Cat-1

Cat-2

Cat-3

Cat-4

Latest Posts

Oleh Ridwan Hd.
Mohammad Roem di Konfrensi Inter Indonesia pada 1949 di Jogjakarta | sumber: media-kitlv.nl

Masa perploncoan siswa baru di asrama School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1924 sedang berlangsung. Secara tiba-tiba, para senior dari perkumpulan Jong Sumatera masuk ke ruang  tidur para siswa baru. Mereka langsung mendata dan mencatat nama-nama yang tertulis di lemari. “Kamu jadi anggota Jong Sumatra, ya!” paksa salah seorang Senior itu kepada Mohammad Roem. “Kontribusi setalen sebulan. Kamu tidak usah bayar sendiri, akan dipotong di kantor.” lanjutnya tanpa sela dan persetujuan.

“Habis perkara!” ungkap Roem dalam hati. Roem tidak bisa berbuat apa-apa atas tindakan paksa mereka.

Senior itu datang kembali keesokan harinya. Lalu marah-marah kepada Roem, “Kamu bohong! Kamu orang Jawa, tidak boleh jadi anggota Jong Sumatera.”

“Tuan yang (kemarin) ngomong sendiri!” balas Roem. Seniornya kemarin memang tidak menanyakan asalnya. Langsung main catat saja. “Saya sudah keliru. Mengapa kamu orang Jawa namanya tidak berakhir dengan O.” kata senior itu masih marah. Belum dijawab oleh Roem, si senior langsung pergi.

Perilaku para senior Roem di STOVIA merupakan salah satu kesibukan pertama di asrama. Mereka adalah para propagandis dari organisasi kepemudaan untuk merekrut anggota baru. “Karena kami masih berstatus plonco, maka propaganda itu tidak berlangsung dengan kata-kata yang lemah lembut.” cerita Roem tentang pengalamannya sekolah di STOVIA pada buku Bunga Rampai dari Sejarah jilid 2.

Aktivtas pemuda STOVIA memang cukup dinamis. Masih banyak waktu tersisa di luar jam berlajar membuat perkumpulan-perkumpulan pemuda itu hidup dengan subur. Mulai dari klub berdasarkan minat hobi seperti senam, main catur, kepanduan, joged Jawa, dan berbagai perkumpulan pemuda daerah. Perkumpulan-perkumpulan seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Celebes, dan Jong-jong lainnya mempunyai komisariat di STOVIA. Setiap anak yang tergabung di perkumpulan harus membayar iuran. Iuran di potong dari uang saku yang berasal dari beasiswa pemerintah. Sejak 1924, atau tahun pertama belajar di STOVIA, Roem sudah aktif di kegiatan Jong Java.

Roem bercerita bahwa STOVIA tempatnya belajar ilmu kedokteran banyak melahirkan tokoh-tokoh pergerakan. Diantaranya yang terkenal adalah dr. Sutomo pediri Boedi Oetomo pada 1908. Dengan begitu, ada rasa kebanggaan tersendiri bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang banyak melahirkan tokoh pergerakan.

Ia sendiri masuk STOVIA pada 1924. Teman-temannya se-asrama dari berbagai daerah, seperti Padang, Tapanuli, Makassar, Gorontalo, Bali, dan lain-lain. Meski mereka bersekolah bersama, dalam aktivitas organisasi kepemudaan mereka masih tersekat semangat kebangsaan daerah.

Roem juga bercerita tentang pengalaman menariknya ketika mulai berteman dengan Bustami yang berasal dari Sumatera. Pada hari bertama bersekolah mereka berjanji berangkat bersama dari asrama ke gedung sekolah yang ada di Salemba, Batavia. Sebelum tiba di gedung sekolah mereka mampir dahulu untuk sarapan. Di sini Roem heran, setahu Roem rumah makan yang ada bernama Langen Siswo, tetapi Bustami memilih tempat lain, sebuah rumah makan yang bernama Sumatraas Commensalenhuis. Roem baru sadar, untuk anak-anak Jawa makannya di warung Langen Siswo, sedangkan anak-anak Sumatera memilih Sumatraas Commensalenhuis.

Mereka belajar bersama-sama, tidur di asrama bersama-sama, tetapi makan ditempat berlainan membuat perasaan Roem heran. Lalu ia bertanya kepada Bustami soal tersebut. Di jawab saja oleh Bustami, “Kau akan kepedasan kalau makan  rendang Padang,” kemudian Roem menimpali, “Kau akan keenakan kalau makan gudeg.” Namun rupanya, Roem justru suka dengan masakan Padang, begitu juga dengan Bustami yang ketagihan Gudeg. Seolah dalam cerita Roem ini, makanan bisa menjalin persatuan bangsa meski saat itu masih terpisah oleh sekat-sekat kebanggan daerah.

Saat Jong Islamieten Bond (JIB) berdiri di awal tahun 1925, Roem juga ikut bergabung. Tak ada penjelasan alasannya ikut bergabung di JIB. Namun, ia pernah terkesan dengan pidato salah seorang seniornya di STOVIA, yakni Kasman Singodimedjo.  Ketika itu Kasman adalah pimpinan JIB cabang Batavia. Yang membuatnya berkesan dengan JIB adalah saat Kasman mengucapkan bahwa sebagai golongan terpelajar ada tanggung jawab untuk mengangkat rakyat dari keterbelakangan. Selama ini masih ada sekat-sekat pemisah antara golongan terdidik dengan rakyat jelata. “Kita harus kembali kepada rakyat!” tegas Kasman. Karena sebagian besar rakyat beragama Islam, maka kalangan intelektual harus mengenal agama Islam yang tidak diajarkan di sekolah. Dengan begitu bisa lebih dekat dengan rakyat.

Di JIB Roem melihat tidak ada sekat-sekat daerah. Semua anak dari berbagai daerah bisa bergabung dalam organisasi yang sama. Yang membedakan, JIB hanya menerima anggota beragama Islam. Hubungan persahabatan antara  dirinya dengan Bustami, yang juga ikut bergabung di JIB, justru semakin erat karena bisa bekerja bersama di JIB. Tidak seperti organisasi perkumpulan pemuda sebelumnya yang memisahkan mereka karena perbedaan daerah asal.

Pada 1926 terjadi perubahanan kebijakan pendidikan pada STOVIA yang ditingkatkan statusnya menjadi perguruan tinggi dengan perubahan nama menjadi Geneeskundige Hoge school (HGS). Bagi siswa yang berada di kelas 1 dan 2 STOVIA karena setingkat dengan pendidikan AMS, maka diperkenanan untuk bersekolah di AMS afdeling B atau AMS Batavia. Sedangkan pada tingkat di atasnya bisa langsung melanjutkan di HGS. Roem yang berada di tingat satu dan dua harus memilih sekolah AMS. Setelah lulus AMS ia tidak melanjutkan ke HGS, tetapi justru memilih Rechts Hoge School(RHS), sehingga tidak menjadi dokter tetapi mendapat gelar Mr. (Misteer atau Sarjana Hukum).

Mendapat pendidikan di sekolah Belanda hingga ke jenjang yang tinggi tak membuat Roem dan sebagian kawan-kawannya aktivis pergerakan bersikap inlander. Aktif di organisasi kepemudaan bukan saja wadah aktulisasi diri tetapi juga membangun semangat kesadaran untuk membangun bangsanya. Seperti yang dikatakan Roem di dalam buku Mohamad Roem 70 Tahun, “Di dalam pergerakan Jong Java dan JIB itu kami semua umumnya sudah menyadari bahwa dengan berorganisasi kami kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di kemudian hari. Waktu itu kaum terpelajar bangsa kita menyadari, bahwa mereka mendapat kesempatan maju, sehingga harus mempunyai tekad untuk memimpin bangsanya yang masih sangat ketinggalan di segala bidang kehidupan.”

Keaktifan di organisasi ini kemudian mengantarkan Roem menjadi salah satu tokoh penting di awal Republik berdiri. 
Oleh Yusuf Maulana
Ilustrasi: Aljazeera
"Selama penaklukan-penaklukan mereka di wilayah Timur Tengah pada abad ke-13, pasukan Mongol tidak menunjukkan kecintaannya pada dunia pendidikan dan tidak menghargai kekayaan. Mereka menghancurkan keseluruhan kota dan (menyebabkan) koleksi perpustakaan hilang dalam pembakaran-pembakaran (dalam pengertian yang literal), sebab anggota-anggota dari pasukan berkuda yang merusak itu menggunakan manuskrip-manuskrip untuk bahan pembakar.

Perpustakaan utama di kota Tripoli dirusak oleh tentara pasukan perang Salib atas perintah seorang biarawan yang tidak suka dengan salinan-salinan Al-Qur'an yang tersimpan di rak-raknya. Jumlah seri yang dihancurkan dengan semangat keagamaan tentara Salib bahkan tidak dapat diperkirakan.

Perpustakaan-perpustakaan besar di pusat-pusat kebudayaan bangsa Moor (Andalusia; Spanyol) juga punah karena keberingasan orang-orang Kristen yang menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai buku-buku berbahaya yang menyelewengkan ajaran (heretik) dan mengandung ilmu mistik orang-orang kafir. Sedikit koleksi pribadi dan umum di Cordova, Granada, dan Toledo masih tersisa.

Untungnya, banyak karya terbaik pemikiran keislaman sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebelum peristiwa-peristiwa penghancuran ini, dan selamat dari kehancuran untuk menerangi sarjana-sarjana yang mulai tumbuh di dunia Barat. Namun, kita, para sarjana dari generasi kemudian, hanya dapat memperkirakan tentang banyaknya (karya-karya) yang hilang.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, kekosongan apa pun yang terjadi pasti terjembatani. Tetapi, dalam dunia filsafat dan seni sastra, sama sekali tidak ada jalan untuk menghitung keuntungan yang mestinya diraih, oleh generasi belakangan, dari (sic! musnahnya) pandangan otak-otak yang cemerlang pada abad itu."

Demikian petikan apik dari buku Charles Michael Spanyol, Pendidikan Tinggi dalam Islam (Jakarta: Logis), 1994, halaman 170-171. Saya cuplik dengan menata alinea agar sedap di mata kisanak. Sebuah kado di Hari Buku Nasional, 17 Mei ini.

Membaca masa silam disingkirkannya alam berpikir lewat teks langsung terpaut dengan berita razia dan pelarangan buku bernuansa komunis atau sekurangnya bersimpati pada isme ini. Memang ada sikap berlebihan dari aparat yang kadang malah bukan saja tidak efektif, melainkan juga kontraproduktif hasilnya lantaran mengundang rasa penasaran anak muda. Sesuatu yang awalnya berjarak malah didekati karena ingin menciptakan penanda beda dengan penguasa. Lebih-lebih disokong arus global yang tidak hendak adanya pembatasan.

Namun berlebihan kiranya juga patut disematkan pada sebagian pencela aparat. Seolah razia dan pelarangan buku isme kiri puncak fasisme. Kekerasan dilawan dengan kekerasan bahasa. Menuding pelarangan sementara faktanya mesin distribusi buku tersebut masih beroperasi di bawah tanah dengan aman. Amat jauh dengan fasisme ala Mongol hingga pasukan Salib dalam melampaui kenormalan manusia. Buku dihanguskan tanpa ampun. Tapi bagi Muslim kala itu, adakah praktik protes kekerasan bahasa hingga sikap-sikap "lebay" nan cengeng meratapi kekalahan?


Sumber video: Dutch Docu Channel
Link: https://www.youtube.com/watch?v=S2RYcv-yPQY

Sedikit tentang KNIL

KNIL memiliki kepanjangan Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger memiliki arti Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Kalau dalam negara Republik Indonesia memiliki perangkat militer bernama TNI, maka di masa kekuasaan Belanda di Nusantara dengan nama negara Hindia Belanda memiliki perangkat militer diberi nama KNIL.

Meski menjadi perangkat militer Belanda, hampir sebagian besar anggotanya adalah para pribumi. Banyaknya prajurit pribumi yang ada di KNIL hampir 70%. Dikalangan perwira mayoritas masih dikuasi orang-orang Belanda atau Eropa non Belanda. Ada juga perwira dari kalangan pribumi. Kebanyakan, perwira dari kalangan pribumi adalah orang-orang dari rakyat kelas bangsawan atau keluarga yang memiliki kedudukan tinggi di kalangan orang-orang Belanda. Diantara orang pribumi yang pernah menjadi perwira KNIL adalah Mangkunegara VII, Sultan Hamid II, Oerip Soemohardjo, E. Kawilarang, Abdul Haris Nasution, Gatot Subroto, dan TB. Simatupang. Beberapa nama-nama ini nanti akan memegang peranan penting di tubuh TNI setelah Indonesia merdeka.

Mengutip dari wikipedia, KNIL berdiri atas keputusan Gubernur Jenderal van den Bosch pada 4 Desember 1830 yang dinamakan "Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger" di mana ditetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang baru untuk Hindia Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur) dan pada tahun 1836, atas saran dari Raja Willem I, tentara ini mendapat predikat "Koninklijk".

Namun dalam penggunaan sehari-hari, kata ini tidak pernah digunakan selama sekitar satu abad, dan baru tahun 1933, ketika Hendrik Colijn –yang juga pernah bertugas sebagai perwira di Oost-Indische Leger- menjadi Perdana Menteri, secara resmi tentara di India-Belanda dinamakan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, disingkat KNIL.

Keputusan berdirinya KNIL setelah Belanda berhasil memenangkan perang jawa, atau Perang Diponegoro, sehingga berhasil menancapkan kekuasaannya di hampir seluruh Nusantara kecuali Aceh. Perang besar yang menghabiskan biaya besar bagi kNIL ketika menghadapi perang Aceh pada 1873 - 1904. Perang ini berlangsung sangat lama dikarenakan semangat jihad yang masih tinggi di kalangan rakyat Aceh. Aceh berhasil ditaklukan KNIL setelah mengirimkan mata-mata bernama Snouck Hurgronje untuk mempelajari kehidupan rakyat. Atas saran-saran Snouck Hurgronje, seperti salah satunya lebih menghancurkan kekuatan ulama daripada para bangsawan, akhirnya kesultanan Aceh menyerah pada 1904.

Tahun 1936, jumlah pribumi yang menjadi serdadu KNIL mencapai 33 ribu orang, atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa.

Apabila meneliti jumlah perwira, bintara serta prajurit yang murni orang Belanda terlihat, bahwa sebenarnya jumlah mereka sangat kecil. Pribumi yang mencapai pangkat tertinggi di KNIL adalah Kolonel KNIL Abdulkadir Widjojoatmodjo, yang tahun 1947 memimpin delegasi Belanda dalam perundingan di atas kapal perang AS Renville, yang membuahkan Persetujuan Renville. Seorang Indonesia, Sultan Hamid II dari Pontianak, yang dididik oleh dua perwira Inggris, mencapai pangkat Mayor Jenderal dalam posisi Asisten Politik Ratu Juliana.

Dengan berdirinya negara Republik Indonesia dan TNI serta diakui kedaulatannya oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, maka pada tahun 1950 KNIL dibubarkan. Berdasarkan keputusan kerajaan tanggal 20 Juli 1950, pada 26 Juli 1950 pukul 00.00, setelah berumur sekitar 120 tahun, atau KNIL dinyatakan dibubarkan. Berdasarkan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar, mantan tentara KNIL yang jumlahnya diperkirakan sekitar 60.000 yang ingin masuk ke "Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat" (APRIS) harus diterima dengan pangkat yang sama. Beberapa dari mereka kemudian pada tahun 70-an mencapai pangkat Mayor Jenderal TNI. Jumlah orang KNIL dari Ambon diperkirakan sekitar 5.000 orang, yang sebagian besar ikut dibawa ke Belanda dan tinggal di sana sampai sekarang.
Oleh Ridwan Hd.
Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta | Foto:
Lima tahun setelah penetapan hari kelahiran Budi Utomo sebagai hari kebangkitan nasional Hadji Samahoedi akhirnya bersuara. Ia menuturkan kepada Tamar Djaja, salah seorang jurnalis dari Himpunan Pengarang Islam, bahwa Sarekat Dagang Islam didirikan oleh dirinya pada 16 Oktober 1905. Penuturannya itu dilakukan ketika ia datang ke Jakarta menghadiri pertemuan para veteran Sarekat Islam pada 1953 saat umurnya telah menginjak 75 tahun. Sejak lepas dari jabatan Ketua Sarekat Islam hingga Indonesia Merdeka, ia tidak aktif lagi di dunia pergerakan.

Timur Jaylani dalam tesisnya di Institute of Islamic studies, McGill University pada April 1959 dengan judul The Sarekat Islam Movement; It's Contribution to Indonesian Nationalism, menuliskan bahwa Hadji Samanhoedi memilki saksi dan bukti pendukung penuturannya. Para saksi itu adalah Suwandi dan Raden Gunawan. Kedua orang ini terlibat dalam pertemuan 16 Oktober 1905 di rumah Hadji Samanhoedi untuk menggagas organisasi penghimpun para pedagang muslim. Mereka semua masih hidup dan ikut hadir pada pertemua itu. Selain itu, ada bukti lain dari kebenaran pernyataan Hadji Samanhudi ini, yaitu foto-foto pertama Sarekat Dagang Islam berdiri.

Penuturan Hadji Samanhoedi yang dipublikasi oleh Tamar Djaja dan juga menjadi tesis Timur Jaylani menjadi rujukan utama para sejarawan pendukung berdirinya Sarekat Dagang Islam di tahun 1905. Lalu muncul tuntutan agar Sarekat Dagang Islam seharusnya menjadi pelopor kebangkitan nasional. Tuntutan itu sudah dimulai sejak Kongres Mubaligh Islam Indonesia di Medan pada 1956 agar hari kebangkitan nasional menjadi 16 Oktober.

Berbeda dengan Deliar Noer, sejarawan Muslim melalui disertasinya di Cornell University yang berjudul The Modernist Muslim Movement In Indonesia, menyatakan tidak sepakatnya. Deliar Noer bercerita dalam catatan kaki, ia membantah kesimpulan Tamar Djaja atas penuturan Hadji Samanhoedi.

Deliar Noer juga mengaku melakukan wawancara dengan Hadji Samanhoedi, termasuk para tokoh penting Sarekat Islam seperti Abdoel Moeis (Wakil Ketua Sarekat Islam 1916-1923), Syaikh Awad Sjahbal (teman rapat Samanhoedi), Ki Ahmad Bermawi (Pendiri SI di Palembang tahun 1913), dan Raden Gunawan. Begitu juga data-data dari berbagai surat kabar yang terbit sekitar waktu berdirinya Sarekat Islam ia teliti. Nampak, Deliar Noer lebih memilih sikap berdasar data-data tertulis seperti publikasi media atau catatan resmi yang dikeluarkan oleh badan hukum dari pada sekedar pengakuan.

Sesuai akta badan hukum pemerintah Hindia Belanda, Deliar Noer menyimpulkan, Sarekat Islam yang berawal dari Sarekat Dagang Islam dengan tokoh pendirinya Hadji Samanhoedi berdiri pada 11 November 1911.

Versi menarik lagi dari Takashi Sirashi dengan bukunya Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912 – 1916, yang juga hasil disertasi dari Cornell Unniversty tahun 1990. Takashi lebih banyak mengambil data tertulis dari catatan DA. Rinkes, pejabat penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera. Ia juga banyak mengambil data dari arsip inventaris Pemerintahan Hindia Belanda langsung.

Menurut Takashi, Sarekat Dagang Islam yang dikomando oleh Samanhoedi adalah cabang dari Sarkat Dagang Islamijah Bogor yang didirikan RM Tirto Adhi Soewirjo tahun 1909. Awalnya mereka adalah para pedagang batik di Lawean, Solo, yang mendirikan kelompok ronda bernama Rekso Roemekso. Niatnya hanya menjaga keamanan dari para kecu yang sering mencuri batik produksi mereka. Seiring waktu, ketika Cina berhasil dalam revolusinya menurunkan Kaisar Puyi tahun 1911, orang-orang Cina di Solo menunjukkan sikap angkuh. Konflik pun terjadi antara Rekso Roemekso dengan organisasi dagang orang-orang Cina yang memiliki nama Kong Sing.

Konflik tersebut membuat Residen Solo saat itu mempertanyakan status legalitas Rekso Roemekso. Jika tidak ada legalitasnya bisa dianggap sebagai organisasi liar yang harus diberantas. Atas ancaman itu, teman dekat Samahoedi yang bernama Djojomargoso dari pegawai kepatihan meminta tolong kepada Martodharsono yang merupakan teman dari Tirto. Tirto tak hanya sebagai pendiri Sarekat Dagang Islam di Bogor, tetapi juga pimpinan redaksi surat kabar Medan Prijaji dan dekat dengan kalangan pemerintah Hindia Belanda.

Ketika ada penyelidikan, Martodharsono mengatakan kepada penyidik bahwa Rekso Roemekso adalah Sarekat Dagang Islam cabang dari Sarekat Dagang Islam yang ada di Bogor yang didirikan Tirto. Lalu, Djojomargoso melalui Martodharsono juga meminta bantuan Trito membuatkan anggaran dasar organisasi. Namuni yang terjadi, Tirto menyusun Anggaran Dasar dengan nama Sarekat Islam bertanda tangan pada 9 November 1911. Meski sudah berbentuk organisasi modern, menurut Takashi, langkah geraknya masih seperti organisasi ronda sebelumnya hingga Tjokroaminoto bergabung menjadi anggota.

Deliar Noer juga menyebut nama Tirto dalam bukunya. Ia mengatakan jika Tirto memang diminta Samanhoedi membuatkan anggaran dasar organisasi. Tapi tidak menyebutkan ada nama Rekso Roemekso. Samanhoedi kenal dengan Tirto ketika sedang berkunjung ke Bogor dalam rangka dagang.

Dibalik perdebatan tentang waktu berdirinya Sarekat Dagang Islam, baik Deliar Noer, Timur Jaylani, dan Takashi Shiraisi tetap sepakat bahwa Boedi Utomo tak layak sebagai pelopor kebangkitan nasional karena sifatnya yang tertutup, hanya menerima anggota dari kalangan orang Jawa saja. Bahkan, setelah Dr. Soetomo tidak lagi memimpin setelah 6 bulan berdiri, anggota Boedi Utomo hanya dikuasai oleh para priayi.

Menariknya lagi, Takashi lebih menyebut nama RM Tirto Adhi Soewirjo sebagi pelopor kesadaran nasional. “Ia adalah archetypepemimpin pergerakan dekade berikutnya dan bumiputera pertama yang menggerakan ‘bangsa’ melalui bahasanya, yaitu bahasa yang ditulisnya dalam meda prijaji.” tulisnya.

Dari catatan Takashi, Tirto menjadi wartawan surat kabar sejak 1903 di usia 21 tahun. Ia mendirikan surat kabar Soenda Berita yang didanai oleh Bupati Cianjur RAA Prawiradiredja. Soenda Berita adalah surat kabar yang didanai, dikelola, dan diterbitkan murni oleh bumiputera. Saat itu, surat kabar kebanyakan masih dikolela atau didanai oleh kalangan Eropa ataupun Cina.

Pada 1906, ia juga terlibat mendirikan organisasi Sarekat Prijaji yang bertujuan memajukan pendidikan anak-anak priayi. Kemudian pada 1907, Tirto menerbitkan surat kabar mingguan bernama Meda Prijaji. Pada 1909, Medan prijaji berubah menjadi surat kabar harian. “Tirtoadhisoerjo menciptakan gaya jurnalistik tersendiri dalam Medan Prijaji dengan bahasa yang penuh sindiran dan penggunaan kata-kata Jawa dan Belanda.” tulis Takashi. Meski bernama Medan Prijaji, surat kabar ini tak hanya untuk kalangan priayi, tetapi dibaca oleh semua kalangan dengan bahasa melayu, dan menjadi surat kabar populer hingga 1911.

Peran membangun kesadaran “bangkit” melalui surat kabar ini dianggap Takashi sebagai bumiputera pertama yang menggerakan bangsa melalui bahasa. Kesimpulan Takashi juga sejalan dengan Pramoedya Ananta Toer yang kemudian menuliskan biografi lengkap Tirto pada buku Sang Pemula.

Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara justru menulis Tirto sebagai tokoh antagonis. Ia melihat Tirto jauh dari tokoh yang berjuang untuk bangsanya. Di dalam buku Api Sejarah, Ahmad Mansyur menyimpulkan dari kedekatan dengan RAA Prawiradiredja yang mendanai surat kabarnya, Soenda Berita. Sedangkan RAA Prawiradiredja adalah bupati yang berjasa kepada pemerintah Hindia Belanda dalam menjalankan tanam paksa di Cianjur. Karena program tanam paksa itu, RAA Prawiradiredja mendapat penghargaan mulia dari pemerintah dan menjadi bupati terkaya di Pulau Jawa.

Begitu juga dengan Tirto, ia sendiri lahir dari keluarga yang terkenal sukses dalam memungut pajak rakyat untuk pemerintah Hindia Belanda. Jasa keluarga ini menjadikan modal dirinya bisa sangat dekat dengan para petinggi pemerintah. Kedekatan Tirto dengan penguasa Hindia Belanda juga diakui Takashi dengan menuliskan, “Keberhasilan Tirtoadhisoerjo sebagai redaktur-penerbit pertama sebagian karena hubungannya dengan Gubernur Jenderal Van Heutsz, yang memberinya perlindungan dari ganguan birokrasi...”

Di dalam bukunya itu juga Ahmad Mansyur menjelaskan bahwa Sarekat Dagang Islamijah yang didirikan Tirto di Bogor tahun 1909 adalah organisasi sempalan yang disponsori pemerintah Hindia Belanda untuk menyaingi Sarekat Dagang Islam pimpinan Samanhoedi di Solo. Perbedaannya, Sarekat Dagang Islamijah di Bogor terdaftar resmi secara legalitas di notaris pemerintah, sedangkan Sarekat Dagang Islam di Solo belum tercatat meski jumlah anggotanya lebih besar. Ahmad Mansyur termasuk sejarawan yang mendukung Sarekat Dagang Islam berdiri pada 16 Oktober 1905.

Apapun perdebatan sosok yang layak menjadi pelopor kebangkitan bangsa, keputusan pemerintah pada Kabinet Hatta tahun 1948 menetapkan Budi Utomo sebagai organisasi pelopor kebangkitan memang layak digugat kembali. Kemudian mencari pendapat yang kuat antara memilih Hadji Samanhoedi atau RM. Tirto Adhi Soerjo sebagai tokoh yang pantas, ataukah tak perlu ada hari kebangkitan nasional sama sekali?

Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl
Tim Nasiona Hindia-Belanda sedang berfoto bersama di Amsterdam bersama pada pejabat Belanda setelah mengikuti Piala Dunia di Perancis tahun 1938


Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl
Achmad Nawir (kapten kesebelasan Hindia-Belanda) di sebelah Puck van Heel (kapten kesebelasan Belanda) saat pertandingan persahabatan antara Hindia-Belanda dengan Belanda pada 26 Juni 1938.


Foto-foto ketika Hindia-Belanda kebobolan.
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl

Gambar-gambar ini merupakan pertandingan persahabatan antara Hindia-Belanda melawan Belanda di Stadion Olimpiade, Amsterdam, pada 26 juni 1938. Adu laga berakhir 9-2 untuk Belanda.


Sumber/penerbit video : Dutch Docu Channel
Foto-foto Jembatan Merah Surabaya tempo dulu yang berhasil admin himpun dari commons.wikimedia.org


De Willemskade langs de Kali Mas, Soerabaja | commons.wikimedia.org
Kali Mas Surabaya yang terlihat Jembatan Merah di ujung. 
Foto sekitar tahun 1870 - 1892.



De Roode Brug over de Kali Mas bij de Willemskade, Soerabaja | commons.wikimedia.org
Suasana Jembatan Merah Surabaya sekitar tahun 1880-1900



De Rode brug in Soerabaja ten tijde van de kroningsfeesten van Koningin Wilhelmina in 1898 | commons.wikimedia.org
Arti: Jembatan Merah di Surabaya pada saat penobatan Ratu Wilhelmina tahun 1898



De Roode Brug en de Handelstraat in Soerabaja | commons.wikimedia.org
Suasana Jembatan Merah antara tahun 1920 - 1931. Tampak sudah ramai kendaraan mesin roda 4.



Luchtfoto van Soerabaia, in het midden de Roode Brug over de Kali Mas | commons.wikimedia.org
Kota Surabaya dari atas yang dipotong oleh Sungai Kali Mas, terlihat di tengah-tengah ada Jembatan Merah. Foto sekitar tahun 1940.


Tentang Jembatan Merah Surabaya 

Jembatan Merah merupakan salah satu monumen sejarah di Surabaya, Jawa Timur yang dibiarkan seperti adanya: sebagai jembatan. Jembatan yang menjadi salah satu judul lagu ciptaan Gesang ini, semasa zaman VOC dahulu dinilai penting karena menjadi sarana perhubungan paling vital melewati Kalimas menuju Gedung Karesidenan Surabaya, yang sudah tidak berbekas lagi.

Kawasan Jembatan Merah merupakan daerah perniagaan yang mulai berkembang sebagai akibat dari Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam perjanjian itu sebagian daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC. Sejak saat itulah Surabaya berada sepenuhnya dalam kekuasaan Belanda. Kini, posisinya sebagai pusat perniagaan terus berlangsung. Di sekitar jembatan terdapat indikator-indikator ekonomi, termasuk salah satunya Plaza Jembatan Merah.

Perubahan fisiknya terjadi sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatasnya dengan sungai diubah dari kayu menjadi besi. Kini kondisi jembatan yang menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya itu, hampir sama persis dengan jembatan lainnya. Pembedanya hanyalah warna merah.
Sumber: Wikipedia

Perform

video

Feature

Cat-5

Cat-6