Cat-1
Cat-2
Cat-3
Cat-4
Latest Posts
oleh Salim A. Fillah
“Yogya itu ngangeni”, kata mereka yang pernah mengunjunginya. Alasannya tak satu dan tak baku. Setiap orang punya penjelasannya sendiri, karena kenangan itu menjerat hati, bukan isi kepala. Tapi ternyata bukan hanya kini, bahkan pengunjungnya di perempat abad kesembilan-belas menuliskan kesan ini:
“..Tapi Djocja (Yogyakarta) dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailles Jawa. Kini tak sampai sepersepuluhnya yang tinggal utuh, tapi (aslinya dulu) terlihat dari reruntuhan tembok yang besar-besar..”
-Willem von Hogendorp, 1828-
Ahli hukum lulusan Leiden Universiteit ini menyambanginya setelah 3 tahun Perang Diponegoro (1825-1830) berkecamuk. Kala itu, banyak pangeran telah menghancurkan kediaman-kediaman megah mereka di sekitar Kraton sebelum bergabung dengan barisan juang putra sulung Sultan Hamengkubuwana III itu. Pun karena beberapa pertempuran, bangunan-bangunan terbaik telah menjelma jadi reruntuhan.
Bahkan 16 tahun sebelumnya, pada Juni 1812, bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancur-leburkan Benteng Baluwarti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.
Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli.
Yogyakarta yang dilihat Von Hogendorp dalam tugasnya sebagai Ajudan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pada 1828, adalah sosok kalah dan lelah yang terluka parah, tapi pesonanya masih memukau. Sebab ia memang suatu Versailles Jawa dalam kejelitaannya, dan bahkan Madinah Jawa dalam nilai-nilainya. Madinah dari suatu tamadun yang madani, yang pada setiap sisi tata kotanya terjabarkan hakikat kemanusiaan, kehambaan, dan kebersamaan.
Yogya itu ngangeni, barangkali karena tata-kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang hakikat hidup kita.
Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kota ini, agaknya telah menyeksamai dengan cermat penempatan kratonnya. Di samping faktor kesejarahan bahwa Kota Gede-Karta-Pleret; ibukota Kesultanan Mataram Islam yang didirikan leluhurnya berada di dekatnya; alasan filosofis, militer, geografis, dan sosiologis agaknya membuat beliau bersikukuh untuk memilih Alas Paberingan dan Umbul Pacethokan ini dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Berbagai pihak hingga kini memperbincangkan keistimewaan tata-kota Yogyakarta pada mulanya, yang didasarkan pada falsafah hakikat manusia dari Sultan Hamengkubawana I yang dapat kita ringkas menjadi 3 prinsip yang dijiwai 5 nilai:
1. Prinsip Poros, dijiwai oleh “Sangkan Paraning Dumadi” Prinsip Geometris, dijiwai oleh
2. “Hamangku, Hamengku, Hamengkoni” dan “Hamemayu Hayuning Bawana”
3. Prinsip Konfiguratif, dijiwai oleh “Catur Sagatra” dan “Nyawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh”
PRINSIP POROS
Secara harfiah kalimat “Sangkan Paraning Dumadi” bermakna keinsyafan akan asal dan tujuan hidup sebagai makhluq. Dalam pembangunan Kota Yogyakarta, disusun sebuah poros lurus yang seakan meletakkan Kraton berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di titik selatan. Tetapi lebih dari itu, sejak Panggung Krapyak yang menandai batas selatan kota tua Yogyakarta hingga Keraton adalah pralambang sangkan, asal kehidupan. Adapun dari Kraton hingga Tugu Golong Gilig yang menjadi had utara menguraikan makna paran, tujuan hidup insan.
“Maka hendaklah insan memperhatikan dari mana ia diciptakan. Dia dicipta dari air yang dipancarkan.” (QS Ath Thariq [86]: 5-6)
Panggung Krapyak berujud bangunan persegi bertingkat sebagai perlambang rahim seorang ibu. Di lantai bawah, rusa-rusa dikandangkan. Pada kesempatan tertentu, Sultan dan para punggawa naik ke tingkat atas dengan membawa busurnya. Ketika pintu kandang rusa di bawah dibuka, rusa-rusa berlarian dan para pemanah itupun menembak mereka dengan jemparingnya. Inilah pralambang konsepsi, benih lelaki yang dibidikkan pada benih perempuan.
Maka kampung di sebelah selatan Panggung Krapyak dinamakan Mijen, yakni tumbuhnya manusia sebagai nutfah, ‘alaqah, dan mudghah, lalu Malaikat pun datang untuk meniupkan ruhnya serta menuliskan ajal, rizqi, ‘amal, serta apakah termasuk orang beruntung ataukah celaka. Lalu tumbuhnya sang janin berlanjut menyempurna. Kelahirannya ditandai dengan nama kampung di sebelah utara Panggung; Mijil.
Jalan yang menghubungkan antara Panggung Krapyak hingga ke gerbang selatan Baluwarti Kraton yang disebut Plengkung Nirbaya di Gading; kanan serta kirinya ditanami pohon Asem (Tamarindus indica) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi L.). Inilah penanda bagaimana membesarkan seorang bayi; yakni Asem yang dimaknai harus banyak Mesem (tersenyum) sebagai tanda syukur, sebab sungguh bayi itu amat Sengsem (mempesona). Tanjung bermakna bayi itu harus disanjung sembari menyanjung Penciptanya, suatu cara menumbuhkan berbagai potensinya kelak untuk bekal di usia dewasa.
Memasuki alun-alun selatan, ditandai dengan lima jalan yang berarti kesiapan seluruh panca-indra. Dua jalan utama diberi akses langsung ke dalam tanah lapang; pendengaran dan penglihatan yang terhubung hati-fikiran, semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai penandanya, ditanam pohon Asem yang daun mudanya disebut Sinom; karena sipating nom-noman (sifat orang muda) yang mulai memperhatikan penampilan.
Halaman berpasirnya menunjukkan betapa ia bisa ditulisi berbagai hal; belajar di usia emas menggoreskan bekas yang tak mudah hilang. Di tengah alun-alun ditanam pohon Wok, sepasang beringin dengan akar berjumbai. Yang satu berarti brewok (cambang dan jenggot), suatu tanda kedewasaan sekaligus sunnah Nabi untuk dipelihara. Yang satu lagi berarti rambut kemaluan, maka harus dikurung; baligh berarti tiba kewajiban untuk menutup ‘aurat dengan sempurna.
Sekeliling alun-alun itu dahulu dirimbuni pohon Pakel (Mangifera foetida L.), Pelem (Mangifera indica), dan Kweni (Mangifera odorata). Pakel sebagai wakil makna ‘Aqil, yakni tidak hanya baligh secara biologis tapi harus optimal dalam kedewasaan akal. Pelem artinya Gelem (mau); yakni bersedia melaksanakan tuntutan syari’at sebab dia sudah mukallaf. Dan Kweni artinya wani (berani); yaitu sanggup bertanggungjawab atas segala perbuatannya.
Beranjak ke utara terdapat Tratag menuju Sitihinggil, lambang bagi jenjang hidup yang dititi dan didaki oleh seorang manusia. Betapapun bentuknya berundak-undak memayahkan, sebagai lambang perjuangan hidup; di kanan dan kirinya ditanam pohon Gayam (Inocarpus fagiferus). Gayam bermakna ayem (tenang dan teduh), ketentraman akan turun ke dalam hati selama seorang hamba bersandar pada Allah dalam ikhtiyarnya.
Di Sitihinggil itu, ada Sela Gilang tempat singgasana Sultan diletakkan untuk menyaksikan berbagai gladi, latihan perang, persiapan grebeg, hingga rampogan (pertandingan ketangkasan manusia, kerbau, dan harimau). Sifatnya yang seremonial juga melambangkan pernikahan seorang hamba yang semarak di sela karirnya yang menanjak. Tanaman hias di sekelilingnya berupa Gayam, Soka (Saraca indica), dan Mangga Cempora. Sebaran bunga yang harum ditambah warna kembang merah merona dan putih melambangkah kehidupan asmara sang mempelai yang diharapkan penuh sakinah (gayam), mawaddah (soka), dan rahmah (cempora).
Di dalam Kraton, kehidupan sang hamba Allah sejak dari kehamilan istrinya, tergambar sebagai Kemandungan, kelahiran (Pamengkang), dan seterusnya dia menumbuhbesarkan anaknya diulang sebagai pralambang-pralambang yang lebih rinci daripada yang tergambar antara Panggung Krapyak hingga Sitihinggil Selatan. Tapi pilar dari kesemua itu adalah cinta Allah, cinta Rasulullah, dan cinta Al Quran; sebagaimana setiap tiang dalam bangunan-bangunan di Kraton selalu dipahatkan stilisasi kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Laam Mim Ra. Kita akan meloncatinya untuk langsung menuju bagian depan Kraton di utara melihat gambaran tentang Paraning Dumadi, tujuan hidup kita sebagai makhluq.
Bangsal Witana, gambaran dari wiwit ana, pemahaman hamba akan jiwanya sendiri sehingga dia mulai menyadari keberadaannya di dunia yang akan segera sirna menuju akhirat yang sejati dan abadi. Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara menunjukkan tempat untuk mangun (memperbaiki diri), dan anangkil (mendaki menuju Allah).
Ke depan tampak Tarub Agung, penanda taqarrub kepada Allah Yang Maha Agung dengan 4 pilar: syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Di paling depan, Bangsal Pagelaran berdiri megah penanda pager-aran; yang bermakna tak lagi pentingnya nama dan ketenaran dalam pengabdian yang ikhlas. Juga pagelaran dari kata “gilar” yang bermakna telah terang dan tampak luas jalannya.
Dengan demikian, sang hamba mencapai keheningan jiwa dan kelapangan dada seperti tergambar oleh Alun-alun Utara yang dikiblati oleh Masjid Gede Kauman di bagian barat. Di tengah ada beringin Dewandaru, penanda hubungan yang kokoh dengan Ilah sesembahan, dan beringin Janandaru, simbol hubungan yang kokoh dengan sesama manusia. Di sekeliling alun-alun, 64 pohon beringin menggambarkan usia Rasulullah dalam Qamariyah dibulatkan ke atas, senyampang 60 pilar di pagelaran menggambarkan usia Rasulullah dalam Syamsiyah dibulatkan ke bawah.
Keluar ke arah utara, terbentanglah jalan Marga Mulya, yang berarti jalan kemuliaan. Di jalan kemuliaan ini dibentangkan aneka goda dan ujian; akidah dengan Gereja Kidul Loji, rasa takut dengan Benteng Belanda Fort Vredeburg, kekuasaan asing dengan kediaman Residen Gedung Agung, harta dengan Pasar Beringharjo, karir politik dengan Kepatihan Danurejan, dan wanita dengan pasar Kembang.
Sebagai penyambung Marga Mulya; jalannya Malih Obora, yang berarti jadilah kamu obor pelita, siraajan muniira. Justru berbagai godaan itu harus menjadikan sang hamba sebagai Imamul Muttaqin, pemimpin orang bertaqwa yang menjadi suluh teladan bagi sesama. Hingga jika lulus ke ujung, sampailah sang hamba ke Marga Utama; jalan keutamaan yang kini membentang antara rel kereta api hingga Tugu. Inilah tibanya hamba pada saat kehambaan paripurna:
“Hingga apabila dia telah sampai pada usia dewasa dan sampai pada usia empat puluh, dia berdoa, 'Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Kau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk beramal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang yang berserah diri kepadaMu.'” (QS Al Ahqaaf [46]: 15)
Di ujung Marga Utama itulah dulu berdiri kokoh setinggi hampir dua kali lipat bangunan De Witt Paal yang sekarang; Tugu Golong Gilig. Sultan Hamengku Buwana I bila bertakhta di Sitihinggilnya dapat memandang lurus ke puncak tugu yang oleh beliau disebut sebagai Alif Mutakalliman Wahid ini. Di sinilah tegak Tauhid, kalimat suci yang diharapkan terucap di saat nyawa terrenggut, “Laa ilaaha illaLlaah.” Dialah kebulatan tekad (golong) dan juga ketegasan ‘aqidah (gilig). Dialah simbol persatuan raja dan rakyatnya; satu tekad, satu tujuan, untuk menegakkan kehambaan (‘Abdullah) dan pemakmuran bumi (Khalifatullah).
Inilah Krapyak hingga Tugu; poros tauhid di kota ini yang perlu disusuri untuk memahami hakikat kehidupan kita.
PRINSIP GEOMETRIS
Sesuai nama yang disandangnya, pendiri kota Yogyakarta disifati Hamangku (berkhidmat melayani), Hamengku (melindungi dengan kasih sayang sekaligus keadilan), serta Hamengkoni (siap bertanggungjawab atas amanah di pundaknya). Ketiga hal ini pula diwujudkan dalam tata kotanya, yakni kota yang melayani, melindungi, dan memenuhi tugasnya.
Adapun Hamemayu Hayuning Bawana yang menjadi semboyan Sang Sultan bermakna harfiah memperindah keindahan semesta. Hadirnya manusia, juga Kota Yogyakarta hendaknya menjadikan kian indahnya alam kehidupan, makin bermakna, dan bernilai tambah.
Kedua prinsip ini menjadi jiwa dari tata-letak geografis dan diwujudkan dalam hubungan-hubungan geometris yang teratur demi terwujudnya kesemua maksud pembangunan dan pengembangan kota.
“Dan bumi telah Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 48)
Yogyakarta berdiri di sebuah bentang medan yang datar dengan kisaran lereng hanya 3%, terletak di tengah jazirah Kewu-Mataram yang sejak lama menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan beberapa kerajaan. Pengapitnya berupa 3 sungai di barat (Progo, Bedog, Winongo) dan 3 sungai di timur (Code, Opak, Oya) yang menjamin ketersediaan air, menyalurkan air buangan, menjaganya dari banjir, dan sebagai garis pertahanan alami.
Di ufuk utara, tampak Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan dengan abu vulkanisnya, sementara bahaya letusan dan awan panasnya ke arah Kota Yogyakarta diperisai oleh bukit kembar; Turgo dan Pelawangan. Di arah selatan, Samudera Hindia yang membentang penuh dengan potensi besar namun bergempa; terbentengi tsunaminya oleh anak perbukitan kapur selatan dari arah Panggang hingga Pajangan.
Dengan alun-alun utara berpagar kayu yang sebelum digerogoti oleh pemukiman Belanda dan Tionghoa lebarnya mencapai 1200 meter, Kraton berdiri gagah di selatannya dipagari benteng baluwarti setinggi 4 meter yang kokoh dengan jagang, saluran air pertahanan selebar 3 meter dan bastion yang menjorok keluar di masing-masing sudutnya. Tebal tembok bagian atas mencapai 3 meter, cukup dilewati kereta Sultan, Kanjeng Nyai Jimat, yang sering diiring putra mahkota menunggang kuda berkeliling untuk menginspeksi. Padanya terdapat 5 pintu gerbang utama yang disebut Plengkung; Tarunasura, Madyasura, Jagasura, Jagabaya, serta Nirbaya.
Di sudut barat laut Keraton dibangun Tamansari yang secara lahiriah tampak sebagai sebuah arena pemandian dan pelesir sampan yang luas, dengan lorong-lorong yang rumit dan pengaturan air yang canggih. Kompleks indah ini semula terdiri atas 59 bangunan, termasuk Masjid, kolam-kolam pemandian, sumur gumuling, dan rangkaian 18 pertamanan beserta paviliunnya yang dikelilingi danau buatan. Dinamakan Segaran yang berarti laut tiruan, danau ini sering menjadi tempat Sultan Hamengkubuwana I menjamu tamu-tamunya di atas perahu, seperti dikisahkan Gubernur Noord-Oost Kust, Jan Greeve dalam kunjungannya pada tahun 1790.
Disebutkan bahwa apabila Keraton dalam keadaan terkepung, arus air dari Kali Winongo di Badran dan Kali Code di Gondolayu akan dibelokkan memasuki Keraton menjadikan kesemua bagiannya terendam menyisakan Pulo Kenongo dan Tajug di tengah Tamansari yang menjadi pusat pengaturan arus air, di mana di bawahnya terdapat lorong-lorong yang tembus hingga keluar Kraton untuk sarana meloloskan diri anggota keluarga kerajaan dan mennghimpun kembali kekuatan bersama rakyat.
Di luar Tembok Kraton, kompleks-kompleks prajurit secara geometris disusun menurut gelar perang tradisional yang sigap menghadapi bahaya. Di barat melingkar ke selatan; bermukim kesatuan Wirobraja, Patangpuluh, Ketanggung, Bugis, dan Daeng. Di sebelah selatan terdapat kompleks para-komando yang disebut Kumendaman, dengan dijajari oleh kesatuan Mantrijero, Jogokaryo, dan Prawiratama. Di timur melingkar ke utara; kesatuan Nyutra dan Surakarsa. Di sela-sela garnisun berbagai kesatuan perang ini, prajurit kanayakan ditempatkan; Penumping, Sitisewu, Gedongtengen, Gedongkiwa, Numbakanyar, dan Keparak.
Tepat sebelum peristiwa penyerbuan Inggris yang kami sebut dalam pengantar, Jan Izaak van Sevenhoven (1782-1841), pejabat tinggi Belanda yang suka berkelana mengunjungi kota ini pada awal 1812. “Di sepanjang jalan utama menuju Keraton”, kisahnya, “Terdapat pepohonan tinggi dan rindang dengan jajaran rumah tinggal para pangeran serta para pegawai Keraton yang tertata, sementara rumah-rumah penduduk biasa diatur rapi lebih menjorok sedikit ke belakang dari bahu jalan.”
Peter Carey dalam Kuasa Ramalan-nya menggarisbawahi, Yogyakarta di masa sebelum pertempuran 1812 yang dalam khazanah Jawa disebut Geger Sepoi itu memang tak tertandingi sebagai kota Jawa ber-bangunan tembok paling banyak dan tertata, dengan bata serta kapur putih yang dipasok dari daerah Gamping di barat lautnya.
Residen Yogyakarta dari pertengahan abad ke-19, A.H.W. Baron de Kock menambahkan tentangnya, “Masa itu, Yogya makmur, kaya, dan indah; negeri subur dan mujur; ibukota cantik dan asri; penuh dengan gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi, dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air melimpah. Kala itu, perniagaan, kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Jawa (Yogyakarta) amat bangga dengan kota kelahiran mereka.”
Alexander de Nelly, seorang di antara murid-murid Johannes Rach dari Denmark, berhasil mensketsa pemandangan Keraton Yogyakarta pada sekira tahun 1771, dari arah alun-alun utara. Tampak di sini dua lapis pagar kayu kokoh yang nantinya akan menjadi Gapura Gladhak dan Gapura Pangurakan. Di tengah panorama, pohon beringin kurung Dewandaru dan Janandaru ditingkahi oleh berbagai paviliun cilik yang apik. Sementara di latar belakang, Tratag Rambat yang tinggi sebagai cikal bakal Pagelaran menjulurkan tembok baluwarti yang kokoh ke arah kanan dan kiri.
Inilah struktur geometri kota yang melayani, melindungi, menunaikan tugas, dan menambahkan makna pada keindahan ciptaan Allah.
PRINSIP KONFIGURATIF
Dengan Kraton sebagai pralambang pemerintahan, Alun-alun sebagai pralambang rakyat, Masjid Gede sebagai pralambang keagamaan, dan Pasar sebagai pralambang perekonomian; unsur-unsur ini disebut sebagai Catur Sagatra yang berarti empat pilar kehidupan sebagai satu kesatuan. Ini memang pola umum tata-kota di Jawa, tetapi peletakannya di Yogyakarta agak istimewa.
Pasar, diletakkan agak menjauh dari tiga unsur lain yang menyatu. Seakan menunjukkan tidak bagusnya kondisi kong-kalikong antara penguasa dan pengusaha; jalan yang dilewati para niagawan itu untuk bertemu Sultan harus melalui alun-alun di mana rakyat mengawasi dan langkah-langkah merekapun tak lepas dari tatap seksama para ‘ulama yang ada di Masjid Agung.
Sebaliknya, kawasan Pekapalan, tempat para Bupati dari wilayah-wilayah jauh datang, menambat kuda, dan menginap sebelum menghadap Sultan; diletakkan dekat sekali dengan Masjid. Sebab di Masjid-lah seharusnya, para penguasa mudah dijumpai dan diajak mengingat Allah atas amanah berat di pundak mereka yang kelak akan dimintai tanggung-jawabnya oleh Allah. Di sekitar Masjid tinggal para Pengulu dan Abdi Dalem Suranata, yang arti harfiahnya adalah berani kepada Raja; berani untuk menyampaikan nasehat dan kalimat yang haq.
Masjid juga memiliki kedudukan tersendiri yang terorganisasi hingga ke berbagai penjuru. Selain Masjid Gede Kauman sebagai pusat, empat Masjid pancer didirikan oleh Sultan sebagai Patok Negara di keempat arah mata angin; Mlangi di Barat Laut, Dongkelan di Barat Daya, Babadan di Tenggara, dan Plosokuning di Timur Laut.
Selain menjadi pusat ibadah Islam, dengan para Imam yang melapor langsung pada Kyai Pengulu Ageng di Masjid Gede, Masjid-masjid Patok Negara ini menjadi tempat pendidikan bagi para santri, pusat syi’ar Islam, hingga pusat koordinasi pertahanan semesta dan ‘sertifikasi halal’. Para Modin desa dididik dan dilantik di sini, yang selain bertugas memimpin ibadah, sampai soal menyembelih hewan untuk konsumsi masyarakat pun hanya mereka yang berhak demi menjamin agar kehalalannya terjaga.
Masjid-masjid ini juga dibangun dengan berbagai unsur pralambang yang dimaksudkan untuk mendidik masyarakat secara terus-menerus. Memasuki halamannya orang akan melihat pohon Sawo (Manilkara zapota) berjajar, dimaksudkan untuk mengingatkan, “Sawwuu shufuufakum, luruskan shaff-shaff kalian.” Pagarnya dipuncaki ukiran buah Waluh (labu kuning), untuk membawa pada tauhid, “Wallah” dan “Qul huwallaahu Ahad.”
Memasuki ruang serambi, tempat di mana Mahkamah Syari’ah biasanya digelar tampak pintu Masjid diukiri gambar wajik. Ini untuk mengingatkan hakikat pengadilan akhirat yang lebih kuat. “Wajii-a yaumaidzin bijahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insaanu wa anna lahudz dzikraa.. Dan pada hari itu didatangkan jahannam. Pada hari itu manusia menjadi ingatlah manusia akan segala perbuatannya, tapi apalah guna ingat di saat terlambat itu.” (QS Al Fajr [89]: 23)
Di langit-langitnya yang indah, ukiran berbentuk buah nanas melambangkan Masjid sebagai tempat berlindung manusia dari segala was-was syaithan kepada Pencipta manusia, Penguasa manusia, dan Sesembahan manusia. Nanas menjadi penuntun membaca salah satu Surat Mu’awwidzatain, “Qul a’udzu bi Rabbinnaas, Malikinnaas, Ilahinnaas..”
Di serambi itu diukirkan sulur-sulur tetumbuhan yang disebut lung-lungan. Maknanya, bahwa segala tujuan ibadah hanyalah untuk Allah, menggapai ridhaNya, hingga lebih masyhur di langit daripada di bumi. “Akarnya kokoh menghunjam dan cecabangnya menggapai langit.” (QS Ibrahim [14]: 24). Pula ia bermakna tulung-tulungan, “Dan saling tolong menolonglah kalian di atas kebajikan dan taqwa.” (QS Al Maidah [5]: 2).
Di puncak Masjid, di atas atap tajuk bertumpang tiga, mustaka Masjid tak berbentuk kubah melainkan ukiran tumpuk daun Kluwih (Artocarpus camansi). Maknanya, segala kaluwihan (karunia, kebaikan, dan keutamaan) adalah milik dan dari Allah; “Qul innal fadhla biyadillah.. Katakanlah (hai Muhammad) bahwa karunia itu di tangan Allah, Dia berikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran [3]: 73)
Di jalan-jalan keluar Masjid biasanya tertanam pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki). Makna tersiratnya adalah sarwo becik, serba baik lagi penuh kebaikan seperti tertuntut dari orang yang menunaikan ibadah; ia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, menebar salam dan manfaat bagi sesamanya.
Keseluruhan konfigurasi tata-kota ini juga menjadi penyelaras bagi watak masyarakat yang diteladankan Sang Sultan; nyawiji (menyatu), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), dan ora mingkuh (berani bertanggungjawab).
Bagaimanapun juga; selamat mengunjungi Yogyakarta dan menelusuri hakikat kemanusiaan kita. Ahlan wa sahlan, dan bersiaplah untuk kangen.
BACAAN
![]() |
| Tugu Jogja yang di foto oleh Th. van de Burgt pada Desember 1948. Sumber: Het Nationaal Archief | gahetna.nl |
“Yogya itu ngangeni”, kata mereka yang pernah mengunjunginya. Alasannya tak satu dan tak baku. Setiap orang punya penjelasannya sendiri, karena kenangan itu menjerat hati, bukan isi kepala. Tapi ternyata bukan hanya kini, bahkan pengunjungnya di perempat abad kesembilan-belas menuliskan kesan ini:
“..Tapi Djocja (Yogyakarta) dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailles Jawa. Kini tak sampai sepersepuluhnya yang tinggal utuh, tapi (aslinya dulu) terlihat dari reruntuhan tembok yang besar-besar..”
-Willem von Hogendorp, 1828-
Ahli hukum lulusan Leiden Universiteit ini menyambanginya setelah 3 tahun Perang Diponegoro (1825-1830) berkecamuk. Kala itu, banyak pangeran telah menghancurkan kediaman-kediaman megah mereka di sekitar Kraton sebelum bergabung dengan barisan juang putra sulung Sultan Hamengkubuwana III itu. Pun karena beberapa pertempuran, bangunan-bangunan terbaik telah menjelma jadi reruntuhan.
Bahkan 16 tahun sebelumnya, pada Juni 1812, bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancur-leburkan Benteng Baluwarti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.
Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli yang bahkan melibatkan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, nyaris menghabiskan semua hal berharga dari Yogyakarta; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan Hamengkubuwana II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli.
Yogyakarta yang dilihat Von Hogendorp dalam tugasnya sebagai Ajudan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pada 1828, adalah sosok kalah dan lelah yang terluka parah, tapi pesonanya masih memukau. Sebab ia memang suatu Versailles Jawa dalam kejelitaannya, dan bahkan Madinah Jawa dalam nilai-nilainya. Madinah dari suatu tamadun yang madani, yang pada setiap sisi tata kotanya terjabarkan hakikat kemanusiaan, kehambaan, dan kebersamaan.
Yogya itu ngangeni, barangkali karena tata-kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang hakikat hidup kita.
Sultan Hamengkubuwana I, pendiri kota ini, agaknya telah menyeksamai dengan cermat penempatan kratonnya. Di samping faktor kesejarahan bahwa Kota Gede-Karta-Pleret; ibukota Kesultanan Mataram Islam yang didirikan leluhurnya berada di dekatnya; alasan filosofis, militer, geografis, dan sosiologis agaknya membuat beliau bersikukuh untuk memilih Alas Paberingan dan Umbul Pacethokan ini dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755.
Berbagai pihak hingga kini memperbincangkan keistimewaan tata-kota Yogyakarta pada mulanya, yang didasarkan pada falsafah hakikat manusia dari Sultan Hamengkubawana I yang dapat kita ringkas menjadi 3 prinsip yang dijiwai 5 nilai:
1. Prinsip Poros, dijiwai oleh “Sangkan Paraning Dumadi” Prinsip Geometris, dijiwai oleh
2. “Hamangku, Hamengku, Hamengkoni” dan “Hamemayu Hayuning Bawana”
3. Prinsip Konfiguratif, dijiwai oleh “Catur Sagatra” dan “Nyawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh”
PRINSIP POROS
Secara harfiah kalimat “Sangkan Paraning Dumadi” bermakna keinsyafan akan asal dan tujuan hidup sebagai makhluq. Dalam pembangunan Kota Yogyakarta, disusun sebuah poros lurus yang seakan meletakkan Kraton berada di pusat dengan Gunung Merapi di ujung utara dan Pantai Parangkusuma di titik selatan. Tetapi lebih dari itu, sejak Panggung Krapyak yang menandai batas selatan kota tua Yogyakarta hingga Keraton adalah pralambang sangkan, asal kehidupan. Adapun dari Kraton hingga Tugu Golong Gilig yang menjadi had utara menguraikan makna paran, tujuan hidup insan.
“Maka hendaklah insan memperhatikan dari mana ia diciptakan. Dia dicipta dari air yang dipancarkan.” (QS Ath Thariq [86]: 5-6)
Panggung Krapyak berujud bangunan persegi bertingkat sebagai perlambang rahim seorang ibu. Di lantai bawah, rusa-rusa dikandangkan. Pada kesempatan tertentu, Sultan dan para punggawa naik ke tingkat atas dengan membawa busurnya. Ketika pintu kandang rusa di bawah dibuka, rusa-rusa berlarian dan para pemanah itupun menembak mereka dengan jemparingnya. Inilah pralambang konsepsi, benih lelaki yang dibidikkan pada benih perempuan.
Maka kampung di sebelah selatan Panggung Krapyak dinamakan Mijen, yakni tumbuhnya manusia sebagai nutfah, ‘alaqah, dan mudghah, lalu Malaikat pun datang untuk meniupkan ruhnya serta menuliskan ajal, rizqi, ‘amal, serta apakah termasuk orang beruntung ataukah celaka. Lalu tumbuhnya sang janin berlanjut menyempurna. Kelahirannya ditandai dengan nama kampung di sebelah utara Panggung; Mijil.
Jalan yang menghubungkan antara Panggung Krapyak hingga ke gerbang selatan Baluwarti Kraton yang disebut Plengkung Nirbaya di Gading; kanan serta kirinya ditanami pohon Asem (Tamarindus indica) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi L.). Inilah penanda bagaimana membesarkan seorang bayi; yakni Asem yang dimaknai harus banyak Mesem (tersenyum) sebagai tanda syukur, sebab sungguh bayi itu amat Sengsem (mempesona). Tanjung bermakna bayi itu harus disanjung sembari menyanjung Penciptanya, suatu cara menumbuhkan berbagai potensinya kelak untuk bekal di usia dewasa.
Memasuki alun-alun selatan, ditandai dengan lima jalan yang berarti kesiapan seluruh panca-indra. Dua jalan utama diberi akses langsung ke dalam tanah lapang; pendengaran dan penglihatan yang terhubung hati-fikiran, semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagai penandanya, ditanam pohon Asem yang daun mudanya disebut Sinom; karena sipating nom-noman (sifat orang muda) yang mulai memperhatikan penampilan.
Halaman berpasirnya menunjukkan betapa ia bisa ditulisi berbagai hal; belajar di usia emas menggoreskan bekas yang tak mudah hilang. Di tengah alun-alun ditanam pohon Wok, sepasang beringin dengan akar berjumbai. Yang satu berarti brewok (cambang dan jenggot), suatu tanda kedewasaan sekaligus sunnah Nabi untuk dipelihara. Yang satu lagi berarti rambut kemaluan, maka harus dikurung; baligh berarti tiba kewajiban untuk menutup ‘aurat dengan sempurna.
Sekeliling alun-alun itu dahulu dirimbuni pohon Pakel (Mangifera foetida L.), Pelem (Mangifera indica), dan Kweni (Mangifera odorata). Pakel sebagai wakil makna ‘Aqil, yakni tidak hanya baligh secara biologis tapi harus optimal dalam kedewasaan akal. Pelem artinya Gelem (mau); yakni bersedia melaksanakan tuntutan syari’at sebab dia sudah mukallaf. Dan Kweni artinya wani (berani); yaitu sanggup bertanggungjawab atas segala perbuatannya.
Beranjak ke utara terdapat Tratag menuju Sitihinggil, lambang bagi jenjang hidup yang dititi dan didaki oleh seorang manusia. Betapapun bentuknya berundak-undak memayahkan, sebagai lambang perjuangan hidup; di kanan dan kirinya ditanam pohon Gayam (Inocarpus fagiferus). Gayam bermakna ayem (tenang dan teduh), ketentraman akan turun ke dalam hati selama seorang hamba bersandar pada Allah dalam ikhtiyarnya.
Di Sitihinggil itu, ada Sela Gilang tempat singgasana Sultan diletakkan untuk menyaksikan berbagai gladi, latihan perang, persiapan grebeg, hingga rampogan (pertandingan ketangkasan manusia, kerbau, dan harimau). Sifatnya yang seremonial juga melambangkan pernikahan seorang hamba yang semarak di sela karirnya yang menanjak. Tanaman hias di sekelilingnya berupa Gayam, Soka (Saraca indica), dan Mangga Cempora. Sebaran bunga yang harum ditambah warna kembang merah merona dan putih melambangkah kehidupan asmara sang mempelai yang diharapkan penuh sakinah (gayam), mawaddah (soka), dan rahmah (cempora).
Di dalam Kraton, kehidupan sang hamba Allah sejak dari kehamilan istrinya, tergambar sebagai Kemandungan, kelahiran (Pamengkang), dan seterusnya dia menumbuhbesarkan anaknya diulang sebagai pralambang-pralambang yang lebih rinci daripada yang tergambar antara Panggung Krapyak hingga Sitihinggil Selatan. Tapi pilar dari kesemua itu adalah cinta Allah, cinta Rasulullah, dan cinta Al Quran; sebagaimana setiap tiang dalam bangunan-bangunan di Kraton selalu dipahatkan stilisasi kaligrafi Allah, Muhammad, dan Alif Laam Mim Ra. Kita akan meloncatinya untuk langsung menuju bagian depan Kraton di utara melihat gambaran tentang Paraning Dumadi, tujuan hidup kita sebagai makhluq.
Bangsal Witana, gambaran dari wiwit ana, pemahaman hamba akan jiwanya sendiri sehingga dia mulai menyadari keberadaannya di dunia yang akan segera sirna menuju akhirat yang sejati dan abadi. Bangsal Manguntur Tangkil di Sitihinggil Utara menunjukkan tempat untuk mangun (memperbaiki diri), dan anangkil (mendaki menuju Allah).
Ke depan tampak Tarub Agung, penanda taqarrub kepada Allah Yang Maha Agung dengan 4 pilar: syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Di paling depan, Bangsal Pagelaran berdiri megah penanda pager-aran; yang bermakna tak lagi pentingnya nama dan ketenaran dalam pengabdian yang ikhlas. Juga pagelaran dari kata “gilar” yang bermakna telah terang dan tampak luas jalannya.
Dengan demikian, sang hamba mencapai keheningan jiwa dan kelapangan dada seperti tergambar oleh Alun-alun Utara yang dikiblati oleh Masjid Gede Kauman di bagian barat. Di tengah ada beringin Dewandaru, penanda hubungan yang kokoh dengan Ilah sesembahan, dan beringin Janandaru, simbol hubungan yang kokoh dengan sesama manusia. Di sekeliling alun-alun, 64 pohon beringin menggambarkan usia Rasulullah dalam Qamariyah dibulatkan ke atas, senyampang 60 pilar di pagelaran menggambarkan usia Rasulullah dalam Syamsiyah dibulatkan ke bawah.
Keluar ke arah utara, terbentanglah jalan Marga Mulya, yang berarti jalan kemuliaan. Di jalan kemuliaan ini dibentangkan aneka goda dan ujian; akidah dengan Gereja Kidul Loji, rasa takut dengan Benteng Belanda Fort Vredeburg, kekuasaan asing dengan kediaman Residen Gedung Agung, harta dengan Pasar Beringharjo, karir politik dengan Kepatihan Danurejan, dan wanita dengan pasar Kembang.
Sebagai penyambung Marga Mulya; jalannya Malih Obora, yang berarti jadilah kamu obor pelita, siraajan muniira. Justru berbagai godaan itu harus menjadikan sang hamba sebagai Imamul Muttaqin, pemimpin orang bertaqwa yang menjadi suluh teladan bagi sesama. Hingga jika lulus ke ujung, sampailah sang hamba ke Marga Utama; jalan keutamaan yang kini membentang antara rel kereta api hingga Tugu. Inilah tibanya hamba pada saat kehambaan paripurna:
“Hingga apabila dia telah sampai pada usia dewasa dan sampai pada usia empat puluh, dia berdoa, 'Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Kau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk beramal shalih yang Engkau ridhai, dan perbaikilah untukku keturunanku. Sungguh aku bertaubat kepadaMu, dan sungguh aku termasuk orang yang berserah diri kepadaMu.'” (QS Al Ahqaaf [46]: 15)
Di ujung Marga Utama itulah dulu berdiri kokoh setinggi hampir dua kali lipat bangunan De Witt Paal yang sekarang; Tugu Golong Gilig. Sultan Hamengku Buwana I bila bertakhta di Sitihinggilnya dapat memandang lurus ke puncak tugu yang oleh beliau disebut sebagai Alif Mutakalliman Wahid ini. Di sinilah tegak Tauhid, kalimat suci yang diharapkan terucap di saat nyawa terrenggut, “Laa ilaaha illaLlaah.” Dialah kebulatan tekad (golong) dan juga ketegasan ‘aqidah (gilig). Dialah simbol persatuan raja dan rakyatnya; satu tekad, satu tujuan, untuk menegakkan kehambaan (‘Abdullah) dan pemakmuran bumi (Khalifatullah).
Inilah Krapyak hingga Tugu; poros tauhid di kota ini yang perlu disusuri untuk memahami hakikat kehidupan kita.
PRINSIP GEOMETRIS
Sesuai nama yang disandangnya, pendiri kota Yogyakarta disifati Hamangku (berkhidmat melayani), Hamengku (melindungi dengan kasih sayang sekaligus keadilan), serta Hamengkoni (siap bertanggungjawab atas amanah di pundaknya). Ketiga hal ini pula diwujudkan dalam tata kotanya, yakni kota yang melayani, melindungi, dan memenuhi tugasnya.
Adapun Hamemayu Hayuning Bawana yang menjadi semboyan Sang Sultan bermakna harfiah memperindah keindahan semesta. Hadirnya manusia, juga Kota Yogyakarta hendaknya menjadikan kian indahnya alam kehidupan, makin bermakna, dan bernilai tambah.
Kedua prinsip ini menjadi jiwa dari tata-letak geografis dan diwujudkan dalam hubungan-hubungan geometris yang teratur demi terwujudnya kesemua maksud pembangunan dan pengembangan kota.
“Dan bumi telah Kami hamparkan, maka (Kami) sebaik-baik yang menghamparkan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 48)
Yogyakarta berdiri di sebuah bentang medan yang datar dengan kisaran lereng hanya 3%, terletak di tengah jazirah Kewu-Mataram yang sejak lama menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan beberapa kerajaan. Pengapitnya berupa 3 sungai di barat (Progo, Bedog, Winongo) dan 3 sungai di timur (Code, Opak, Oya) yang menjamin ketersediaan air, menyalurkan air buangan, menjaganya dari banjir, dan sebagai garis pertahanan alami.
Di ufuk utara, tampak Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan dengan abu vulkanisnya, sementara bahaya letusan dan awan panasnya ke arah Kota Yogyakarta diperisai oleh bukit kembar; Turgo dan Pelawangan. Di arah selatan, Samudera Hindia yang membentang penuh dengan potensi besar namun bergempa; terbentengi tsunaminya oleh anak perbukitan kapur selatan dari arah Panggang hingga Pajangan.
Dengan alun-alun utara berpagar kayu yang sebelum digerogoti oleh pemukiman Belanda dan Tionghoa lebarnya mencapai 1200 meter, Kraton berdiri gagah di selatannya dipagari benteng baluwarti setinggi 4 meter yang kokoh dengan jagang, saluran air pertahanan selebar 3 meter dan bastion yang menjorok keluar di masing-masing sudutnya. Tebal tembok bagian atas mencapai 3 meter, cukup dilewati kereta Sultan, Kanjeng Nyai Jimat, yang sering diiring putra mahkota menunggang kuda berkeliling untuk menginspeksi. Padanya terdapat 5 pintu gerbang utama yang disebut Plengkung; Tarunasura, Madyasura, Jagasura, Jagabaya, serta Nirbaya.
Di sudut barat laut Keraton dibangun Tamansari yang secara lahiriah tampak sebagai sebuah arena pemandian dan pelesir sampan yang luas, dengan lorong-lorong yang rumit dan pengaturan air yang canggih. Kompleks indah ini semula terdiri atas 59 bangunan, termasuk Masjid, kolam-kolam pemandian, sumur gumuling, dan rangkaian 18 pertamanan beserta paviliunnya yang dikelilingi danau buatan. Dinamakan Segaran yang berarti laut tiruan, danau ini sering menjadi tempat Sultan Hamengkubuwana I menjamu tamu-tamunya di atas perahu, seperti dikisahkan Gubernur Noord-Oost Kust, Jan Greeve dalam kunjungannya pada tahun 1790.
Disebutkan bahwa apabila Keraton dalam keadaan terkepung, arus air dari Kali Winongo di Badran dan Kali Code di Gondolayu akan dibelokkan memasuki Keraton menjadikan kesemua bagiannya terendam menyisakan Pulo Kenongo dan Tajug di tengah Tamansari yang menjadi pusat pengaturan arus air, di mana di bawahnya terdapat lorong-lorong yang tembus hingga keluar Kraton untuk sarana meloloskan diri anggota keluarga kerajaan dan mennghimpun kembali kekuatan bersama rakyat.
Di luar Tembok Kraton, kompleks-kompleks prajurit secara geometris disusun menurut gelar perang tradisional yang sigap menghadapi bahaya. Di barat melingkar ke selatan; bermukim kesatuan Wirobraja, Patangpuluh, Ketanggung, Bugis, dan Daeng. Di sebelah selatan terdapat kompleks para-komando yang disebut Kumendaman, dengan dijajari oleh kesatuan Mantrijero, Jogokaryo, dan Prawiratama. Di timur melingkar ke utara; kesatuan Nyutra dan Surakarsa. Di sela-sela garnisun berbagai kesatuan perang ini, prajurit kanayakan ditempatkan; Penumping, Sitisewu, Gedongtengen, Gedongkiwa, Numbakanyar, dan Keparak.
Tepat sebelum peristiwa penyerbuan Inggris yang kami sebut dalam pengantar, Jan Izaak van Sevenhoven (1782-1841), pejabat tinggi Belanda yang suka berkelana mengunjungi kota ini pada awal 1812. “Di sepanjang jalan utama menuju Keraton”, kisahnya, “Terdapat pepohonan tinggi dan rindang dengan jajaran rumah tinggal para pangeran serta para pegawai Keraton yang tertata, sementara rumah-rumah penduduk biasa diatur rapi lebih menjorok sedikit ke belakang dari bahu jalan.”
Peter Carey dalam Kuasa Ramalan-nya menggarisbawahi, Yogyakarta di masa sebelum pertempuran 1812 yang dalam khazanah Jawa disebut Geger Sepoi itu memang tak tertandingi sebagai kota Jawa ber-bangunan tembok paling banyak dan tertata, dengan bata serta kapur putih yang dipasok dari daerah Gamping di barat lautnya.
Residen Yogyakarta dari pertengahan abad ke-19, A.H.W. Baron de Kock menambahkan tentangnya, “Masa itu, Yogya makmur, kaya, dan indah; negeri subur dan mujur; ibukota cantik dan asri; penuh dengan gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi, dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air melimpah. Kala itu, perniagaan, kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Jawa (Yogyakarta) amat bangga dengan kota kelahiran mereka.”
Alexander de Nelly, seorang di antara murid-murid Johannes Rach dari Denmark, berhasil mensketsa pemandangan Keraton Yogyakarta pada sekira tahun 1771, dari arah alun-alun utara. Tampak di sini dua lapis pagar kayu kokoh yang nantinya akan menjadi Gapura Gladhak dan Gapura Pangurakan. Di tengah panorama, pohon beringin kurung Dewandaru dan Janandaru ditingkahi oleh berbagai paviliun cilik yang apik. Sementara di latar belakang, Tratag Rambat yang tinggi sebagai cikal bakal Pagelaran menjulurkan tembok baluwarti yang kokoh ke arah kanan dan kiri.
Inilah struktur geometri kota yang melayani, melindungi, menunaikan tugas, dan menambahkan makna pada keindahan ciptaan Allah.
PRINSIP KONFIGURATIF
Dengan Kraton sebagai pralambang pemerintahan, Alun-alun sebagai pralambang rakyat, Masjid Gede sebagai pralambang keagamaan, dan Pasar sebagai pralambang perekonomian; unsur-unsur ini disebut sebagai Catur Sagatra yang berarti empat pilar kehidupan sebagai satu kesatuan. Ini memang pola umum tata-kota di Jawa, tetapi peletakannya di Yogyakarta agak istimewa.
Pasar, diletakkan agak menjauh dari tiga unsur lain yang menyatu. Seakan menunjukkan tidak bagusnya kondisi kong-kalikong antara penguasa dan pengusaha; jalan yang dilewati para niagawan itu untuk bertemu Sultan harus melalui alun-alun di mana rakyat mengawasi dan langkah-langkah merekapun tak lepas dari tatap seksama para ‘ulama yang ada di Masjid Agung.
Sebaliknya, kawasan Pekapalan, tempat para Bupati dari wilayah-wilayah jauh datang, menambat kuda, dan menginap sebelum menghadap Sultan; diletakkan dekat sekali dengan Masjid. Sebab di Masjid-lah seharusnya, para penguasa mudah dijumpai dan diajak mengingat Allah atas amanah berat di pundak mereka yang kelak akan dimintai tanggung-jawabnya oleh Allah. Di sekitar Masjid tinggal para Pengulu dan Abdi Dalem Suranata, yang arti harfiahnya adalah berani kepada Raja; berani untuk menyampaikan nasehat dan kalimat yang haq.
Masjid juga memiliki kedudukan tersendiri yang terorganisasi hingga ke berbagai penjuru. Selain Masjid Gede Kauman sebagai pusat, empat Masjid pancer didirikan oleh Sultan sebagai Patok Negara di keempat arah mata angin; Mlangi di Barat Laut, Dongkelan di Barat Daya, Babadan di Tenggara, dan Plosokuning di Timur Laut.
Selain menjadi pusat ibadah Islam, dengan para Imam yang melapor langsung pada Kyai Pengulu Ageng di Masjid Gede, Masjid-masjid Patok Negara ini menjadi tempat pendidikan bagi para santri, pusat syi’ar Islam, hingga pusat koordinasi pertahanan semesta dan ‘sertifikasi halal’. Para Modin desa dididik dan dilantik di sini, yang selain bertugas memimpin ibadah, sampai soal menyembelih hewan untuk konsumsi masyarakat pun hanya mereka yang berhak demi menjamin agar kehalalannya terjaga.
Masjid-masjid ini juga dibangun dengan berbagai unsur pralambang yang dimaksudkan untuk mendidik masyarakat secara terus-menerus. Memasuki halamannya orang akan melihat pohon Sawo (Manilkara zapota) berjajar, dimaksudkan untuk mengingatkan, “Sawwuu shufuufakum, luruskan shaff-shaff kalian.” Pagarnya dipuncaki ukiran buah Waluh (labu kuning), untuk membawa pada tauhid, “Wallah” dan “Qul huwallaahu Ahad.”
Memasuki ruang serambi, tempat di mana Mahkamah Syari’ah biasanya digelar tampak pintu Masjid diukiri gambar wajik. Ini untuk mengingatkan hakikat pengadilan akhirat yang lebih kuat. “Wajii-a yaumaidzin bijahannam, yaumaidzin yatadzakkarul insaanu wa anna lahudz dzikraa.. Dan pada hari itu didatangkan jahannam. Pada hari itu manusia menjadi ingatlah manusia akan segala perbuatannya, tapi apalah guna ingat di saat terlambat itu.” (QS Al Fajr [89]: 23)
Di langit-langitnya yang indah, ukiran berbentuk buah nanas melambangkan Masjid sebagai tempat berlindung manusia dari segala was-was syaithan kepada Pencipta manusia, Penguasa manusia, dan Sesembahan manusia. Nanas menjadi penuntun membaca salah satu Surat Mu’awwidzatain, “Qul a’udzu bi Rabbinnaas, Malikinnaas, Ilahinnaas..”
Di serambi itu diukirkan sulur-sulur tetumbuhan yang disebut lung-lungan. Maknanya, bahwa segala tujuan ibadah hanyalah untuk Allah, menggapai ridhaNya, hingga lebih masyhur di langit daripada di bumi. “Akarnya kokoh menghunjam dan cecabangnya menggapai langit.” (QS Ibrahim [14]: 24). Pula ia bermakna tulung-tulungan, “Dan saling tolong menolonglah kalian di atas kebajikan dan taqwa.” (QS Al Maidah [5]: 2).
Di puncak Masjid, di atas atap tajuk bertumpang tiga, mustaka Masjid tak berbentuk kubah melainkan ukiran tumpuk daun Kluwih (Artocarpus camansi). Maknanya, segala kaluwihan (karunia, kebaikan, dan keutamaan) adalah milik dan dari Allah; “Qul innal fadhla biyadillah.. Katakanlah (hai Muhammad) bahwa karunia itu di tangan Allah, Dia berikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas KaruniaNya lagi Maha Mengetahui.” (QS Ali ‘Imran [3]: 73)
Di jalan-jalan keluar Masjid biasanya tertanam pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki). Makna tersiratnya adalah sarwo becik, serba baik lagi penuh kebaikan seperti tertuntut dari orang yang menunaikan ibadah; ia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, menebar salam dan manfaat bagi sesamanya.
Keseluruhan konfigurasi tata-kota ini juga menjadi penyelaras bagi watak masyarakat yang diteladankan Sang Sultan; nyawiji (menyatu), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), dan ora mingkuh (berani bertanggungjawab).
Bagaimanapun juga; selamat mengunjungi Yogyakarta dan menelusuri hakikat kemanusiaan kita. Ahlan wa sahlan, dan bersiaplah untuk kangen.
BACAAN
- Brotodiningrat, KPH. 1978. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta
- Carey, Peter B.R., 2011. Kuasa Ramalan Jilid 1. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
- Depdikbud. 1995. Makna Simbolik Tumbuh-Tumbuhan dan Bangunan Kraton, Suatu Kajian Terhadap Serat Salokapatra. Jakarta: Depdikbud.
- Ki Sabdacarakatama. 2009. Sejarah Keraton Yogyakarta. Yogyakarta: Narasi
- Ricklefs, Merle C. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
- Ricklefs, Merle C. 2015. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792. Yogyakarta: Matabangsa
- Soekanto, Dr. 1952. Sekitar Yogyakarta 1755-1825. Jakarta: Penerbit Mahabrata
- Suryanto, dkk. 2015. Aspek Budaya Dalam Keistimewaan Tata Ruang Kota Yogyakarta. ITB: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 26
Oleh Ridwan Hd
Soedirman pernah berpesan saat acara pengajian Pemuda Muhammadiyah di Rawalo, Banyumas, jelang akhir 1930an, “Ada dua pilihan penting dalam kehidupan yang kita jalani saat ini,” ucapnya. Ustadz muda itu melanjutkan perkataannya, “Yang pertama `isy kariiman yakni hidup mulia dan yang kedua mut syahiidan yakni mati syahid. Kalian memilih yang mana?”
“Kalau memilih isy kariiman bagaimana syaratnya?” tanya Hardjomartono salah seorang peserta.
“Kamu harus selalu beribadah dan berjuang untuk agama Islam,” jawab Soedirman.
“Bagaimana kalau pilih mut syahiidan? tanya Hardjomartono lagi.
“Kamu harus berjuang melawan setiap bentuk kebatilan dan berjuang untuk memajukan Islam,” jawab Soedirman kemudian.
Hardjomartono kembali menegaskan dengan pertanyaan, “Jadi semua harus berjuang?”
Dengan tersenyum Soedirman menjelaskan, “Kedua pilihan itu seimbang. Kita akan mendapatkan semua kalau mau, sebab seseorang akan mendapatkan kemuliaan tentu harus berlaku sesuai dengan ajaran dan berjuang di jalan Islam.”
“Salah satu musuh penghalang saat ini adalah penjajahan. Karena itu agar pemuda mendapat kemuliaan maka harus bersiap untuk berjuang, siap syahid untuk mendapatkan kemerdekaan. Para pemuda, apalagi pemuda Muhammadiyah dan anggota HW (Hizboel Wathan), harus berani untuk jihad fisabillilah,” pesan Soedirman seperti yang ditulis Sadirman dalam buku Guru Bangsa Sebuah Biografi Jenderal Sudirman dari hasil wawancara dengan Hardjomartono pada 1997.
Pada 1943, Jepang menunjuk Soedirman menjadi Daidancho (Komandan Batalyon) Pembela Tanah Air (PETA) karena ketokohannya di masyarakat Banyumas. Mengikuti PETA kesempatan mendapat pelatihan militer di Bogor selama tiga bulan demi turut serta berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan. Namun di sisi lain, ia tak rela meninggalkan rakyat Banyumas yang selama ini ia bina. Ia dihadapkan dua pilihan yang sama-sama berjuang di jalan Allah. Setelah melakukan shalat malam dan istikharah, pilihannya bulat menerima masuk menjadi anggota PETA. Benar saja, Allah Ta`ala memberikan jalan mulia pada pilihan ini.
Pada Konfrensi Besar Tentara Keamaan Rakyat (TKR) 12 November 1945, Soedirman berhasil terpilih menjadi Panglima Tertinggi TKR melalui pemungutan suara. Soedirman berhasil mengalahkan Oerip Soemohardjo, perwira KNIL yang lebih berpengalaman. Para pasukan bersenjata itu memilihnya karena melihat kewibawaan dan terkenal sebagai sosok muslim yang taat dari pada Oerip Soemohardjo mantan prajurit Hindia Belanda.
Keputusan memilih dua pilihan setelah shalat istikharah malam itu akhirnya berujung jabatan Jenderal Soedirman ketika TKR berubah menjadi TNI. Jihad fisabilillah menjadi landasannya saat memimpin TNI.
![]() |
| Jenderal Soedirma di Stasiun Manggarai Jakarta pada 11 November 1945. Sumber: Het Nationaal Archief - gahetna.nl |
Soedirman pernah berpesan saat acara pengajian Pemuda Muhammadiyah di Rawalo, Banyumas, jelang akhir 1930an, “Ada dua pilihan penting dalam kehidupan yang kita jalani saat ini,” ucapnya. Ustadz muda itu melanjutkan perkataannya, “Yang pertama `isy kariiman yakni hidup mulia dan yang kedua mut syahiidan yakni mati syahid. Kalian memilih yang mana?”
“Kalau memilih isy kariiman bagaimana syaratnya?” tanya Hardjomartono salah seorang peserta.
“Kamu harus selalu beribadah dan berjuang untuk agama Islam,” jawab Soedirman.
“Bagaimana kalau pilih mut syahiidan? tanya Hardjomartono lagi.
“Kamu harus berjuang melawan setiap bentuk kebatilan dan berjuang untuk memajukan Islam,” jawab Soedirman kemudian.
Hardjomartono kembali menegaskan dengan pertanyaan, “Jadi semua harus berjuang?”
Dengan tersenyum Soedirman menjelaskan, “Kedua pilihan itu seimbang. Kita akan mendapatkan semua kalau mau, sebab seseorang akan mendapatkan kemuliaan tentu harus berlaku sesuai dengan ajaran dan berjuang di jalan Islam.”
“Salah satu musuh penghalang saat ini adalah penjajahan. Karena itu agar pemuda mendapat kemuliaan maka harus bersiap untuk berjuang, siap syahid untuk mendapatkan kemerdekaan. Para pemuda, apalagi pemuda Muhammadiyah dan anggota HW (Hizboel Wathan), harus berani untuk jihad fisabillilah,” pesan Soedirman seperti yang ditulis Sadirman dalam buku Guru Bangsa Sebuah Biografi Jenderal Sudirman dari hasil wawancara dengan Hardjomartono pada 1997.
Pada 1943, Jepang menunjuk Soedirman menjadi Daidancho (Komandan Batalyon) Pembela Tanah Air (PETA) karena ketokohannya di masyarakat Banyumas. Mengikuti PETA kesempatan mendapat pelatihan militer di Bogor selama tiga bulan demi turut serta berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan. Namun di sisi lain, ia tak rela meninggalkan rakyat Banyumas yang selama ini ia bina. Ia dihadapkan dua pilihan yang sama-sama berjuang di jalan Allah. Setelah melakukan shalat malam dan istikharah, pilihannya bulat menerima masuk menjadi anggota PETA. Benar saja, Allah Ta`ala memberikan jalan mulia pada pilihan ini.
Pada Konfrensi Besar Tentara Keamaan Rakyat (TKR) 12 November 1945, Soedirman berhasil terpilih menjadi Panglima Tertinggi TKR melalui pemungutan suara. Soedirman berhasil mengalahkan Oerip Soemohardjo, perwira KNIL yang lebih berpengalaman. Para pasukan bersenjata itu memilihnya karena melihat kewibawaan dan terkenal sebagai sosok muslim yang taat dari pada Oerip Soemohardjo mantan prajurit Hindia Belanda.
Keputusan memilih dua pilihan setelah shalat istikharah malam itu akhirnya berujung jabatan Jenderal Soedirman ketika TKR berubah menjadi TNI. Jihad fisabilillah menjadi landasannya saat memimpin TNI.
Oleh Ridwan Hd
Susu kental manis dengan sebutan Susu Bendera bukan barang asing bagi kita. Ditelisik dari sejarahnya, susu ini sudah berada di tanah air sejak masa Hindia Belanda. Tepatnya pada 1922, merek susu kental manis yang berasal dari Netherlands bernama Friesche Vlag masuk ke pasar Batavia (Jakarta saat ini).
Awalnya, para peternak susu di negeri Belanda mengadakan kongsi (berkoperasi) untuk mencari cara meningkatkan kekuatan pasar dengan menjaga kualitas susu. Semakin panjang arus distribusi semakin lama juga waktu yang diperlukan agar produk susu bertahan lebih lama. Pada saat itu belum ada mesin pendingin. Pada 1913, beberapa kongsi peternakan itu mendirikan pengolahan susu bernama De Cooperatieve Condensfabriek Friesland (CCF) atau Pabrik Susu Kental Manis Friesland. Pabrik ini memproduksi susu dengan metode penguapan sehingga menjadi kental. Tujuannya agar susu menjadi awet ketika menjalani proses distribusi yang panjang. Pada saat itu juga, susuk hasil peternak Belanda di distribusiatau di ekspor ke seluruh negara Eropa.
Ketika susu kental ini masuk ke tanah air, mereka memberikan sebutan "Soesoe Tjap Bendera" agar bisa diterima oleh masyarakat. Sejak saat itu, Susu Bendera sudah menjadi konsumsi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan keterangan dari frisianflag.com, gambar ini adalah restoran anak-anak untuk produk susu tersebut yang tercatat pada 1935.
Susu kental manis dengan sebutan Susu Bendera bukan barang asing bagi kita. Ditelisik dari sejarahnya, susu ini sudah berada di tanah air sejak masa Hindia Belanda. Tepatnya pada 1922, merek susu kental manis yang berasal dari Netherlands bernama Friesche Vlag masuk ke pasar Batavia (Jakarta saat ini).
Awalnya, para peternak susu di negeri Belanda mengadakan kongsi (berkoperasi) untuk mencari cara meningkatkan kekuatan pasar dengan menjaga kualitas susu. Semakin panjang arus distribusi semakin lama juga waktu yang diperlukan agar produk susu bertahan lebih lama. Pada saat itu belum ada mesin pendingin. Pada 1913, beberapa kongsi peternakan itu mendirikan pengolahan susu bernama De Cooperatieve Condensfabriek Friesland (CCF) atau Pabrik Susu Kental Manis Friesland. Pabrik ini memproduksi susu dengan metode penguapan sehingga menjadi kental. Tujuannya agar susu menjadi awet ketika menjalani proses distribusi yang panjang. Pada saat itu juga, susuk hasil peternak Belanda di distribusiatau di ekspor ke seluruh negara Eropa.
Ketika susu kental ini masuk ke tanah air, mereka memberikan sebutan "Soesoe Tjap Bendera" agar bisa diterima oleh masyarakat. Sejak saat itu, Susu Bendera sudah menjadi konsumsi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan keterangan dari frisianflag.com, gambar ini adalah restoran anak-anak untuk produk susu tersebut yang tercatat pada 1935.
Dari Wikipedia
Pada abad ke-19, kekuatan-kekuatan besar Eropa berupaya keras mempertahankan keseimbangan kekuatan di seluruh Eropa, sehingga pada tahun 1900 memunculkan jaringan aliansi politik dan militer yang kompleks di benua ini. Berawal tahun 1815 dengan Aliansi Suci antara Prusia, Rusia, dan Austria. Kemudian, pada Oktober 1873, Kanselir Jerman Otto von Bismarck menegosiasikan Liga Tiga Kaisar (Jerman: Dreikaiserbund) antara monarki Austria-Hongaria, Rusia, dan Jerman. Perjanjian ini gagal karena Austria-Hongaria dan Rusia tidak sepakat mengenai kebijakan Balkan, sehingga meninggalkan Jerman dan Austria-Hongaria dalam satu aliansi yang dibentuk tahun 1879 bernama Aliansi Dua. Hal ini dipandang sebagai metode melawan pengaruh Rusia di Balkan saat Kesultanan Utsmaniyah terus melemah. Pada tahun 1882, aliansi ini meluas hingga Italia dan menjadi Aliansi Tiga.
Setelah 1870, konflik Eropa terhindar melalui jaringan perjanjian yang direncanakan secara hati-hati antara Kekaisaran Jerman dan seluruh Eropa yang dirancang oleh Bismarck. Ia berupaya menahan Rusia agar tetap di pihak Jerman untuk menghindari perang dua front dengan Perancis dan Rusia. Ketika Wilhelm II naik tahta sebagai Kaisar Jerman (Kaiser), Bismarck terpaksa pensiun dan sistem aliansinya perlahan dihapus. Misalnya, Kaiser menolak memperbarui Perjanjian Reasuransi dengan Rusia pada tahun 1890. Dua tahun kemudian, Aliansi Perancis-Rusia ditandatangani untuk melawan kekuatan Aliansi Tiga. Pada tahun 1904, Britania Raya menandatangani serangkaian perjanjian dengan Perancis, Entente Cordiale, dan pada 1907, Britania Raya dan Rusia menandatangani Konvensi Inggris-Rusia. Meski perjanjian ini secara formal tidak menyekutukan Britania Raya dengan Perancis atau Rusia, mereka memungkinkan Britania masuk konflik manapun yang kelak melibatkan Perancis dan Rusia, dan sistem penguncian perjanjian bilateral ini kemudian dikenal sebagai Entente Tiga.
Kekuatan industri dan ekonomi Jerman tumbuh pesat setelah penyatuan dan pendirian Kekaisaran pada tahun 1871. Sejak pertengahan 1890-an sampai seterusnya, pemerintahan Wilhelm II memakai basis industri ini untuk memanfaatkan sumber daya ekonomi dalam jumlah besar untuk membangun Kaiserliche Marine (Angkatan Laut Kekaisaran Jerman), yang dibentuk oleh Laksamana Alfred von Tirpitz, untuk menyaingi Angkatan Laut Kerajaan Britania Raya untuk supremasi laut dunia. Hasilnya, setiap negara berusaha mengalahkan negara lain dalam hal kapal modal. Dengan peluncuran HMS Dreadnought tahun 1906, Imperium Britania memperluas keunggulannya terhadap pesaingnya, Jerman. Perlombaan senjata antara Britania dan Jerman akhirnya meluas ke seluruh Eropa, dengan semua kekuatan besar memanfaatkan basis industri mereka untuk memproduksi perlengkapan dan senjata yang diperlukan untuk konflik pan-Eropa. Antara 1908 dan 1913, belanja militer kekuatan-kekuatan Eropa meningkat sebesar 50 persen.
Austria-Hongaria mengawali krisis Bosnia 1908–1909 dengan menganeksasi secara resmi bekas teritori Utsmaniyah di Bosnia dan Herzegovina, yang telah diduduki sejak 1878. Peristiwa ini membuat Kerajaan Serbia dan pelindungnya, Kekaisaran Rusia yang Pan-Slavik dan Ortodoks berang. Manuver politik Rusia di kawasan ini mendestabilisasi perjanjian damai yang sudah memecah belah apa yang disebut sebagai "tong mesiu Eropa".
Tahun 1912 dan 1913, Perang Balkan Pertama pecah antara Liga Balkan dan Kesultanan Utsmaniyah yang sedang retak. Perjanjian London setelah itu mengurangi luas Kesultanan Utsmaniyah dan menciptakan negara merdeka Albania, tetapi memperbesar teritori Bulgaria, Serbia, Montenegro, dan Yunani. Ketika Bulgaria menyerbu Serbia dan Yunani pada tanggal 16 Juni 1913, negara ini kehilangan sebagian besar Makedonia ke Serbia dan Yunani dan Dobruja Selatan ke Rumania dalam Perang Balkan Kedua selama 33 hari, sehingga destabilisasi di wilayah ini semakin menjadi-jadi.
Pada tanggal 28 Juni 1914, Gavrilo Princip, seorang pelajar Serbia Bosnia dan anggota Pemuda Bosnia, membunuh pewaris tahta Austria-Hongaria, Adipati Agung Franz Ferdinand dari Austria di Sarajevo, Bosnia. Peristiwa ini memulai satu bulan manuver diplomatik di antara Austria-Hongaria, Jerman, Rusia, Perancis, dan Britania, yang disebut Krisis Juli. Ingin mengakhiri intervensi Serbia di Bosnia, Austria-Hongaria mengirimkan Ultimatum Juli ke Serbia, yaitu sepuluh permintaan yang sengaja dibuat tidak masuk akal dengan tujuan memulai perang dengan Serbia. Ketika Serbia hanya menyetujui delapan dari sepuluh permintaan, Austria-Hongaria menyatakan perang pada tanggal 28 Juli 1914. Strachan berpendapat, "Tanggapan ragu dan awal oleh Serbia yang mampu membuat perubahan terhadap perilaku Austria-Hongaria bisa diragukan. Franz Ferdinand bukan sosok yang gila popularitas, dan kematiannya tidak membuat kekaisaran ini berduka sedalam-dalamnya".
Kekaisaran Rusia, tidak ingin Austria-Hongaria menghapus pengaruhnya di Balkan dan mendukung protégé lamanya Serbia, memerintahkan mobilisasi parsial sehari kemudian. Kekaisaran Jerman melakukan mobilisasi tanggal 30 Juli 1914, siap menerapkan "Rencana Shlieffen" berupa invasi ke Perancis secara cepat dan massal untuk mengalahkan Angkatan Darat Perancis, kemudian pindah ke timur untuk melawan Rusia. Kabinet Perancis bergeming terhadap tekanan militer mengenai mobilisasi cepat, dan memerintahkan tentaranya mundur 10 km dari perbatasan untuk menghindari insiden apapun. Perancis baru melakukan mobilisasi pada malam tanggal 2 Agustus, ketika Jerman menyerbu Belgia dan menyerang tentara Perancis. Jerman menyatakan perang terhadap Rusia pada hari itu juga. Britania Raya menyatakan perang terhadap Jerman tanggal 4 Agustus 1914, setelah "balasan tidak memuaskan" terhadap ultimatum Britania bahwa Belgia harus dibiarkan netral.
Bersambung..
![]() |
| Kru senapan mesin Inggris mengguakan helm anti gas di pertempuran Somme, Juli 1916. Sumber: commons.wikimedia.org |
Pada abad ke-19, kekuatan-kekuatan besar Eropa berupaya keras mempertahankan keseimbangan kekuatan di seluruh Eropa, sehingga pada tahun 1900 memunculkan jaringan aliansi politik dan militer yang kompleks di benua ini. Berawal tahun 1815 dengan Aliansi Suci antara Prusia, Rusia, dan Austria. Kemudian, pada Oktober 1873, Kanselir Jerman Otto von Bismarck menegosiasikan Liga Tiga Kaisar (Jerman: Dreikaiserbund) antara monarki Austria-Hongaria, Rusia, dan Jerman. Perjanjian ini gagal karena Austria-Hongaria dan Rusia tidak sepakat mengenai kebijakan Balkan, sehingga meninggalkan Jerman dan Austria-Hongaria dalam satu aliansi yang dibentuk tahun 1879 bernama Aliansi Dua. Hal ini dipandang sebagai metode melawan pengaruh Rusia di Balkan saat Kesultanan Utsmaniyah terus melemah. Pada tahun 1882, aliansi ini meluas hingga Italia dan menjadi Aliansi Tiga.
Setelah 1870, konflik Eropa terhindar melalui jaringan perjanjian yang direncanakan secara hati-hati antara Kekaisaran Jerman dan seluruh Eropa yang dirancang oleh Bismarck. Ia berupaya menahan Rusia agar tetap di pihak Jerman untuk menghindari perang dua front dengan Perancis dan Rusia. Ketika Wilhelm II naik tahta sebagai Kaisar Jerman (Kaiser), Bismarck terpaksa pensiun dan sistem aliansinya perlahan dihapus. Misalnya, Kaiser menolak memperbarui Perjanjian Reasuransi dengan Rusia pada tahun 1890. Dua tahun kemudian, Aliansi Perancis-Rusia ditandatangani untuk melawan kekuatan Aliansi Tiga. Pada tahun 1904, Britania Raya menandatangani serangkaian perjanjian dengan Perancis, Entente Cordiale, dan pada 1907, Britania Raya dan Rusia menandatangani Konvensi Inggris-Rusia. Meski perjanjian ini secara formal tidak menyekutukan Britania Raya dengan Perancis atau Rusia, mereka memungkinkan Britania masuk konflik manapun yang kelak melibatkan Perancis dan Rusia, dan sistem penguncian perjanjian bilateral ini kemudian dikenal sebagai Entente Tiga.
![]() |
| HMS Dreadnought 1906 |
Austria-Hongaria mengawali krisis Bosnia 1908–1909 dengan menganeksasi secara resmi bekas teritori Utsmaniyah di Bosnia dan Herzegovina, yang telah diduduki sejak 1878. Peristiwa ini membuat Kerajaan Serbia dan pelindungnya, Kekaisaran Rusia yang Pan-Slavik dan Ortodoks berang. Manuver politik Rusia di kawasan ini mendestabilisasi perjanjian damai yang sudah memecah belah apa yang disebut sebagai "tong mesiu Eropa".
Tahun 1912 dan 1913, Perang Balkan Pertama pecah antara Liga Balkan dan Kesultanan Utsmaniyah yang sedang retak. Perjanjian London setelah itu mengurangi luas Kesultanan Utsmaniyah dan menciptakan negara merdeka Albania, tetapi memperbesar teritori Bulgaria, Serbia, Montenegro, dan Yunani. Ketika Bulgaria menyerbu Serbia dan Yunani pada tanggal 16 Juni 1913, negara ini kehilangan sebagian besar Makedonia ke Serbia dan Yunani dan Dobruja Selatan ke Rumania dalam Perang Balkan Kedua selama 33 hari, sehingga destabilisasi di wilayah ini semakin menjadi-jadi.
![]() |
| Gavrilo Princip, seorang pelajar Serbia Bosnia, ditahan sesaat setelah membunuh Adipati Agung Franz Ferdinand dari Austria |
Kekaisaran Rusia, tidak ingin Austria-Hongaria menghapus pengaruhnya di Balkan dan mendukung protégé lamanya Serbia, memerintahkan mobilisasi parsial sehari kemudian. Kekaisaran Jerman melakukan mobilisasi tanggal 30 Juli 1914, siap menerapkan "Rencana Shlieffen" berupa invasi ke Perancis secara cepat dan massal untuk mengalahkan Angkatan Darat Perancis, kemudian pindah ke timur untuk melawan Rusia. Kabinet Perancis bergeming terhadap tekanan militer mengenai mobilisasi cepat, dan memerintahkan tentaranya mundur 10 km dari perbatasan untuk menghindari insiden apapun. Perancis baru melakukan mobilisasi pada malam tanggal 2 Agustus, ketika Jerman menyerbu Belgia dan menyerang tentara Perancis. Jerman menyatakan perang terhadap Rusia pada hari itu juga. Britania Raya menyatakan perang terhadap Jerman tanggal 4 Agustus 1914, setelah "balasan tidak memuaskan" terhadap ultimatum Britania bahwa Belgia harus dibiarkan netral.
Bersambung..
Dari Wikipedia
Perang Dunia I (PDI) adalah sebuah perang global terpusat di Eropa yang dimulai pada tanggal 28 Juli 1914 sampai 11 November 1918. Perang ini sering disebut Perang Dunia atau Perang Besar sejak terjadi sampai dimulainya Perang Dunia II pada tahun 1939, dan Perang Dunia Pertama atau Perang Dunia I setelah itu. Perang ini melibatkan semua kekuatan besar dunia, yang terbagi menjadi dua aliansi bertentangan, yaitu Sekutu (berdasarkan Entente Tiga yang terdiri dari Britania Raya, Perancis, dan Rusia) dan Blok Sentral (terpusat pada Aliansi Tiga yang terdiri dari Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia; namun saat Austria-Hongaria melakukan serangan sementara persekutuan ini bersifat defensif, Italia tidak ikut berperang). Kedua aliansi ini melakukan reorganisasi (Italia berada di pihak Sekutu) dan memperluas diri saat banyak negara ikut serta dalam perang. Lebih dari 70 juta tentara militer, termasuk 60 juta orang Eropa, dimobilisasi dalam salah satu perang terbesar dalam sejarah. Lebih dari 9 juta prajurit gugur, terutama akibat kemajuan teknologi yang meningkatkan tingkat mematikannya suatu senjata tanpa mempertimbangkan perbaikan perlindungan atau mobilitas. Perang Dunia I adalah konflik paling mematikan keenam dalam sejarah dunia, sehingga membuka jalan untuk berbagai perubahan politik seperti revolusi di beberapa negara yang terlibat.
Penyebab jangka panjang perang ini mencakup kebijakan luar negeri imperialis kekuatan besar Eropa, termasuk Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah, Kekaisaran Rusia, Imperium Britania, Republik Perancis, dan Italia. Pembunuhan tanggal 28 Juni 1914 terhadap Adipati Agung Franz Ferdinand dari Austria, pewaris tahta Austria-Hongaria, oleh seorang nasionalis Yugoslavia di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina adalah pencetus perang ini. Pembunuhan tersebut berujung pada ultimatum Habsburg terhadap Kerajaan Serbia. Sejumlah aliansi yang dibentuk selama beberapa dasawarsa sebelumnya terguncang, sehingga dalam hitungan minggu semua kekuatan besar terlibat dalam perang; melalui koloni mereka, konflik ini segera menyebar ke seluruh dunia.
Pada tanggal 28 Juli, konflik ini dibuka dengan invasi ke Serbia oleh Austria-Hongaria, diikuti invasi Jerman ke Belgia, Luksemburg, dan Perancis; dan serangan Rusia ke Jerman. Setelah pawai Jerman di Paris tersendat, Front Barat melakukan pertempuran atrisi statis dengan jalur parit yang mengubah sedikit suasana sampai tahun 1917. Di Timur, angkatan darat Rusia berhasil mengalahkan pasukan Kesultanan Utsmaniyah, namun dipaksa mundur dari Prusia Timur dan Polandia oleh angkatan darat Jerman. Front lainnya dibuka setelah Kesultanan Utsmaniyah ikut serta dalam perang tahun 1914, Italia dan Bulgaria tahun 1915, dan Rumania tahun 1916. Kekaisaran Rusia runtuh bulan Maret 1917, dan Rusia menarik diri dari perang setelah Revolusi Oktober pada akhir tahun itu. Setelah serangan Jerman di sepanjang front barat tahun 1918, Sekutu memaksa pasukan Jerman mundur dalam serangkaian serangan yang sukses dan pasukan Amerika Serikat mulai memasuki parit. Jerman, yang bermasalah dengan revolusi pada saat itu, setuju melakukan gencatan senjata pada tanggal 11 November 1918 yang kelak dikenal sebagai Hari Gencatan Senjata. Perang ini berakhir dengan kemenangan di pihak Sekutu.
Peristiwa di front Britania sama rusuhnya seperti front depan, karena para pihak terlibat berusaha memobilisasi tenaga manusia dan sumber daya ekonomi mereka untuk melakukan perang total. Pada akhir perang, empat kekuatan imperial besar—Kekaisaran Jerman, Rusia, Austria-Hongaria, dan Utsmaniyah—bubar. Negara pengganti dua kekaisaran yang disebutkan pertama tadi kehilangan banyak sekali wilayah, sementara dua terakhir bubar sepenuhnya. Eropa Tengah terpecah menjadi beberapa negara kecil. Liga Bangsa-Bangsa dibentuk dengan harapan mencegah konflik seperti ini selanjutnya. Nasionalisme Eropa yang muncul akibat perang dan pembubaran kekaisaran, dampak kekalahan Jerman dan masalah dengan Traktat Versailles diyakini menjadi faktor penyebab pecahnya Perang Dunia II.
Penamaan Perang Dunia I
Di Kanada, Maclean's Magazine pada bulan Oktober 1914 menuliskan, "Sejumlah perang memberi namanya sendiri. Perang ini namanya Perang Besar." Sejarah asal usul dan bulan-bulan pertama perang diterbitkan di New York pada akhir 1914 dengan judul The World War (Perang Dunia). Selama periode antarperang, perang ini lebih sering disebut Perang Dunia dan Perang Besar di negara-negara berbahasa Inggris.
Setelah pecahnya Perang Dunia Kedua tahun 1939, istilah Perang Dunia I atau Perang Dunia Pertama menjadi standar, dengan sejarawan Britania dan Kanada yang lebih suka Perang Dunia Pertama, dan Amerika Perang Dunia I. Kedua istilah ini juga dipakai selama periode antarperang. Frasa "Perang Dunia Pertama" pertama dipakai bulan September 1914 oleh filsuf Jerman Ernest Haeckel, yang mengklaim bahwa "tidak ada keraguan bahwa alur dan tokoh 'Perang Eropa' yang dikhawatirkan ... akan menjadi perang dunia pertama dalam arti sepenuhnya." The First World War (Perang Dunia Pertama) juga merupakan judul buku sejarah tahun 1920 karya perwira dan jurnalis Charles à Court Repington.
Bersambung..
| Gambaran medan tempur Perang Dunia I, sumber: commos.wikimedia.org |
Penyebab jangka panjang perang ini mencakup kebijakan luar negeri imperialis kekuatan besar Eropa, termasuk Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah, Kekaisaran Rusia, Imperium Britania, Republik Perancis, dan Italia. Pembunuhan tanggal 28 Juni 1914 terhadap Adipati Agung Franz Ferdinand dari Austria, pewaris tahta Austria-Hongaria, oleh seorang nasionalis Yugoslavia di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina adalah pencetus perang ini. Pembunuhan tersebut berujung pada ultimatum Habsburg terhadap Kerajaan Serbia. Sejumlah aliansi yang dibentuk selama beberapa dasawarsa sebelumnya terguncang, sehingga dalam hitungan minggu semua kekuatan besar terlibat dalam perang; melalui koloni mereka, konflik ini segera menyebar ke seluruh dunia.
Pada tanggal 28 Juli, konflik ini dibuka dengan invasi ke Serbia oleh Austria-Hongaria, diikuti invasi Jerman ke Belgia, Luksemburg, dan Perancis; dan serangan Rusia ke Jerman. Setelah pawai Jerman di Paris tersendat, Front Barat melakukan pertempuran atrisi statis dengan jalur parit yang mengubah sedikit suasana sampai tahun 1917. Di Timur, angkatan darat Rusia berhasil mengalahkan pasukan Kesultanan Utsmaniyah, namun dipaksa mundur dari Prusia Timur dan Polandia oleh angkatan darat Jerman. Front lainnya dibuka setelah Kesultanan Utsmaniyah ikut serta dalam perang tahun 1914, Italia dan Bulgaria tahun 1915, dan Rumania tahun 1916. Kekaisaran Rusia runtuh bulan Maret 1917, dan Rusia menarik diri dari perang setelah Revolusi Oktober pada akhir tahun itu. Setelah serangan Jerman di sepanjang front barat tahun 1918, Sekutu memaksa pasukan Jerman mundur dalam serangkaian serangan yang sukses dan pasukan Amerika Serikat mulai memasuki parit. Jerman, yang bermasalah dengan revolusi pada saat itu, setuju melakukan gencatan senjata pada tanggal 11 November 1918 yang kelak dikenal sebagai Hari Gencatan Senjata. Perang ini berakhir dengan kemenangan di pihak Sekutu.
Peristiwa di front Britania sama rusuhnya seperti front depan, karena para pihak terlibat berusaha memobilisasi tenaga manusia dan sumber daya ekonomi mereka untuk melakukan perang total. Pada akhir perang, empat kekuatan imperial besar—Kekaisaran Jerman, Rusia, Austria-Hongaria, dan Utsmaniyah—bubar. Negara pengganti dua kekaisaran yang disebutkan pertama tadi kehilangan banyak sekali wilayah, sementara dua terakhir bubar sepenuhnya. Eropa Tengah terpecah menjadi beberapa negara kecil. Liga Bangsa-Bangsa dibentuk dengan harapan mencegah konflik seperti ini selanjutnya. Nasionalisme Eropa yang muncul akibat perang dan pembubaran kekaisaran, dampak kekalahan Jerman dan masalah dengan Traktat Versailles diyakini menjadi faktor penyebab pecahnya Perang Dunia II.
Penamaan Perang Dunia I
Di Kanada, Maclean's Magazine pada bulan Oktober 1914 menuliskan, "Sejumlah perang memberi namanya sendiri. Perang ini namanya Perang Besar." Sejarah asal usul dan bulan-bulan pertama perang diterbitkan di New York pada akhir 1914 dengan judul The World War (Perang Dunia). Selama periode antarperang, perang ini lebih sering disebut Perang Dunia dan Perang Besar di negara-negara berbahasa Inggris.
Setelah pecahnya Perang Dunia Kedua tahun 1939, istilah Perang Dunia I atau Perang Dunia Pertama menjadi standar, dengan sejarawan Britania dan Kanada yang lebih suka Perang Dunia Pertama, dan Amerika Perang Dunia I. Kedua istilah ini juga dipakai selama periode antarperang. Frasa "Perang Dunia Pertama" pertama dipakai bulan September 1914 oleh filsuf Jerman Ernest Haeckel, yang mengklaim bahwa "tidak ada keraguan bahwa alur dan tokoh 'Perang Eropa' yang dikhawatirkan ... akan menjadi perang dunia pertama dalam arti sepenuhnya." The First World War (Perang Dunia Pertama) juga merupakan judul buku sejarah tahun 1920 karya perwira dan jurnalis Charles à Court Repington.
Bersambung..
Berdasarkan info yang ditulis dari blog Indonesia Zaman Doeloe foto ini terjadi pada waktu 1949 yang bertempat di Jakarta. Kemungkinan ini adalah Kabinet Hatta I. Dilihat dari wajah tokoh-tokohnya dari kiri ke kanan terdiri dari :
- Mohammad Roem (tidak ada jabatan, saat itu Ketua Delegasi Roem-Royen)
- Kemungkinan H. Masjkur (Mentri Agama)
- Mohammad Hatta (Perdana Mentri)
- Soekarno (Presiden RI)
- Kemungkinan Hamengkubuwono IX (Mentri Pertahanan dan Negara)
- Agus Salim (Mentri Luar Negeri)
- Ali Sastroamidjojo (Mentri Pendidikan)
- Mohammad Natsir (Mentri Penerangan)
Sumber foto: Bert Hardy | Picture Post/Getty Images
Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso adalah album berisi sejumlah lagu yang dinyanyikan oleh Bing Slamet, Rita Zahara, Titiek Puspa, dan Nien Lesmana, diiringi orkes Irama pimpinan Jack Lesmana. Diedarkan pada tahun 1965 oleh The Indonesian Music Company Irama LTD. Dalam covernya tertulis “dipersembahkan oleh para seniman Indonesia dan karyawan IRAMA bertalian dengan DASA-WARSA KONFERENSI AFRIKA-ASIA”. dibagian lain juga tertulis “Saja restui. Setudju diedarkan, Soekarno 14/4 ’65″
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Mari_Bersuka_Ria_dengan_Irama_Lenso
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
About Me
Popular Posts
-
Jembatan Merah Surabaya Tempo Dulu
Foto-foto Jembatan Merah Surabaya tempo dulu yang berhasil admin himpun dari commons.wikimedia.org De Willemskade langs de Kali Mas, Soeraba... -
Ketika Soekarno (muda) Ditolak Cintanya
Oleh Ridwan Hd. Ilustrasi dari Film Soekarno (2013) Usianya 18 tahun. Impian terbesar pemuda pribumi itu adalah bisa memiliki gadis Belanda ... -
Mengenal HAMKA (Bagian 1): Masa Kecil yang Nakal
Oleh Ridwan Hd. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture Nakalnya sudah terk... -
Merebut Sunda Kelapa (Bagian 2)
Oleh Uman Miftah S Sebuah lukisan benteng di luar Batavia yang dibuat tahun 1709 menyebut nama Jacatra | Sumber: geheugenvannederland.nl Ad... -
Video Dokumenter Ki Hajar Dewantara yang Dibuat Tahun 1956
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menul... -
Upaya Belanda menduduki Indonesia pada 1946 dalam Video Warna
Sumber/penerbit video : Dutch Docu Channel Link : https://www.youtube.com/watch?v=NZvM9rTXqwY&spfreload=5 -
Mengenal Jong Islamieten Bond – Bagian 2
Oleh Ridwan Hd. Baca sembelumnya: Mengenal Jong Islamieten Bond - Bagian 1 Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Kasman Singodimedjo da... -
Pertandingan Sepakbola Hindia-Belanda Melawan Belanda pada 1938
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl Tim Nasiona Hindia-Belanda sedang berfoto bersama di Amsterdam bersama pada pejabat Belanda setelah ... -
Jemaah Haji (1884)
Foto diatas menampilkan dua orang jemaah haji dari Indrapura (Pesisir Selatan) dan Muko-muko (Bengkulu) yang dipotret di Konsulat Belanda di... -
Menjawab Citra Negatif Bani Umayyah (Bagian 1)
Oleh Rofi'ulmuiz Uang keping bergambar Khalifah Abdul al Malik dari Dinasti Bani Umayyah | Foto: commons.wikimedia.ord Bagian dari perio...
Labels
- Agus Salim
- Batavia
- Budaya Islam
- Budi utomo
- Dunia
- Dunia Islam
- Dunia Modern
- Foto
- Hamka
- Headline
- Hindia-Belanda
- Kebangkitan Nasional
- Kemerdekaan
- Ki Hajar Dewantara
- KNIL
- Mohamad Natsir
- Mohammad Roem
- Mozaik
- Nasionalisme
- Nusantara
- Nusantara Lama
- Nusantara Modern
- Pancasila
- Perang Dunia I
- Portugis
- Sarekat Islam
- Soekarno
- Soekiman
- Tjokroaminoto
- Tokoh
- Umayyah
- Video







