahkan makna pada keindahan ciptaan Allah.
PRINSIP KONFIGURATIF
Dengan Kraton sebagai pralambang pemerintahan, Alun-alun sebagai pralambang rakyat, Masjid Gede sebagai pralambang keagamaan, dan Pasar sebagai pralambang perekonomian; unsur-unsur ini disebut sebagai Catur Sagatra yang berarti empat pilar kehidupan sebagai satu kesatuan. Ini memang pola umum tata-kota di Jawa, tetapi peletakannya di Yogyakarta agak istimewa.
Pasar, diletakkan agak menjauh dari tiga unsur lain yang menyatu. Seakan menunjukkan tidak bagusnya kondisi kong-kalikong antara penguasa dan pengusaha; jalan yang dilewati para niagawan itu untuk bertemu Sultan harus melalui alun-alun di mana rakyat mengawasi dan langkah-langkah merekapun tak lepas dari tatap seksama para ‘ulama yang ada di Masjid Agung.
Sebaliknya, kawasan Pekapalan, tempat para Bupati dari wilayah-wilayah jauh datang, menambat kuda, dan menginap sebelum menghadap Sultan; diletakkan dekat sekali dengan Masjid. Sebab di Masjid-lah seharusnya, para penguasa mudah dijumpai dan diajak mengingat Allah atas amanah berat di pundak mereka yang kelak akan dimintai tanggung-jawabnya oleh Allah. Di sekitar Masjid tinggal para Pengulu dan Abdi Dalem Suranata, yang arti harfiahnya adalah berani kepada Raja; berani untuk menyampaikan nasehat dan kalimat yang haq.
Masjid juga memiliki kedudukan tersendiri yang terorganisasi hingga ke berbagai penjuru. Selain Masjid Gede Kauman sebagai pusat, empat Masjid pancer didirikan oleh Sultan sebagai Patok Negara di keempat arah mata angin; Mlangi di Barat Laut, Dongkelan di Barat Daya, Babadan di Tenggara, dan Plosokuning di Timur Laut.
Selain menjadi pusat ibadah Islam, dengan para Imam yang melapor langsung pada Kyai Pengulu Ageng di Masjid Gede, Masjid-masjid Patok Negara ini menjadi tempat pendidikan bagi para santri, pusat syi’ar Islam, hingga pusat koordinasi pertahanan semesta dan ‘sertifikasi halal’. Para Modin desa dididik dan dilantik di sini, yang selain bertugas memimpin ibadah, sampai soal menyembelih hewan untuk konsumsi masyarakat pun hanya mereka yang berhak demi menjamin agar kehalalannya terjaga.
Masjid-masjid ini juga dibangun dengan berbagai unsur pralambang yang dimaksudkan untuk mendidik masyarakat secara terus-menerus. Memasuki halamannya orang akan melihat pohon Sawo (Manilkara zapota) berjajar, dimaksudkan untuk mengingatkan, “Sawwuu shufuufakum, luruskan shaff-shaff kalian.” Pagarnya dipuncaki ukiran buah Waluh (labu kuning), untuk membawa pada tauhid, “Wallah” dan “Qul huwallaahu Ahad.”
Memasuki ruang serambi, tempat di mana Mahkamah Syari’ah biasanya digelar tampak pintu Masjid diukiri gambar wajik. Ini untuk mengingatkan hakikat pengadilan akhirat yang lebih kuat. “Wajii-a yaumaidzin bijahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insaanu wa anna lahudz dzikraa.. Dan pada hari itu didatangkan jahannam. Pada hari itu manusia menjadi ingatlah manusia akan segala perbuatannya, tapi apalah guna ingat di saat terlambat itu.” (QS Al Fajr [89]: 23)
Di langit-langitnya yang indah, ukiran berbentuk buah nanas melambangkan Masjid sebagai tempat berlindung manusia dari segala was-was syaithan kepada Pencipta manusia, Penguasa manusia, dan Sesembahan manusia. Nanas menjadi penuntun membaca salah satu Surat Mu’awwidzatain, “Qul a’udzu bi Rabbinnaas, Malikinnaas, Ilahinnaas..”
Di serambi itu diukirkan sulur-sulur tetumbuhan yang disebut lung-lungan. Maknanya, bahwa segala tujuan ibadah hanyalah untuk Allah, menggapai ridhaNya, hingga lebih masyhur di langit daripada di bumi. “Akarnya kokoh menghunjam dan cecabangnya menggapai langit.” (QS Ibrahim [14]: 24). Pula ia bermakna tulung-tulungan, “Dan saling tolong menolonglah kalian di atas kebajikan dan taqwa.” (QS Al Maidah [5]: 2).
Di puncak Masjid, di atas atap tajuk bertumpang tiga, mustaka Masjid tak berbentuk kubah melainkan ukiran tumpuk daun Kluwih (Artocarpus camansi). Maknanya, segala kaluwihan (karunia, kebaikan, dan keutamaan) adalah milik dan dari Allah; “Qul innal fadhla biyadillah.. Katakanlah (hai Muhammad) bahwa karunia itu di tangan Allah, Dia berikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran [3]: 73)
Di jalan-jalan keluar Masjid biasanya tertanam pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki). Makna tersiratnya adalah sarwo becik, serba baik lagi penuh kebaikan seperti tertuntut dari orang yang menunaikan ibadah; ia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, menebar salam dan manfaat bagi sesamanya.
Keseluruhan konfigurasi tata-kota ini juga menjadi penyelaras bagi watak masyarakat yang diteladankan Sang Sultan; nyawiji (menyatu), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), dan ora mingkuh (berani bertanggungjawab).
Bagaimanapun juga; selamat mengunjungi Yogyakarta dan menelusuri hakikat kemanusiaan kita. Ahlan wa sahlan, dan bersiaplah untuk kangen.
BACAAN
- Brotodiningrat, KPH. 1978. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta
- Carey, Peter B.R., 2011. Kuasa Ramalan Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
- Depdikbud. 1995. Makna Simbolik Tumbuh-Tumbuhan dan Bangunan Kraton, Suatu Kajian Terhadap Serat Salokapatra. Jakarta: Depdikbud.
- Ki Sabdacarakatama. 2009. Sejarah Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Narasi
- Ricklefs, Merle C. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
- Ricklefs, Merle C. 2015. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792. Yogyakarta: Matabangsa
- Soekanto, Dr. 1952. Sekitar Yogyakarta 1755-1825. Jakarta: Penerbit Mahabrata
- Suryanto, dkk. 2015. Aspek Budaya Dalam Keistimewaan Tata Ruang Kota Yogyakarta. ITB: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 26
Oleh Yusuf Maulana
PAGI 29 Maret 1830, sarapan sang Sultan bersama Residen van Nes berasa istimewa. Sambil menikmati sajian yang ada, Sultan mendengarkan “kabar yang menggembirakan”. Menggembirakan bagi penguasa kolonial dan para pemangku Sultan yang masih terbilang bocah itu. Sekira tidak kurang 40 kilometer dari tempat mereka sarapan, sang pengumandang Perang Jawa, Pangeran Dipanegara, berhasil ditangkap di Magelang sehari sebelumnya lewat sebuah siasat culas bermuslihat. Ditangkapnya (atau mungkin lebih tepat diujar: ditipunya) Dipanegara memiliki dampak serius, yakni kian kokohlah kekuasaan raja muda itu: Sultan Hamengku Buwana V. Dialah penguasa Kasultanan Yogyakarta yang sejak 1828 sudah disokong kompeni Belanda.
Para pejabat Belanda, khususnya para residen, tampaknya menyukai figur muda, lugu, dan—tentu saja—mudah dikendalikan. Perempuan ningrat bernama Raden Ajeng Handaliah, putri Pangeran Arya Suryengalaga (putra Hamengku Buwana III), sosok berikutnya yang dilirik van Nes. Lewat perantara dan izin van Nes, Handaliah yang masih berumur 13 tahun disunting Hamengku Buwana V, yang terbilang sepupu pertamanya. Handaliah, yang kemudian digelari Ratu Kedhaton, diajukan sebagai “pengganti” istri pertama Sultan yang diceraikan: Raden Ajeng Suradinah alias Ratu Kencana. Dari Handaliah kelak terlahir sosok anak lelaki yang sebetulnya begitu didamba sang Sultan—bernama Raden Mas Mohamad. Sayangnya, Mohamad gagal naik takhta meneruskan posisi sang ayahanda.
Andai orang melihat rupa Ratu Kencana, pastilah bingung dengan putusan Sultan. Betapa tidak bingung, mengingat dalam laporan Belanda, istri pertama Hamengku Buwana V disebut-sebut sebagai “gadis tercantik di Yogyakarta”. Anehnya, Suradinah atau Ratu Kencana tidak pernah “disentuh” sang Sultan sejak malam pertama. Ada desas-desus yang beredar di luar tembok keraton. Sang istri dikabarkan cucu seorang budak. Beda kelas, apalagi dari kalangan pemberontak. Tidak hanya itu, nama Suradinah juga disebut-sebut memiliki hubungan dekat dengan Residen Yogyakarta kala itu, F.G. Valck. Sebuah kondisi yang tentunya amat memalukan kehormatan Sultan andaikata benar fakta ini. Ringkas cerita, sampai resmi diceraikan, pernikahan Suradinah dengan Sultan tidak membuahkan keturunan.
Residen Valck sendiri di mata penerusnya, van Nes, sebagai sosok antagonis. Sebuah pandangan yang lazim di sesama pejabat kompeni. Pada saat itu, tulis Vincent J.H. Houben (2002) dalam edisi terjemah Keraton and Kompeni; Surakarta and Yogyakarta, 1830-1870, van Nes secara sistematis sibuk mendiskreditkan kebijakan Valck. Bahkan dia merendahkan Valck dengan menyebutnya sebagai penjahat “hanya semata-mata agar ia dapat memuaskan keinginan terpendamnya untuk berkuasa dan mencurahkan perhatiannya secara bebas kepada Raden Ayu, sang orang Jawa itu.” Raden Ayu yang dimaksud tidak lain Raden Ajeng Suradinah, istri sah Sultan Yogyakarta.
Minuman keras, merujuk laporan van Nes, diwartakan begitu dekat dengan keseharian Sultan hingga ia pun mengalami kebosanan hidup. Tahu persis kualitas mahligai penguasa Yogyakarta, kelak saat dipilih sebagai residen, van Nes merestui pernikahan Sultan dengan Handaliah. Yang diperbuat van Nes hanya mengulang pendahulunya, yakni mengendalikan para penguasa Keraton Yogyakarta.
Pada era Valck menjabat, ia memainkan peran begitu besar, terutama dalam rapat-rapat Dewan Kerajaan, lembaga pemerintahan yang mewakili Hamengku Buwana V selama masih kecil. Houben menuliskan pengaruh sang residen itu sebagai berikut (halaman 353-354):
“Masalah-masalah yang berhubungan dengan pengelolaan tanah, urusan-urusan negara, dan jabatan sang raja yang masih sangat muda itu nyatanya diputuskan sendiri oleh residen secara sepihak. Raden Tumenggung Gondokusuma, berkat Valck, diangkat sebagai pengawas tanah-tanah pajak. Pengelolaan tanah-tanah lungguh, dan penyewaannya kepada orang-orang asing dikenai peraturan-peraturan yang ketat. Pendapatan dan pengeluaran keraton diawasi dan dikaji secara menyeluruh oleh residen. Terakhir, residen mengatur perkawinan antara Hamengku Buwana V dan Raden Ajeng Suradinah meskipun banyak ditentang oleh kalangan dalam Keraton Yogya.
Meski hanya memiliki alat-alat formal yang sangat terbatas untuk memainkan kekuasaannya melakukan itu, nyatanya Valck menempatkan wakil (pengampu) dan nayaka Yogya di bawah kendali hukum. Kerap tampak bahwa singgungan yang diucapkannya mengenai betapa tergantungnya keraton kepada kebaikan dan bantuan pemerintah Belanda cukup untuk menggantikan segala penentangan dan perlawanan.”
Pengaruh pihak asing (penjajah) lewat tangan Residen Valck tentu tidak tiba-tiba. Kebergantungan yang begitu dalam sebagaimana dituliskan Houben di di atas bisa dibayangkan sudah pada titik amat kritis. Patut diingat, situasi yang dicatat di atas ketika Keraton Yogyakarta relatif berkurang dari pengaruh kelompok pendukung Pangeran Dipanegara. Perang Jawa (1825-1830) belum lama usai, dan pengaruh kelompok dalam keraton yang kritis dan berjiwa oposan pada keberadaan Belanda nyaris tidak bersisa.
Salah satu wujud “kebaikan dan bantuan” dari pemerintah Belanda kepada penguasa Yogyakarta adalah berupa sumbangan dan utang. Dalam laporan Koloniaal Verslag 1849 Lampiran G dan H, serta Koloniaal Verslag 1850 Lampiran D, yang dirujuk Houben, disebutkan bahwa tahun 1849-1850 pemerintah setiap tahunnya menghabiskan 13.000-17.000 gulden untuk memberikan pembayaran-pembayaran dan tunjangan-tunjangan kepada Sultan, yang harus dibayar kembali. “Bantuan” ini tampak logis kalau melihat belanja para bangsawan Keraton Yogyakarta yang pada 1833 menghabiskan 300.000 gulden! Sebuah situasi keuangan yang semakin tahun bukan membaik.
Sebagai perbandingan, jumlah belanja bulanan penguasa Kasunanan Surakarta, yakni Paku Buwana VII, pada 1847 sebesar 15.929 gulden. Adapun besarnya bantuan pemerintah Belanda pada sang Sunan adalah 32.478 gulden setiap bulannya! Tentu saja, bantuan ini tidak cuma-cuma. Selain dikompensasi penguasaan tanah mancanagara, juga ada pembayaran utang. Dengan besarnya dana yang diterima setiap bulan, amat wajar bila Surakarta lebih dulu terjerat dalam pengaruh kompeni Belanda. Dan tetangganya, Yogyakarta, selepas Perang Jawa, kian lapang untuk diperlakukan serupa.
Belanda tahu betul bagaimana menjerat para penguasa pribumi di Jawa. Lebih-lebih, para bangsawan sudah larut dalam hidup glamor. Kesukaan pada barang-barang impor disertai gaya hidup seturut para penjajahnya amat memprihatinkan. Sebuah sikap yang dicela Dipanegara sebelum memekikkan perlawanan akibat kekecewaannya dengan gaya hidup saudara-saudaranya di keraton. Dalam bahasa sinis J. Groneman (1883, I: 19-21), “makin tinggi gelar kebangsawanannya, maka main buruk keuangannya.” Selain gaya hidup, orang-orang berdarah biru ini tidak diperbolehkan bekerja tapi saat yang sama harus menghidupi semua kerabat dekatnya.
Akibat gaya hidup juga, potensi rakyat terabaikan, dalam hal ini karya tangan mereka. Anton Haryono (2015) dalam disertasinya yang dibukukan, Mewarisi Tradisi Menemukan Solusi; Industri Rakyat Daerah Yogyakarta Masa Kolonial 1830-an – 1930-an), mencatat sektor-sektor yang terimbasi akibat kegemaran panutan mereka pada barang impor. Mulai dari tenun, batik, hingga kerajinan emas dan perak lambat laun tersingkirkan setelah para bangsawan istana memilih berduyun-duyun menyukai barang-barang impor.
Dengan pemikiran matang dan hati bening, “kebaikan” yang diberikan pihak kolonial Belanda sesungguhnya sebuah putusan amat berat. Tapi kultur dan alam berpikir feodal yang menempatkan kuasa raja/sultan di atas hak-hak rakyatnya, dan perasaan istimewa pada kalangan bangsawan istana, mendorong “kebaikan” itu dilihat sebagai sebuah prestise. “Kebaikan” yang menipu tidak pernah dianggap, justru malah jadi bahan perebutan dan menagih. Padahal, risikonya amat besar. Ada banyak amanah yang dipertaruhkan. Tanah, harta kekayaan keraton, hingga kehormatan seolah siap digadaikan demi utang, yang salah satunya untuk keperluan konsumtif berfoya-foya.
Sultan Hamengku Buwana V dengan kehormatan yang melekat dalam dirinya mestinya tidak perlu berulang. Cukup kiranya penduduk Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat yang merasakan kepemimpinan lemah dan tidak berintegritas lantaran pemunculan hingga jerat utang yang menyertainya. Sayangnya, kini tidak kurang 250 juta warga negeri bernama Republik Indonesia mendapati kenyataan tidak berbeda jauh dengan situasi Keraton Yogyakarta selesai Perang Jawa. Penguasa tanpa beban mencari utang ke sana kemari atas nama investasi. Mengundang pihak asing untuk memberikan utang, bahkan kepada lembaga keuangan di dalam negeri yang tidak membutuhkan utang sekalipun. Pembangunan dipermudah dengan slogan dan citra, tapi dengan bantuan asing.
Celakanya, pemberi utang yang dulu dominan bermata biru, masa sekarang melejitkan kalangan bermata (maaf) sipit. Tanpa rasa malu negeri seberang itu dijadikan pemain tunggal dan dominan selaku kreditor. Sekian proyek penuh gengsi dipertaruhkan tanpa pertimbangan dan penelitian matang. Semua seolah mesti terjadi. Sama halnya dengan tabiat seorang Sultan Hamengku Buwana V yang lemah dan sejak awal memang di bawah asuhan para pamanda yang berhati tak elok. Terlampau meroket sejak dini bukan sebagai bagian dari pengaderan memikat selaku negarawan tangguh. Dulu, hadirkan Hamengku Buwana V; kini, Presiden sejuta pesona hasil gadang-gadang media besar dan jutaan relawan berpamrih.
Maka, apalagi yang bisa diharapkan dari sebuah kekuasaan yang hadir rapuh dengan foya-foya citra dan topangan utang ketika ada provokasi di lautan berdaulat negeri sendiri pun dianggap aman sentosa belaka? Jangan tanya kamus cemburu pada mereka yang hidupnya dicekik utang oleh pihak penyerang. Insiden Laut Cina Selatan belakangan ini jadi area penumpahan wibawa kekuasaan di depan mata yang memalukan. Selaksa Raja Yogya yang mengasihani diri sendiri akibat tidak bisa apa-apa; melankolis seakan tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kepiluan yang menyayat hati tapi apa ada diri pun telanjur hampa.
Utang menjerat terlampau dalam hingga kita saksikan hanya peremahan kenyataan yang ada. Sama halnya dengan cerita dari Yogyakarta—juga Surakarta. Vorstenlanden, daerah kerajaan pecahan Dinasti Mataram Islam pasca Perjanjian Giyanti 1755 ini pernah hadirkan sosok-sosok lemah tak berdaya sama sekali dengan bujuk rayu orang-orang berkemajuan dengan sekian pesona yang meluluhkan hati. Hilangnya sosok semacam Pangeran Dipanegara di lingkaran istana, hanya menguatkan sosok-sosok pintar bermain kata tapi korup, penggila citra dan kemewahan, juga tak peduli dengan utang dari bangsa asing. Sementara di saat yang sama rakyat kian sengsara, tanah-tanah warisan leluhur terus digadaikan dan diberikan ke penjajah, mereka abai dan terus menikmati surga dunia.
Terjadilah tanah nagara di kedua keraton ini terus menyusut hingga yang cakupannya nyaris serupa menjelang Republik Indonesia merdeka. Daerah-daerah yang pernah jadi kekuasaan jatuh bukan semata karena kalah perang, namun yang ironis adalah diberikan lantaran menyerah kalah dalam meja pembayaran utang dan raibnya moral. Tampaknya para penguasa yang sejatinya para khalifah itu lupa filosofi kekuasaan yang dilekatkan pada gelar secara turun-temurun. Misalkan mereka ingat maknanya, tentu sang junjungan mulia, Kanjeng Nabi Muhammad tidak tersingkir dalam ingatan.
“Barang siapa meminjam harta manusia dan dia ingin membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Barang siapa yang meminjamnya dan dia tidak ingin membayarnya, maka Allah akan menghilangkan harta tersebut darinya,” sabda Kanjeng Nabi sebagaimana tertulis dalam riwayat Imam Bukhari—dinukil dari laman Rumaysho. Tersebab utang (salah satunya) yang disepelekan, harta yang dimiliki kedua keraton menyusut. Andaikan tanah saja, tidak mengapa; bagaimana dengan susutnya moral dan nilai agama?
Hari ini, kita semua berharap, penguasa mau melek dan kembali ke jati diri bangsa yang (semoga) dicintainya tulus. Mau sejenak merenung, memikirkan pengalaman silam. Tentang pemberian bangsa asing yang tidak pernah sepi dari pretensi. Tentang kebaikan bangsa asing yang berpamrih untuk menguasai. Ribuan bisikan pendukung semestinya bukan jadi dalil untuk menimbang bijak sebuah putusan demi hadirkan bangsa sebenar bangsa. Bukan bangsa dalam imajinasi dan kebesaran diri dan pengagumnya belaka, yang sesungguhnya fatamorgana. Di lautan berbatasan negeri jiran, meski tiada penghuni dari anak negeri sendiri, pantang surut untuk melayangkan sebagai hadiah hanya karena pihak yang agresif merongrong tidak lain juragan pemberi utang besar.
______
*Pernah terbit untuk rubrik Perspektif Islampos.com“..Kabar-kabar tentang Paduka telah sampai pada kami bersinar bagai permata. Tetapkanlah hati. Paduka akan beruntung jika Paduka bekerja semata karena takwa pada Allah. Janganlah takut akan kemalangan dan jauhilah segala perbuatan jahat. Jika orang melakukan yang demikian, akan dia temukan surga tanpa awan dan bumi tanpa kotoran..”
Surakarta, 1772.
Tiga surat berbahasa Arab beserta bendera bertulis “La ilaha illallah” yang diserahkan Patih Kasunanan, Raden Adipati Sasradiningrat itu menggemparkan kediaman Residen F.C. Van Straalendorff. Salinan terjemah dari salah satu nawala yang kemudian dikirim ke Batavia bahkan membuat Gubernur Jenderal VOC, Petrus Albertus van der Parra (1761-1775) sukar tidur, meski Sasradiningrat bersumpah bahwa tak seorang Jawapun yang telah membaca surat itu selain dia dan carik(sekretaris)-nya.
Penulis surat itu tinggal nun jauh di Makkah. Namanya Syaikh ‘Abdushshamad Al Jawi Al Falimbani (1704-1789), seorang ‘ulama besar di Masjidil Haram kelahiran Palembang, penulis berbagai kitab dan yang terpenting untuk disebut di sini di antaranya berjudul Nashihatul Muslimin wa Tadzkiratul Mu’minin fi Fadhailil Jihadi wa Karamatil Mujahidin (Nasehat orang-orang muslim dan pengingat orang-orang mukmin tentang keutaman jihad dan kemulian para mujahid).
Alamat yang dituju adalah tiga anggota Wangsa Mataram yang paling berkuasa di Jawa; Kangjeng Sultan Hamengkubuwana I (1755-1792) di Yogyakarta, Sri Susuhunan Pakubuwana III (1749-1788) di Surakarta, dan Pangeran Miji Mangkunegara (1757-1795).
Yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa oleh Carik Kertabasa adalah surat untuk Mangkunegara, yang lalu dialih makna ke Bahasa Belanda untuk dikirim pada Gubernur Jenderal. Sejarawan Merle C. Ricklefs dalam karyanya, Yogyakarta Under Sultan Mangkubumi 1749-1792, menduga bahwa surat untuk Mangkunegara inilah yang paling menghasut, mengingat Sang Pangeran “angkuh dan mudah berkelahi” serta “lebih cenderung menggunakan kekerasan” karena “milik yang dipertaruhkannya paling kecil dan berharap mendapat lebih besar jika terjadi pergolakan”.
Tapi patut pula diduga, surat untuk Susuhunan Surakarta, dan terutama Sultan Yogyakarta yang pernah membuat VOC berdarah-darah dalam Perang Palihan Nagari (1746-1755) tak kalah seru isinya. Bahkan konon surat untuk Sultan disertai hadiah air zam-zam sebagaimana dahulu moyangnya Sultan Agung (1613-1645) menerimanya dalam Enceh Kyai Mendung dari Sultan ‘Utsmani, Murad IV (1623-1640) dan Syarif Makkah, Zaid ibn Muhsin Al Hasyimi (1631-1666). Tentu saja, atas perintah Batavia semua surat itu segera dihancurkan agar tak bocor isinya.
“..dan karena Paduka adalah keturunan Raja-raja Mataram yang dianugerahi berkat Allah dan RasulNya. Maka keadilan Paduka sudah diketahui di mana-mana. Lagi pula sudilah hendaknya Paduka membaca ayat-ayat Al Quran yang berbunyi: ‘Sedikit orang dapat mengalahkan kekuatan besar.’
Lagi pula sudilah hendaknya Paduka mempertimbangkan bahwa dalam Quran tertulis ayat-ayat yang menyatakan: ‘Bila seseorang mati dalam Perang Sabil, janganlah kalian katakan dia mati.’ Karena Allah telah berfirman bahwa jiwa orang itu masuk ke dalam badan seekor burung yang langsung membawanya ke surga.
Dan haruslah lebih-lebih Paduka camkan, karena jiwa yang mati dalam Perang Sabil adalah bagai bunga yang harumnya tercium dari fajar sampai petang. Ya, bahkan semua Makkah dan Madinah, beserta seluruh negeri Melayu, takjub akan keharumannya..”
Dalam kutipan singkat kita membaca, betapa luar biasa perhatian Syaikh ‘Abdushshamad yang ayahnya menjadi Mufti Kesultanan Kedah ini terhadap perkembangan Nusantara dan bagaimana pemahamannya akan kewajiban ‘Ulama untuk menasehati Umara’, menegakkan amar ma’ruf-nahi munkar, serta mengobarkan jihad di Nusantara melawan kekuatan penjajah kafir.
Betapapun surat-surat ini keburu dicegat oleh Patih Surakarta yang amat setia kepada VOC dan gagal sampai pada tujuannya, tulisan kami ini hendak memberi penghargaan kepada kurir yang telah membawanya menantang bahaya, terombang-ambing di lautan dari Jeddah ke Aden ke Mascat ke Gujarat ke Sailan ke Penang ke Palembang ke Batavia ke Semarang hingga sampai di ibukota Kasunanan.
Dokumen Belanda dari salinan surat menyebut nama Haji Besari dan Haji Muhammad Idris.
Kematian Haji Besari di Surakarta sebelum sempat menyerahkan ketiga surat inilah yang menjadikan Patih Sasradiningrat berhasil ‘mengamankannya’. Adapun nasib Haji Muhammad Idris yang kemudian diburu oleh pasukan Sang Patih tidak jelas. Kabar burung menyebut dia berlindung ke wilayah Kasultanan Yogyakarta.
Inilah salah satu peristiwa mula-mula yang membuat pemerintahan VOC menyadari; mereka yang pulang dari Makkah dengan membawa gelar Haji adalah manusia berbahaya. Bahaya bagi penjajahan. Bahaya bagi penindasan. Bahaya bagi keterpecahan, keterbelakangan, dan kebodohan.
Sebab mereka yang pulang dari menunaikan rukun Islam kelima ini pastilah kuat secara sosial ekonomi, dan tentu saja beriman, tangguh fisiknya, lagi bernyali; terbukti mampu mengarungi perjalanan pergi pulang yang sukar dan berbahaya. Pun di Tanah Suci mereka pasti mendapatkan wawasan internasional, ilmu agama yang kian dalam, serta menyelami persaudaraan muslimin sedunia. Memandang keluar membaca bentang dunia luas, serta merenung ke dalam memikirkan diri dan bangsanya, jiwa-jiwa imani itu pasti akan membawa pulang nyala api perjuangan untuk tanah airnya.
Serentetan peristiwa di abad selanjutnya semakin membuat pemerintah jajahan yakin, para haji adalah manusia berbahaya. Di Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwana I dengan pemurah terus mengirimkan para pengulu, kaum, kyai, dan santri perdikan untuk berhaji. Menurut Ricklefs, pada 1776 dan 1781 Sultan memberangkatkan rombongan haji. Bahkan pada 1785, sekelompok ‘ulama ditugaskan menerima gelar resmi Sultan untuk Hamengkubuwana I dari Syarif Makkah, disertai pembangunan Gedung Wakaf Mataram di dekat Masjidil Haram yang akan terus menjadi tempat tinggal para mukimin Jawa di Makkah hingga masa Hamengkubuwana VIII.
Masjid-masjid Pathok Negara-nya di Dongkelan, Babadan, Plasakuning, dan terutama Mlangi yang dipimpin putranya sendiri, Raden Mas Sandiya bergelar Kyai Nur Iman, menjadi pusat-pusat keislaman yang menarik kehadiran kaum santri. Di abad baru, Tegalreja yang dikelola permaisurinya yakni Ratu Ageng sembari mengasuh Diponegoro kecil menambah daftar pusat syiar. Di tempat-tempat inilah para calon haji biasanya bermukim beberapa bulan untuk mempersiapkan diri dan ilmu sebelum diberangkatkan.
Peter Carey dalam The Power of The Prophecy mencatat nama Haji Badaruddin, panglima pasukan santri Suronatan yang sampai dua kali berhaji. Ada pula Pengulu Keraton Pekih Ibrahim, Ketib Muhamad Bahwi, Nur Samsi, Amad Ripangi, Abdullatip, Amad Anom, Ngarpani, Amad Ngali, Amad Ngijan, Amad Masam, Amad Sangi, Nitirejo, Resomenggala, dan Kyai Pengulu Rahmanudin.
Di Surakarta, Susuhunan Pakubuwana IV (1788-1820) lebih masyhur lagi sebagai ‘sahabat kaum santri’. Pada 1812, demikian dilaporkan kepada Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stanford Raffles, seperti dikutip Carey, Susuhunan punya 24 Haji Keraton dan 51 Kyai yang digajinya secara pribadi. Adik beliau, Pangeran Buminata, terkenal akan kedermawanannya pada kaum ‘ulama termasuk kepada Kyai Taptajani, juga Kyai Maja beserta saudara-saudaranya; Kyai Kasan Besari, Kyai Baderan, dan Kyai Pulukadang.
Jejaring komunitas haji, kyai, pengulu, dan santri inilah, baik yang ada di Kasultanan maupun Kasunanan, demikian disimpulkan dari Peter Carey, akan menjadi tulang punggung perlawanan dahsyat Pangeran Diponegoro kepada Pemerintah kolonial Belanda (1825-1830). Dalam daftar yang dia susun dari Babad Diponegoro Manado, Carey mencantumkan lebih dari 120 haji yang kemungkinan besar hadir di Selarong saat pembai’atan Diponegoro sebagai Sultan ‘Abdul Hamid Herucakra Kabirul Mukminin Khalifatu Rasulillah Ratu Paneteg Panatagama. Beserta mereka, demikian dicatat Saleh As’ad Djamhari dalam Strategi Menjinakkan Diponegoro, ada lebih dari 15 Syeikh, puluhan Kyai besar dan Pengulu, serta ratusan Kyai desa.
Sekali lagi, para haji adalah manusia-manusia berbahaya. Bersama Diponegoro mereka menguras 20 Juta Gulden kas penjajah, serta menewaskan 15.000 pasukan Belanda.
Tentu saudara-saudara mereka di Sumatera tak kalah greget. Tiga nama jamhur; Haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII Kota, dan Haji Piobang dari Tanah Datar sebagai cikal bakal Gerakan Padri telah amat masyhur. Perubahan yang mereka bawa, dari memurnikan pengamalan agama di Minangkabau hingga perang besar melawan tentara kolonial Belanda, 1803-1838, amat nyata.
Abad selanjutnya mencatat nama Haji Ahmad Dahlan yang mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah, Haji Hasyim Asy’ari yang membidani Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama, Haji Rasul dengan Sumatera Tawalib, dan jejaring jama’ah haji yang menjadi murid-murid Syaikh Ahmad Khatib Al Minankabawy di Makkah. Semua haji itu pulang membawa bahaya. Bahaya bagi penjajahan. Bahaya bagi penindasan. Bahaya bagi keterpecahan, keterbelakangan, dan kebodohan.
![]() |
| Jemaah haji menjalani pemeriksaan oleh petugas Belanda (Gambar: vivanews) |
Para haji yang kembali ke tanah air itu hampir semuanya bergerak aktif dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pengajaran agama, penyadaran kebangsaan, serta penguatan persatuan dan ukhuwah islamiyah.
Menurut Yudi Latif dalam Intelegensia Muslim dan Kuasa, bersebab kian besarnya kekhawatiran akan bahaya haji, Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1825, 1827, 1831 dan 1859 mengeluarkan berbagai Oordonnatie yang ditujukan untuk pembatasan ibadah haji dan memantau aktivitas mereka sekembalinya ke Tanah Air.
Puncak dari kekhawatiran Pemerintah Kolonial Belanda terhadap bahaya dari para haji ini tampak dengan dikeluarkannya Pilgrims Ordonnantie Staatsblad 1903 Nomer 26, Staatsblad 1922 Nomor 698, Staatsblad 1927 Nomor 508, dan Staatsblad 1931 Nomor 44. Ringkasan dampaknya antara lain adalah:
1. Tidak boleh lagi orang-orang asing, terutama Arab, berkunjung ke daerah Indonesia karena dianggap melakukan provokasi.
2. Sultan, kaum priyayi, penguasa daerah, dan abdi dalem dilarang pergi haji, dikhawatirkan akan terpengaruh Pan-Islamisme.
3. Membuka Karantina Haji di Pulau Onrust, Teluk Jakarta. Untuk alasan kesehatan memang di sinilah tempat penampungan para haji untuk dipastikan tak membawa penyakit menular. Tapi tercatat pula, di sinilah banyak para haji yang jika pulang dinilai akan menimbulkan masalah bagi pemerintah jajahan hidupnya berakhir.
4. Mengharuskan yang sudah berhaji untuk selalu mencantumkan gelar hajinya, agar mudah diawasi. Orang yang pergi haji hanya diberi passpor khusus haji, agar tidak bisa pergi ke tempat lain.
5. Masjid tidak boleh dibangun di tempat-tempat ramai. Kuburan didekatkan ke Masjid dan dihembuskanlah propaganda bahwa kuburan itu angker agar Masjid tak menjadi pusat pergerakan, tempat kaum muda berkumpul membahas nasib bangsa.
Disebabkan aturan inilah seorang putra Wedana di Kleco-Madiun sekaligus cucu Bupati Ponorogo yang bernama Oemar Said meninggalkan jabatannya sebagai ambtenaar dan bersungkal-faham dengan mertuanya. Dia memilih untuk berhaji, dan sepulangnya ke Nusantara membesarkan Sarekat Islam untuk menjadi Ibu bagi semua pergerakan Nasional dan rumahnya pun menjadi tempat tinggal para pemuda yang kelak menjadi para Bapak Bangsa. Namanya terus bergaung, sang Raja Jawa Tanpa Mahkota, Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Semboyannya yang berbahaya terus berkumandang: semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu, sepandai-pandai siasat.
Inilah para haji kita, manusia-manusia yang berbahaya bagi segala kezhaliman, kemunkaran, dan kekejian. Kedatangan mereka ke tanah air dinantikan untuk menghabisi penindasan, keterpecahan, keterbelakangan, dan kebodohan. Kedatangan mereka ke tanah air harus menjadi tonggak perubahan sosial, perbaikan ekonomi, pembinaan moral, peningkatan taraf pendidikan, kesehatan, serta kemakmuran.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
About Me
Popular Posts
-
Jembatan Merah Surabaya Tempo Dulu
Foto-foto Jembatan Merah Surabaya tempo dulu yang berhasil admin himpun dari commons.wikimedia.org De Willemskade langs de Kali Mas, Soeraba... -
Ketika Soekarno (muda) Ditolak Cintanya
Oleh Ridwan Hd. Ilustrasi dari Film Soekarno (2013) Usianya 18 tahun. Impian terbesar pemuda pribumi itu adalah bisa memiliki gadis Belanda ... -
Mengenal HAMKA (Bagian 1): Masa Kecil yang Nakal
Oleh Ridwan Hd. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture Nakalnya sudah terk... -
Merebut Sunda Kelapa (Bagian 2)
Oleh Uman Miftah S Sebuah lukisan benteng di luar Batavia yang dibuat tahun 1709 menyebut nama Jacatra | Sumber: geheugenvannederland.nl Ad... -
Video Dokumenter Ki Hajar Dewantara yang Dibuat Tahun 1956
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menul... -
Upaya Belanda menduduki Indonesia pada 1946 dalam Video Warna
Sumber/penerbit video : Dutch Docu Channel Link : https://www.youtube.com/watch?v=NZvM9rTXqwY&spfreload=5 -
Mengenal Jong Islamieten Bond – Bagian 2
Oleh Ridwan Hd. Baca sembelumnya: Mengenal Jong Islamieten Bond - Bagian 1 Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Kasman Singodimedjo da... -
Pertandingan Sepakbola Hindia-Belanda Melawan Belanda pada 1938
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl Tim Nasiona Hindia-Belanda sedang berfoto bersama di Amsterdam bersama pada pejabat Belanda setelah ... -
Jemaah Haji (1884)
Foto diatas menampilkan dua orang jemaah haji dari Indrapura (Pesisir Selatan) dan Muko-muko (Bengkulu) yang dipotret di Konsulat Belanda di... -
Menjawab Citra Negatif Bani Umayyah (Bagian 1)
Oleh Rofi'ulmuiz Uang keping bergambar Khalifah Abdul al Malik dari Dinasti Bani Umayyah | Foto: commons.wikimedia.ord Bagian dari perio...
Labels
- Agus Salim
- Batavia
- Budaya Islam
- Budi utomo
- Dunia
- Dunia Islam
- Dunia Modern
- Foto
- Hamka
- Headline
- Hindia-Belanda
- Kebangkitan Nasional
- Kemerdekaan
- Ki Hajar Dewantara
- KNIL
- Mohamad Natsir
- Mohammad Roem
- Mozaik
- Nasionalisme
- Nusantara
- Nusantara Lama
- Nusantara Modern
- Pancasila
- Perang Dunia I
- Portugis
- Sarekat Islam
- Soekarno
- Soekiman
- Tjokroaminoto
- Tokoh
- Umayyah
- Video










