Cat-1

Cat-2

Cat-3

Cat-4

Label: Tokoh



Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Sukarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

sumber: Wikipedia
Oleh Ridwan Hd.
Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture

Nakalnya sudah terkenal di seluruh kampung Padang Panjang, Sumatera Barat. Adalah Malik nama anak Syeik Abdul Karim Amrullah yang nakal itu. Sampai-sampai ayahnya Malik berkali-kali berkata tentang dirinya, “ketika kecil ayah sudah alim”, sehingga kepada Malik bertanya,“Mengapa engkau belum alim?” Dalam hati Malik malah bertanya, “Apakah ayahnya dahulu tidak pernah bermain?”

Malik atau nama kecil dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) lahir dari ayah seorang ulama besar dan berpengaruh di Sumatera Barat yang akrab dipanggil Haji Rasul. Dalam otobiografinya di Kenang-kenangan Hidup jilid 1, Hamka bercerita bahwa sering kali ayahnya tak segan memukul dengan tongkat karena kenakalannya. “Nakalnya bukan buatan, membuat pusing orang kampung.” pengakuannya.

Haji Rasul pernah sangat berang ketika Malik ketahuan menipu anak-anak kampung dengan menjadi menteri cacar. Awalnya Malik melihat mentri cacar sedang mencacar anak-anak. Disuruh engkunya membuatkan kaca mata dari daun pandan untuk meniru mentri cacar yang berkaca mata. Lalu ia mengumpulkan anak-anak kira-kira sepuluh orang. Dikatakannya kepada mereka bahwa ia adalah mentri cacar dan ingin mencacar. “Heran, semuanya patuh saja menuruti perintah.” kata Hamka. Kemudian ditorehnya anak-anak itu dengan duri jeruk limau. Ada yang menangis kepedihan dan ada yang berdarah.

Keesok hari, Malik di ajak ibunya ke Surau dengan baju baru pemberian ayahnya. Baru saja sampai di atas Surau, mata ayahnya sudah berapi-api karena sudah mengetahui ulah si anak. Diambilah tongkat besar lalu meminta Malik menjulurkan kakinya untuk dipukul. Malik bersimpuh minta ampun. Tetapi ayahnya tetap ingin memukul. Malik terus bersimpuh minta ampun. Untungnya, ada dua orang lain yang ada di Surau itu menyaksikan dan menahan amarah ayah. “Dia sudah minta ampun, engku! Dia sudah minta ampun.” kata mereka. Pukulan tak jadi diterima Malik berkat kedua orang itu. “itulah, jangan nakal juga. Mujur ada orang yang memisahkan tadi, kalau tidak tentu hancur badanmu dipukul ayahmu.” ucap ibunya setelah disuruh pulang.

Malik kecil hanya senang bermain. Di suruh mengaji sulit sekali. Ketika umurnya memasuki 6 tahun, ia disuruh ayah belajar mengaji dengan kakaknya, Fatimah. Cara mengajar kakaknya tidak disukai Malik. Kalau Malik tidak bisa membaca seperti yang diajarkan kakaknya selalu mendapat cubitan. Cara mengajar sang kakak membuatnya kesulitan meyelesaikan bacaan mengaji Juzz Amma. Sudah tiga bulan tak rampung-rampung. “Untunglah ada satu penolong yang datang dengan tiba-tiba.” cerita Hamka.

Mengajinya mulai lancar ketika ada seorang anak perempuan bernama Chamsinah. Anak perempuan itu ikut mengaji bersama Malik tanpa ada cubitan. Semangat mengaji timbul kalau bisa mengaji berdua dengan Chamsinah. Kalau biasanya habis magrib berpetualang dahulu keliling kampung Padang Panjang, setelah adanya anak perempuan itu pikirannya hanya pergi mengaji hingga berhasil khatam.

Pada umur 7 tahun, Malik di masukan ke sekolah desa. Setahun kemudian berdiri sekolah diniyah di Padang Panjang yang pelaksanaan belajarnya sore hari. Malik juga dimasukan ke sekolah diniyah itu sore harinya untuk belajar bahasa arab. “Dalam usianya diantara 7 dengan 10 tahun, tidak ada lagi satu kampung keliling Padang Panjang yang tidak mengenal anak nakal itu.”

Ia selalu pergi ke sekolah pagi sekali, agar menyempatkan bermain. Selesai sekolah pukul 10, kembali bermain; bergelut, bertinju, cari-carian, banting-bantingan, hingga jelang sore. Selelesai sekolah Diniyah sore, sekitar pukul 5, kembali lagi bermain di jalanan sambil mengganggu anak-anak perempuan. Tuduhan sering diterima, “Si Malik nakal!”, “Si Malik jahat!”.

Senakal-anaklnya Malik, ia juga bisa berbuat baik. Orang buta yang sedang meminta-minta di sebuah pasar di Padang Panjang pernah mengetuk hati Malik. Ia mencoba membantu si buta itu dengan membimbing jalan atau ikut mencarikan uang sedekah. Ketika si buta mau memberinya bagian, Malik tak mau menerima. Ia senang sekali seharian bisa membantunya. Hingga suatu saat, ia kepergok sang ibu. Rasa malu si ibu melihat Malik memaksanya pulang. “Perbuatannya itu, memberi malu ayahnya.” ucap ibunya. Ia heran, padahal ayahnya sendiri dalam setiap pengajian disuruh membantu fakir miskin. Berat benar perasaan Malik meninggalkan si buta.

Pernah juga ketika terjadi pembagian beras saat masa sulit bahan pokok, ia melihat perempuan yang lemah tidak kuat berdesak-desakan. Di dekatinya perempuan itu, dan diminta surat pengambilan beras agar Malik saja yang mengambilkan. Belum selesai mendapatkan beras, ia ketahuan murid Ayahnya. Malik di suruh pulang. Tetapi ia tak mau sebelum selesai membantu perempuan ini. Sampai di rumah, ia kena marah. Perbuatannya dikatakan memberi malu ayahnya.

“Lantaran itu dan beberapa sebab yang lain, dia lebih suka banyak jalan. Bermain jauh-jauh, mengelak dari rumah. Banyak benar peraturan di rumah yang berlawanan dengan hatinya. Dia hendak berbuat baik menolong orang. Membela, tetapi di rumah dilarang. Rupanya ada beberapa fatwa yang diberikan ayahnya, tetapi dia sendiri tidak boleh melakukan.” cerita Hamka dengan menarik.

Setelah bulan puasa pada 1918 atau bertepatan umur 10 tahun, ayahnya baru pulang dari Jawa. Madrasah Sumatera Thawalib yang didirikan ayahnya mengalami perubahan sistem pendidikan, yaitu berubah menjadi sistem kelas seperti sekolah modern pada umumnya. Malik yang sebelumnya sudah masuk kelas 3 Sekolah Desa di suruh berhenti dan dimasukan ayahnya ke Sumatera Thawalib agar bisa fokus belajar agama. Sejak lahir, Haji Rasul memang berharap Malik dapat melanjutkan kiprahnya sebagai seorang ulama. Berbagai upaya ia lakukan agar Malik mendapat mendidikan agama yang baik.

Di Madrasah Sumatera Thawalib, Malik harus menghafal Matan Taqrib (Nahwu). Beberapa kaidah tentang nahwu dan sharaf mesti hafal. Malik yang baru 10 tahun harus duduk bersela di atas lantai, menghadap guru, mendengarkan penyampaian materi tentang kedudukan baris tiap-tiap kalimat, mengapa jadi baris atas (nasab), atau di depan (rafa’), atau baris bawah (djar) dan mati (djazam). Hafalan-hafalan itu sangat memusingkannya. Ketika berhadapan dengan guru yang agak keras, hampir semua pelajaran yang diberikan tidak ada yang masuk. Disuruhnya juga menghafal hadist empat puluh (Arba’in An Nawawiyah). Bagi yang tidak hafal di hukum berdiri lama-lama. Malik adalah anak yang selalu berdiri jika masuk pelajaran hafalan hadist.

Satu materi yang menarik hatinya adalah pelajaran Arudh, yaitu timbangan syair Arab. Syair-syair dalam pelajaran itu dengan mudah dihafalnya. Berbeda dengan pelajaran lain yang lebih banyak mengantuk. Kalau pun matanya melihat kitab, pikirannya jauh di tempat lain. Setiap selesai pelajaran langsung diletakkan kitab-kitab yang berat itu, “berat diangkat dan berat dipelajari.” Di letakkan di atas rak, dan tidak dipegang lagi. Ditengoknya pun tidak sampai hari berikutnya. Ia langsung berlari ke Pasar Usang untuk menonton film di bioskop, main layang-layang, menonton adu sapi, atau sepak bola. “Tidak ada waktu untuk menghafal. Main! Main yang perlu.” kata Hamka.


Bersambung..
Oleh Ridwan Hd.
Bedug sebagai alat komunikasi ibadah | Sumber foto: Tropenmuseum

Beberapa hari sebelum masuk puasa Ramadhan di tahun 1950, Mohmmad Roem menelpon Mohammad Natsir. Tokoh yang populer dari Perjanjian Roem - Royen ini ingin menanyakan waktu mulai berpuasa. Sebagai pengikut Ru’yatul Hilal, Roem biasa mengikuti suara bedug sebagai informasi telah masuk bulan puasa ataupun menanti hari lebaran. Tetapi, sejak tinggal di daerah Merdeka Barat, Jakarta, karena sebagai pejabat negara dan tidak hidup dilingkungan perkampungan lagi, suara bedug jarang terdengar. Teman-teman dilingkungannya juga lebih banyak mengikuti metode hisab.

Natsir menjawab bahwa puasa akan masuk dua hari lagi. Mendengar jawaban itu, lekas Roem mengatakan kepada istirnya, ”Kita lusa mulai puasa.”

“Bagaimana kau tahu?” tanya istri Roem yang dijawabnya kalau tahu dari Natsir. “Dari bedug sampai ke Natsir. Sayang tidak dua puluh tahun lebih dulu kau telpon Natsir.” kata istrinya lanjut. “Kenapa komentar kau begitu?” balas Roem.

“Saya tidak perlu lagi bikin ketupat dengan mendadak.” ucap istri Roem yang dikisahkannya di buku Bunga Rampai Sejarah jilid 2.

Sekitar tahun 1930 hingga 1940an, Roem tinggal di wilayah yang ramai dengan suara bedug. Suara bedug memiliki peranan penting dalam informasi waktu-waktu masuknya kegiatan ibadah, seperti masuk waktu sholat, hingga bedug sebagai informasi munculnya hilal ketika masuk Ramadhan atau Syawal.

Bagi penganut Ru’yatul Hilal seperti Roem, malam hari ke 29 Ramadhan adalah hari yang mendebarkan, “apakah esok hari kita sudah berlebaran, atau harus mencukupkan puasa tiga puluh hari.” tulisnya.

Kadang-kadang isyarat bedug itu datangnya terlambat. Susasana sudah tenang, dapur sudah gelap, dan orang-orang sudah akan beristirahat, tiba-tiba suara bedug terdengar kalau besok lebaran. Para ibu tiba-tiba langsung sibuk. Warung yang tadinya sudah tutup, dibuka lagi. Dapur kembali mengepul. Suara takbiran di masjid juga terdengar semalaman. Kalau suara bedug tidak terdengar, maka artinya besok masih berpuasa satu hari lagi.

Berbeda dengan para pengikut Muhammadiyah yang menggunakan hisab, mereka tak perlu bergantung keputusan lebarannya kepada bedug. Maka sering kali adanya perbedaan hari pertama puasa atau lebaran antara pengikut Ru’yatul Hilal yang notabene dari kalangan tradisional, dan pengikut hisab yang kebanyakan orang Muhammadiyah.

"Begitulah penulis di tahun 1950 beralih dari pengikut ru'yat menjadi pengikut hisab, dan penulis tidak merasa murtad." tulis Roem kemudian. Inilah sebab istri Roem sampai berkomentar: "tidak dua puluh tahun lebih dulu kau telpon Natsir."

Mengapa Kita Tidak Dapat Bersatu?
Pernah suatu kali sekitar 1930an, Roem berdiskusi dengan kawannyanya dari Muahmmadiyah yang baru saja selesai Sholat Ied Idul Fitri. Roem yang masih berpuasa mengucapkan, “Selamat Hari Raya Idul Fitri”.

“Terimakasih.” balas kawan Roem yang tidak disebutkan namanya dalam tulisannya itu. “Besok saya akan mengucapkan yang sama kepada saudara.”

Roem yang masih berpuasa berkomentar, “Kalau begitu puasa saya haram karena hari ini sudah bulan baru.”

“Tidak begitu,” kata kawannya, “Kalau saya masih berpuasa maka haramlah puasa saya karena saya menganut paham hisab. Bagi saudara larangan itu besok berlaku. Ini haru saudara masih wajib berpuasa.”

“Dengan tafsiran itu ajaran menjadi terang, berhubung dengan adanya kemungkinan perbedaan jatuhnya bulan baru.” kata Roem.

Kawannya itu menanggapi, “Begitulah. Soalnya bukan menentukan bulan baru semata-mata. Berpuasa bulan Ramadhan tidak selamanya 30 hari, sedang agama membolehkan kita menentukan bulan Ramadhan itu, baik secara Ru’yat maupun hisab.”

“Mengapa kita tidak dapat bersatu?” tanya Roem.

“Bersatu yang bagaimana?” kawannya itu lalu menjelaskan panjang, “Yang begini ini tidak terjadi tiap tahun. Sering penetapan dengan 2 cara itu sama hasilnya. Tapi kalau hasilnya berlainan, itu hanya hari yang ke 30. Dan kita sudah bersatu 29 hari lamanya. Pengikut Ru’yat dan hisab bersatu menjalankan ibadah puasa berdasarkan syariat yang sama. Hanya satu hari yang tidak sama, karena apa? Karena Agama Islam memberikan kebebasan kepada umatnya untuk memilih diantara dua cara itu. Puasa tidak selamanya 30 hari. Nabi sendiri berpuasa lebih banyak jumlah bulan yang ke 29 hari daripada yang 30 hari. Yang kita berbeda itu pada hari ke 30. Dan berpesta serta sembahyang Id sunnah, sedang berpuasa wajib. Mengapa kita lebih suka melihat adanya perpecahan? Mengapa tidak seperti yang dikatakan Nabi, bahwa perbedaan paham itu rahmat Tuhan.”

“Tidak dapat dipersatukan?”
“Perbedaan paham itu sudah berjalan berabad-abad.”

Masalah perbedaan hari lebaran itu juga, dalam tulisan Roem ini, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan libur lebaran dua hari. Tujuannya, agar ketika terjadi perbedaan hari lebaran, kedua penganut ru’yat dan hisab bisa mendapatkan libur.[]
Oleh Ridwan Hd.
Mohammad Roem di Konfrensi Inter Indonesia pada 1949 di Jogjakarta | sumber: media-kitlv.nl

Masa perploncoan siswa baru di asrama School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1924 sedang berlangsung. Secara tiba-tiba, para senior dari perkumpulan Jong Sumatera masuk ke ruang  tidur para siswa baru. Mereka langsung mendata dan mencatat nama-nama yang tertulis di lemari. “Kamu jadi anggota Jong Sumatra, ya!” paksa salah seorang Senior itu kepada Mohammad Roem. “Kontribusi setalen sebulan. Kamu tidak usah bayar sendiri, akan dipotong di kantor.” lanjutnya tanpa sela dan persetujuan.

“Habis perkara!” ungkap Roem dalam hati. Roem tidak bisa berbuat apa-apa atas tindakan paksa mereka.

Senior itu datang kembali keesokan harinya. Lalu marah-marah kepada Roem, “Kamu bohong! Kamu orang Jawa, tidak boleh jadi anggota Jong Sumatera.”

“Tuan yang (kemarin) ngomong sendiri!” balas Roem. Seniornya kemarin memang tidak menanyakan asalnya. Langsung main catat saja. “Saya sudah keliru. Mengapa kamu orang Jawa namanya tidak berakhir dengan O.” kata senior itu masih marah. Belum dijawab oleh Roem, si senior langsung pergi.

Perilaku para senior Roem di STOVIA merupakan salah satu kesibukan pertama di asrama. Mereka adalah para propagandis dari organisasi kepemudaan untuk merekrut anggota baru. “Karena kami masih berstatus plonco, maka propaganda itu tidak berlangsung dengan kata-kata yang lemah lembut.” cerita Roem tentang pengalamannya sekolah di STOVIA pada buku Bunga Rampai dari Sejarah jilid 2.

Aktivtas pemuda STOVIA memang cukup dinamis. Masih banyak waktu tersisa di luar jam berlajar membuat perkumpulan-perkumpulan pemuda itu hidup dengan subur. Mulai dari klub berdasarkan minat hobi seperti senam, main catur, kepanduan, joged Jawa, dan berbagai perkumpulan pemuda daerah. Perkumpulan-perkumpulan seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Celebes, dan Jong-jong lainnya mempunyai komisariat di STOVIA. Setiap anak yang tergabung di perkumpulan harus membayar iuran. Iuran di potong dari uang saku yang berasal dari beasiswa pemerintah. Sejak 1924, atau tahun pertama belajar di STOVIA, Roem sudah aktif di kegiatan Jong Java.

Roem bercerita bahwa STOVIA tempatnya belajar ilmu kedokteran banyak melahirkan tokoh-tokoh pergerakan. Diantaranya yang terkenal adalah dr. Sutomo pediri Boedi Oetomo pada 1908. Dengan begitu, ada rasa kebanggaan tersendiri bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang banyak melahirkan tokoh pergerakan.

Ia sendiri masuk STOVIA pada 1924. Teman-temannya se-asrama dari berbagai daerah, seperti Padang, Tapanuli, Makassar, Gorontalo, Bali, dan lain-lain. Meski mereka bersekolah bersama, dalam aktivitas organisasi kepemudaan mereka masih tersekat semangat kebangsaan daerah.

Roem juga bercerita tentang pengalaman menariknya ketika mulai berteman dengan Bustami yang berasal dari Sumatera. Pada hari bertama bersekolah mereka berjanji berangkat bersama dari asrama ke gedung sekolah yang ada di Salemba, Batavia. Sebelum tiba di gedung sekolah mereka mampir dahulu untuk sarapan. Di sini Roem heran, setahu Roem rumah makan yang ada bernama Langen Siswo, tetapi Bustami memilih tempat lain, sebuah rumah makan yang bernama Sumatraas Commensalenhuis. Roem baru sadar, untuk anak-anak Jawa makannya di warung Langen Siswo, sedangkan anak-anak Sumatera memilih Sumatraas Commensalenhuis.

Mereka belajar bersama-sama, tidur di asrama bersama-sama, tetapi makan ditempat berlainan membuat perasaan Roem heran. Lalu ia bertanya kepada Bustami soal tersebut. Di jawab saja oleh Bustami, “Kau akan kepedasan kalau makan  rendang Padang,” kemudian Roem menimpali, “Kau akan keenakan kalau makan gudeg.” Namun rupanya, Roem justru suka dengan masakan Padang, begitu juga dengan Bustami yang ketagihan Gudeg. Seolah dalam cerita Roem ini, makanan bisa menjalin persatuan bangsa meski saat itu masih terpisah oleh sekat-sekat kebanggan daerah.

Saat Jong Islamieten Bond (JIB) berdiri di awal tahun 1925, Roem juga ikut bergabung. Tak ada penjelasan alasannya ikut bergabung di JIB. Namun, ia pernah terkesan dengan pidato salah seorang seniornya di STOVIA, yakni Kasman Singodimedjo.  Ketika itu Kasman adalah pimpinan JIB cabang Batavia. Yang membuatnya berkesan dengan JIB adalah saat Kasman mengucapkan bahwa sebagai golongan terpelajar ada tanggung jawab untuk mengangkat rakyat dari keterbelakangan. Selama ini masih ada sekat-sekat pemisah antara golongan terdidik dengan rakyat jelata. “Kita harus kembali kepada rakyat!” tegas Kasman. Karena sebagian besar rakyat beragama Islam, maka kalangan intelektual harus mengenal agama Islam yang tidak diajarkan di sekolah. Dengan begitu bisa lebih dekat dengan rakyat.

Di JIB Roem melihat tidak ada sekat-sekat daerah. Semua anak dari berbagai daerah bisa bergabung dalam organisasi yang sama. Yang membedakan, JIB hanya menerima anggota beragama Islam. Hubungan persahabatan antara  dirinya dengan Bustami, yang juga ikut bergabung di JIB, justru semakin erat karena bisa bekerja bersama di JIB. Tidak seperti organisasi perkumpulan pemuda sebelumnya yang memisahkan mereka karena perbedaan daerah asal.

Pada 1926 terjadi perubahanan kebijakan pendidikan pada STOVIA yang ditingkatkan statusnya menjadi perguruan tinggi dengan perubahan nama menjadi Geneeskundige Hoge school (HGS). Bagi siswa yang berada di kelas 1 dan 2 STOVIA karena setingkat dengan pendidikan AMS, maka diperkenanan untuk bersekolah di AMS afdeling B atau AMS Batavia. Sedangkan pada tingkat di atasnya bisa langsung melanjutkan di HGS. Roem yang berada di tingat satu dan dua harus memilih sekolah AMS. Setelah lulus AMS ia tidak melanjutkan ke HGS, tetapi justru memilih Rechts Hoge School(RHS), sehingga tidak menjadi dokter tetapi mendapat gelar Mr. (Misteer atau Sarjana Hukum).

Mendapat pendidikan di sekolah Belanda hingga ke jenjang yang tinggi tak membuat Roem dan sebagian kawan-kawannya aktivis pergerakan bersikap inlander. Aktif di organisasi kepemudaan bukan saja wadah aktulisasi diri tetapi juga membangun semangat kesadaran untuk membangun bangsanya. Seperti yang dikatakan Roem di dalam buku Mohamad Roem 70 Tahun, “Di dalam pergerakan Jong Java dan JIB itu kami semua umumnya sudah menyadari bahwa dengan berorganisasi kami kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di kemudian hari. Waktu itu kaum terpelajar bangsa kita menyadari, bahwa mereka mendapat kesempatan maju, sehingga harus mempunyai tekad untuk memimpin bangsanya yang masih sangat ketinggalan di segala bidang kehidupan.”

Keaktifan di organisasi ini kemudian mengantarkan Roem menjadi salah satu tokoh penting di awal Republik berdiri. 
Oleh Ridwan Hd

Jenderal Soedirma di Stasiun Manggarai Jakarta pada 11 November 1945. Sumber: Het Nationaal Archief - gahetna.nl

Soedirman pernah berpesan saat acara pengajian Pemuda Muhammadiyah di Rawalo, Banyumas, jelang akhir 1930an, “Ada dua pilihan penting dalam kehidupan yang kita jalani saat ini,” ucapnya. Ustadz muda itu melanjutkan perkataannya, “Yang pertama `isy kariiman yakni hidup mulia dan yang kedua mut syahiidan yakni mati syahid. Kalian memilih yang mana?”

“Kalau memilih isy kariiman bagaimana syaratnya?” tanya Hardjomartono salah seorang peserta.

“Kamu harus selalu beribadah dan berjuang untuk agama Islam,” jawab Soedirman.

“Bagaimana kalau pilih mut syahiidan? tanya Hardjomartono lagi.

“Kamu harus berjuang melawan setiap bentuk kebatilan dan berjuang untuk memajukan Islam,” jawab Soedirman kemudian.

Hardjomartono kembali menegaskan dengan pertanyaan, “Jadi semua harus berjuang?”

Dengan tersenyum Soedirman menjelaskan, “Kedua pilihan itu seimbang. Kita akan mendapatkan semua kalau mau, sebab seseorang akan mendapatkan kemuliaan tentu harus berlaku sesuai dengan ajaran dan berjuang di jalan Islam.”

“Salah satu musuh penghalang saat ini adalah penjajahan. Karena itu agar pemuda mendapat kemuliaan maka harus bersiap untuk berjuang, siap syahid untuk mendapatkan kemerdekaan. Para pemuda, apalagi pemuda Muhammadiyah dan anggota HW (Hizboel Wathan), harus berani untuk jihad fisabillilah,” pesan Soedirman seperti yang ditulis Sadirman dalam buku Guru Bangsa Sebuah Biografi Jenderal Sudirman dari hasil wawancara dengan Hardjomartono pada 1997.

Pada 1943, Jepang menunjuk Soedirman menjadi Daidancho (Komandan Batalyon) Pembela Tanah Air (PETA) karena ketokohannya di masyarakat Banyumas. Mengikuti PETA kesempatan mendapat pelatihan militer di Bogor selama tiga bulan demi turut serta berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan. Namun di sisi lain, ia tak rela meninggalkan rakyat Banyumas yang selama ini ia bina. Ia dihadapkan dua pilihan yang sama-sama berjuang di jalan Allah. Setelah melakukan shalat malam dan istikharah, pilihannya bulat menerima masuk menjadi anggota PETA. Benar saja, Allah Ta`ala memberikan jalan mulia pada pilihan ini.

Pada Konfrensi Besar Tentara Keamaan Rakyat (TKR) 12 November 1945, Soedirman berhasil terpilih menjadi Panglima Tertinggi TKR melalui pemungutan suara. Soedirman berhasil mengalahkan Oerip Soemohardjo, perwira KNIL yang lebih berpengalaman. Para pasukan bersenjata itu memilihnya karena melihat kewibawaan dan terkenal sebagai sosok muslim yang taat dari pada Oerip Soemohardjo mantan prajurit Hindia Belanda.

Keputusan memilih dua pilihan setelah shalat istikharah malam itu akhirnya berujung jabatan Jenderal Soedirman ketika TKR berubah menjadi TNI. Jihad fisabilillah menjadi landasannya saat memimpin TNI.
Oleh Ridwan Hd.

Sjafruddin Prawiranegara, foto sekitar 1946-1947
Dari gahetna.nl

Di awal September 1945 terjadi diskusi hangat antara utusan Komie Nasional Indonesia (KNI) Keresidenan Priangan dengan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Mereka mengusulkan kepada Wakil Presiden agar negara yang baru merdeka ini bisa menerbitkan mata uangnya sendiri. Sjafruddin Prawiranegara, sebagai salah satu anggota utusan KNI Keresidenan Priangan yang dianggap paling menguasai masalah uang, mencoba meyakinkan Hatta tentang pentingnya pembuatan uang.

“Apa perlunya mengeluarkan uang baru?” tanya Hatta yang masih agak keberatan dengan usul tersebut. “Oleh dunia internasional kita dapat dituduh sebagai pemalsu uang dan andaikata kita ditangkap Belanda, kita aka dihukum sebagaimana demikian.” sambungnya.

“Kalau pemerintah Republik, termasuk Bung Hatta, memang mengalami nasib sial dan ditangkap Belanda, anggota-anggotanya bukan akan dihukum sebagai pemalsu uang, melainkan juga karena telah melakukan suatu kejahatan yang oleh Belanda akan dipandang lebih berat, yaitu memproklamasikan kemerdekaan yang merupakan suatu pemberontkan terhadap kekuasaan Belanda yang sah.” tanggap Sjafruddin.

“Baiklah,” tanggap Hatta, “Apakah pada taraf perjuangan sekarang perlu dikeluarkan uang baru?” kembali lagi Hatta bertanya untuk mencari jawaban yang meyakinkan pentingnya  usul ini. Kemudian Hatta menjelaskan, bahwa baginya cukup melanjutkan pemakaian uang yang dicetak Jepang tanpa membuang-buang waktu dan tenaga untuk mengeluarkan uang baru. Lalu ia mencontohkan pemerintahan Bolsyewik di Rusia. Ketika pemerintahan Tsar berhasil digulingkan, pemerintah komunis tidak mengeluarkan uang baru, tetapi tetap memakai uang lama.

Contoh yang dijelaskan Hatta tersebut bisa dibantah Sjafruddin. Apa yang terjadi di Rusia tidak berlaku buat kasus yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, Pemerintahan Bolsyewik tidak mendirikan negara baru, hanya pemerintahan yang ditukar. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki perubahan status dari negara jajahan menjadi negara merdeka. “Justru karena itu perlu diadakan uang baru sebagai salah satu atribut dari kemerdekaan negara kita!” ucap Sjafruddin terus meyakinkan seperti yang dituliskan Aji Rosidi dalam buku Sjafruddin Prawiranegara Lebih Takut Kepada Allah Swt.

Usaha meyakinkan pemerintah yang dilakukan Sjafruddin atas pentingnya memiliki mata uang sendiri akhrinya dapat diterima. Namun, situasi negara yang masih genting belum bisa mewujudkan gagasan mata uang. Kembali hadirnya Belanda melalui pasukan NICA dan pergolakan politik yang terjadi dalam tubuh pemerintahan Republik, sangat menguras konsentrasi.

Meski begitu, usaha untuk terlaksananya gagasan ini sudah mulai diseriusi sejak Oktober 1945. Tepatnya 24 Oktober, Menteri Keuangan Mr. A. A. Maramis membentuk sebuah tim untuk mengkaji perusahaan-perusahaan percetakan mana saja yang bisa dipercaya mencetak uang.  Kemudian pada 7 November 1945, Mentri Keuangan membentuk suatu panitia yang dinamakan Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas Republik Indoesia. Tugasnya adalah menyelenggarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pencetakan uang. Kemudian dibentuk juga panitia yang nantinya akan ditugaskan untuk pengedaran dan penyimpanan.

Dalam proses perencanaan pencetakan tersebut Sjafruddin yang kala itu juga masih menjabat sebagai pegawai Kementrian Keuangan (Sebelumnya di masa Hindia Belanda ia adalah Pegawai Pajak), selain juga sebagai pencetus, turut serta dalam usaha pelaksanaannya. Terjadinya beberapa kali pergantian Mentri Keuangan dan situasi perang yang tak menentu membuat rencana ini berjalan lambat.

Sjafruddin segera memutuskan kesediannya ketika ditawari menjadi Mentri Muda Keuangan pada Kabinet Sjahrir II sebagai wakil dari Masyumi. Ia ingin segera menyaksikan kelahiran uang baru Republik Indonesia. Dia yakin, jika mendapat kedudukan pada posisi tersebut rencana yang digagasnya bisa segera terlaksana. Gagasan inilah yang menjadi keyaninan Sjafruddin bahwa mata uang merupakan sebuah eksistensi negara berdaulat. Tidak seperti mata uang dari Belanda dan Jepang, yang kala itu masih beredar, sebagai lambang pemerintahan kolonial.

Mata uang ORI 1 Rupiah
Pada Kabinet Sjahrir III, Sjafruddin diangkat menjadi Mentri Keuangan. Di masanya ini, setelah melalui proses yang panjang dan hambatan yang begitu banyak, mata uang yang dinamankan Oeang Republik Indonesia (ORI) keluar secara resmi pada 29 – 30 Oktober 1946. Sejak saat itu, secara de facto ORI menadi alat penukar dan pembayaran yang sah di wilayah kekuasaan Republik Indonesia yang baru meliputi Jawa, Madura, dan Sumatera.

Pengeluaran uang ORI didasarkan pada dua Undang-undang. Pertama, Undang-undang No. 17/1946 yang menyatakan akan dikeluarkan uang ORI bersama penjelasan bentuk, warna, dan nilai uang yang akan dikeluarkan. Kedua, Undang-undang No. 19/1946 yang menjelaskan dasar penetapan nilai intrisik ORI, waktu peredaran, cara pembayaran hutang ketika ORI telah beredar, dan pengaturan harga-harga maksimal. ORI sendiri dipatok oleh pemerintah dengan nilai 10 ORI sama dengan emas murni seberat 5 gram.

Dalam menerbitkan ORI, pemerintah tidak mengeluarkan begitu saja. Mulai bulan Juni 1946, secara perlahan pemerintah sudah menghentikan peredaran Gulden dari De Javasche Bank (uang Belanda) dan Gulden dari De Japansche regering (uang Jepang) dengan cara mengeluarkan aturan pembatasan besar maksimal nilai tunai mata uang asing tersebut yang boleh dipegang oleh masyarakat. Kemudian jika seseorang atau perusahaan memiliki uang tunai yang melebihi batas maksimal nilai yang boleh dipegang, diwajibkan untuk disimpan di bank-bank yang ditunjuk oleh Pemerintah. Setelah ORI terbit, masyarakat bisa menarik uang baru sesuai kurs uang lama yang telah ditetapkan.

Ketika masuk jatuh tempo pada 29-30 Oktober 1946, uang ORI diedarkan secara serentak ke wilayah Jawa-Madura. Pengedaaran ORI secara serentak sudah dilakukan kordinasi dengan pejabat daerah setempat, sehingga distribusi uang dengan mudah bisa merata melalui pejabat daerah. Agar masyarakat tidak dirugikan, Pemerintah menempuh kebijaksanaan dengan mengadakan pembagian uang baru secara cuma-cuma kepada masyarakat secara merata sebagai imbalan dari uang lama yang tidak berlaku lagi. Tiap-tiap orang mendapat pembagian senilai 1 ORI dan tiga sen. Kebijakan ini atas pertimbangan bahwa setiap orang masih memiliki uang tunai sebesar 50 Gulden De Japansche regering (uang Jepang).

Pemerintah dengan Sjafruddin sebagai Mentri Keuangan juga telah menyadari bawah peralihan mata uang ini akan mengguncangkan kehidupan masyarakat. Pemerintah sudah melakukan antisipasi, yaitu antisipasi terhadap praktek-praktek spekulan yang mencari keuntungan dari permainan kurs mata uang, dan antisipasi terhadap bahaya inflasi. Langkah awal untuk mengantisipasi itu, pada malam 28 Oktober 1946, Mentri Keuangan Sjafruddin berpidato melalui Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menjelaskan tentang ORI dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan masyarakat untuk menghindari keguncangan ekonomi yang tidak ingin diharapkan.

Dalam pidatonya Sjafruddin menekankan bahwa keluarnya ORI bukan berarti permasalahan dan penderitaan ekonomi berhenti dan menjadi makmur. Uang hanyalah sebagai alat penukar, pembayaran dan pengukur harga, sehingga memudahkan orang untuk berdagang. Uang tak secara langsung bisa menambah jumlah barang dan disertai kemakmuran. Bagi Sjafruddin, kemakmuran bisa teratasi dengan memperbanyak produksi. Maka, dengan dibagikan uang baru kepada rakyat Republik Indonesia, bukan berarti harus hidup bersenang-senang menikmati uang yang dipegang. Jika rakyat tak bisa menahan konsumsinya tanpa diimbangi produksi yang meningkat, masalah inflasi bisa terjadi.

“Berhematlah sehemat-hematnya, jangan membeli apabila tak perlu sekali.” Ucap Sjafruddin dalam pidatonya. Anjuran ini sebagai upaya pemerintah agar masyarakat tidak konsumtif. Jika masyarakat tida bisa mengotrol konsumsinya atau dengan kata lain permintaan meningkat tanpa diimbangi dengan meningkatnya produksi, dapat menyebabkan harga-harga melambung.

Anjuran Sjafruddin tersebut juga diikuti dengan anjuran kepada para pedagang maupun pengusaha agar, “janganlah menjual banyak-banyak. Seorang pembeli dibatasi pembeliannya, tetapi sekali-kali jangan menutup toko atau warungnya.” Inilah anjuran yang ditujukan kepada pihak pedagang untuk menekan angka konsumsi rakyat.

Anjuran-anjuran yang dijelaskan Sjafruddin menujukan bukti bahwa kesejahteraan bukan terlihat dari banyaknya uang yang dimiliki karena bisa mencetak uang sendiri, tetapi dari usaha dan kerja keras dengan meningkatkan produksi. ORI lahir hanya sebagai alat tujuan perjuangan, bukan untuk menumpuk kekayaan negara.

Sebagai alat tujuan perjuangan, lahirnya ORI termasuk strategi efektif mengatasi hiperinflasi yang terjadi pada GuldenDe Japansche regering pada saat itu. Ekonomi negara sempat jatuh gara-gara pihak Belanda berhasil merampas cadangan uang Gulden De Japansche regering, yang kemudian dihamburkan kepada masyarakat. Kelakukan Belanda ini memberikan dampak inflasi karena mata uang ini yang paling banyak digunakan oleh rakyat pasca sepeninggalan Jepang. Harga-harga pun meningkat drastis. Indonesia menderita kerugian yang sangat besar. Inilah salah satu cara Belanda menghancurkan ekonomi Indonesia. Dengan hadirnya ORI, bersama anjuran Sjafruddin, inflasi perlahan teratasi. Kelak ORI menjadi cikal bakal mata uang Rupiah dan Sjafruddin menjadi Gubernur Bank Indonesia pertama yang diangkat pada 1953.
Oleh Ridwan Hd.

Ilustrasi dari Film Soekarno (2013)

Usianya 18 tahun. Impian terbesar pemuda pribumi itu adalah bisa memiliki gadis Belanda yang bernama Mien Hessels. “Aku mendambakannya dengan penuh gairah dan aku sampai pada kesimpulan, aku harus mengawininya.” kata Soekarno dalam otobiografinya pada Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Soekarno muda, atau biasa dipanggil Koesno, mudah sekali tergila-gila dengan gadis Belanda yang cantik-cantik. Selama menempuh pendidikan HBS di Surabaya, kerapkali ia menjalin hubungan asmara dengan gadis-gadis asal negeri penjajah itu. “Hanya inilah satu-satunya cara yang kuketahui untuk menunjukkan keungguanku terhadap bangsa kulit putih dan membinkin mereka tunduk pada keinginanku.” alasannya. Tapi di kalimat lain, ia juga berkata, ”Menaklukan seorang gadis kulit putih dan membuatnya tergila-gila padaku adalah soal kebanggaan.”

Koesno juga menyebutkan nama-nama gadis yang pernah berhubungan asmara dengannya. Ada Pauline Gobee, anak salah seorang gurunya. Juga ada Laura, serta putri-putri cantik keluarga Raat. Mereka semua adalah idaman Koesno. Tapi, sejak berkenalan dengan Mien Hessels, gadis-gadis sebelumnya hilang dari kehidupannya. Ia begitu mabuk cinta kepada gadis yang disebut Koesno, “bunga tulip berambut kuning  dan berpipi merah muda”. “Aku rela mati untuknya bisa dia menginginkannya.” katanya.

Tekad untuk mendapatkan Mien Hessels ia nekatkan diri menghadap ayahnya. Dengan berpakaian yang rapi dan paling bagus ia menuju rumah keluarga Mien Hessels sambil gemetar ketakutan. Setiap bertamu, baru kali ini ia merasa gemetar. Lalu ia melangkah ke rumah Belanda yang bagus itu.

“Tuan” ucap koesno ketika sudah berhadapan dengan Ayah Mien Hessels dengan tatapan yang tajam, “Kalay tuan tidak berkeberatan, aku bermaksud meminta putri tuan untuk kuajak hidup dalam suatu ikatan perkawanianan...”

“Kamu? Inlander kotor seperti kamu?” kata tuan Hessels sambil meludah, “Berani-beraninya kamu mendekati anakku. Keluar, kamu binatang kotor. Keluar!”

Kata-kata kasar Ayah Mien Hessels membuat Koesno sangat terpukul. “Perihnya terasa sedemikian hebat, sehingga saat itu aku berpikir: Ya Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini.”

23 tahun kemudian, atau tepatnya di tahun 1942, Soekarno sedang melihat-lihat etalase toko di jalanan kota Jakarta. Tiba-tiba ada yang memanggilnya, “Soekarno?”

“Ia aku Soekarno,” balasnya dari panggilan itu sambil melihat perempuan yang tak dikenal. Perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh, “Dapatkah kau menebak siapa aku?” kata si perempuan.

Yang dipandang Soekarno adalah seorang nyonya tua dan gemuk. Jelek, tubuhnya tak terurus. Soekarno lalu menjawab, “Tidak nyonya, tidak dapat. Siapa Anda?”

“Mien Hessels,” dia terkekeh lagi.

“Huhhh! Mien Hessels!” kata Soekarno yang diceritakan di buku otobiografinya itu, “Ratuku yang cantik seperti bidadari itu sudah berubah menjadi perempuan sihir. Kau tak pernah melihat perempuan tua yang jelek dan kumuh seperti ini. Mengapa dia membiarkan dirinya sampai begitu. Dengan cept aku memberi salam kepadanya, dan terus berjalan sambil mengucapkan syukur dan memuji Tuhan Yang Maha Penyayang karena telah melindungiku. Caci maki yang telah terlontarkan  ayahnya dulu sesungguhnya adalah rahmat yang terselubung bagiku. Kalau dipikir-pikir, dulu aku telah tertambat pada perempuan ini. Aku bersyukur kepada Tuhan atas perlindungan yang telah diberikan-Nya.”


Kebiasanya masa remajanya terbawa hingga dewasa. Ia begitu mudah tertambat wanita cantik. Presiden pertama kita ini memang dikenal melakukan beberapa kali pernikahan. Hingga akhir hayat, tercatat Soekarno memiliki 9 istri.

Perform

video

Feature

Cat-5

Cat-6