Cat-1
Cat-2
Cat-3
Cat-4
Latest Posts
Oleh Rofi'ulmuiz
“Abu Sufyan,” ungkap Sayyid Quthub dalam Al Adalah Al Ijtima’iyah fi Al Islam, “Orang yang masuk Islam hanya di mulut semata, bukan keimanan dalam hati dan perasaan, seolah-olah tiada setetes keimanan pun didalamnya.” Pernyataan itu seperti menjadi kegusaran tersendiri bagi umat Islam terhadap kontroversi pada orang-orang dari kalangan Bani Umayyah. Terutama jika sudah bersentuhan dengan masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ada santapan empuk bagi para pencela Bani Umayyah untuk semakin memperburuk citranya di mata umat Islam. (Baca: MenjawabCitra Negatif Bani Umayyah bagian 1)
![]() |
| Uang keping bergambar Khalifah Abdul al Malik dari Dinasti Bani Umayyah | Foto: commons.wikimedia.ord |
“Abu Sufyan,” ungkap Sayyid Quthub dalam Al Adalah Al Ijtima’iyah fi Al Islam, “Orang yang masuk Islam hanya di mulut semata, bukan keimanan dalam hati dan perasaan, seolah-olah tiada setetes keimanan pun didalamnya.” Pernyataan itu seperti menjadi kegusaran tersendiri bagi umat Islam terhadap kontroversi pada orang-orang dari kalangan Bani Umayyah. Terutama jika sudah bersentuhan dengan masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ada santapan empuk bagi para pencela Bani Umayyah untuk semakin memperburuk citranya di mata umat Islam. (Baca: MenjawabCitra Negatif Bani Umayyah bagian 1)
Sejarah telah menunjukkan bahwa sebagian Bani Umayah yang menentang wahyu kepada Nabi Muhammad SAW adalah benar adanya, namun itu sebelum peristiwa Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah ke tangan Islam). Terutama Abu Sufyan. Ia terkenal sebagai tokoh Bani Umayyah yang menentang Nabi Muhammad SAW. Namun apa gerangan yang membuat Rosululloh SAW menjadikan Abu Sofyan sebagai sosok yang spesial saat peristiwa Fathu Makkah dengan memberikan jaminan keamanan bagi siapapun yang masuk ke dalam rumahnya?
Abdul Malik bin Husain Al Ishami dalam kitab An Nujum Al Awali memaparkan bahwa antara Bani Umayah dengan Bani Hasyim masih bertemu dalam silsilah keturunan, yaitu Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah. Abdu Manaf memiliki kedudukan terhormat di Makkah dan menjadi pemimpin mereka. Tidak ada satupun klan suku Quraisy yang menandinginya. Semua klan Quraisy mengakui hal itu dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara Bani Hasyim dan Bani Umayah sebelum Islam merupakan hubungan persaudaraan. Namun kedatangan Islam menyebabkan sebagan besar Bani Umayah menentang agama baru ini beserta pembawanya, Muhammad SAW dari Bani Hasyim.
Penentangan tersebut terus berlangsung hingga peristiwa Fathu Makkah. Persitiwa berhasilnya kaum Muslim menguasai Mekkah menjadikan para Bani Umayyah masuk Islam dan menjadi pendukung utama ekspansi Islam ke berbagai wilayah dunia. Kondisi harmonis penuh persaudaraan karena ikatan Islam ini berlangsung hingga terjadinya pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan ra. Peristiwa ini memunculkan konflik antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan ihwal terbunuhnya sang Khalifah serta hukuman qishash bagi para pembunuhnya.
Namun ada juga pendapat dari sejarawan muslim bernama Al Maqrizi. Ia mengkalim dalam buku An Naza’ wa At Takhashum fi ma baina Bani Umayyah wa Bani Hasyim bahwa perseteruan antara mereka itu telah mengakar dan berlangsung lama.
Abdussyafi dalam bukunya yang diterjemahkan dengan judul Bangkit dan Runtuhnya Bani Umayyah, mencoba menentang pendapat Al Maqrizi dengan mengatakan bahwa semua peristiwa yang terjadi antara Bani Hasyim dan bani Umayyah sebelum Islam tidak keluar dari koridor persaingan dan rivalitas untuk memperoleh penghormatan, prestise, dan kekuasaan. Bahkan saat terjadi persaingan dalam memperebutkan berbagai hal, mereka saling melakukan munafarah (penghakiman dihadapan dukun).
Sebuah contoh kejadian yang diceritakan oleh Al Baladzuri dalam kitab Ansab Al Asyraf mengenai munafarah yang dilakukan oleh Bani Hasyim dan Bani Umayyah. Dia bercerita, “Umayyah bin Abdu Syams adalah seorang hartawan, sehingga ia memaksa diri untuk mengikuti kebiasaan Hasyim memberi makan kaum Quraisy. Namun, ternyata Umayyah tidak mampu melakukannya. Akibatnya orang-orang Quraisy merasa pesimis dan mencibirnya karena ketidakmampuannya.
Umayyah pun naik pitam dan menantang Hasyim untuk melakukan munafarah dengan masing-masing menyerahkan 50 ekor unta untuk disembelih di Makkah atau diusir (diasingkan dari Makkah) selama sepuluh tahun. Keduanya bersepakat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dihadapan seorang dukun dari Bani Al Khuza’i-ia adalah kakek Amr bin Lahyl yang bertempat tinggal di Asfan. Sang dukun pun memutuskan kemenangan Hasyim atas Umayyah. Dengan keputusan ini, Hasyim menyembelih unta tersebut dan membagikan dagingnya kepada semua hadirin. Sedangkan Umayyah harus pergi ke Syam. Disanalah ia menetap selama sepuluh tahun.”
Dari kejadian tersebut menegaskan bahwa persaingan yang terjadi dikalangan mereka dilakukan secara terhormat dan saling menghargai, bukan berdasarkan kedengkian dan saling memusuhi yang menghalangi mereka untuk saling mendukung dan bersatupadu saat menghadapi ancaman dari luar.
Kemudian kisah keislaman Abu Sufyan menjelang Nabi Muhammad SAW menduduki Makkah dan peran Abbas bin Abdul Muthalib (Paman Nabi Muhammad Saw) didalamnya merupakan bukti kongkret kuatnya hubungan dan kasih sayang antara kedua pembesar Bani Hasyim dan Bani Umayyah.
Saat itu Abbas membawa Abu Sufyan menghadap Nabi Muhammad SAW. Ia senantiasa memohonkan ampunan baginya, sehingga beliau mengabulkannya. Jiwa Abbas tidak merasa tenang sebelum mendengar Abu Sufyan masuk Islam dihadapan Nabi Muhammad SAW. Upaya keras Abbas agar Abu Sufyan masuk Islam sempat membuatnya marah besar kepada Umar bin Khathab yang meminta izin kepada Rosululloh SAW untuk memenggal batang leher Abu Sufyan. Kata Abbas dalam kitab Sirah Ibn Hisyam, “Wahai Rosululloh, Abu Sufyan adalah orang yang menyukai kebanggaan. Karena itu, lakukanlah sesuatu baginya.” Nabi menjawab, “Baiklah, Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Dan, barangsiapa memasuki masjid (Masjidil Haram), ia aman.”
Masih dalam kitab Sirah Ibn Hisyam, Nabi Muhammad SAW memperlakukan Bani Umayyah dan seluruh penduduk Makkah dengan sikap yang sesuai dengan akhlak, perasaan, dan kasih sayangnya. Bukan membalas dengan secara setimpal akibat kekafiran, permusuhan dan perlawanan. Maka beliau berkata pada mereka, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apa gerangan yang akan kulakukan terhadap kalian?” Mereka menjawab, “Kebaikan, wahai saudara yang dermawan putra saudara yang dermawan.” Beliau pun bersabda, “Pergilah, kalian semua bebas.”
Jadi menurut Abdussyafi-kembali menegaskan- bahwa permusuhan sebagian besar Bani Umayyah terhadap Islam sebelum Fathu Makkah bukan timbul akibat dari permusuhan lama yang mengakar dan mendarah daging antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, melainkan timbul dari persaingan memperoleh kehormatan dan kedudukan tertinggi di komunitas Quraisy yang sangat mementingkan hal semacam itu.
Ketika itu, menurut mereka (Bani Umayyah), Nabi Muhammad SAW tidak layak mengemban risalah kenabian. Bahkan Allah SWT berfirman dalam surat Az Zukhruf ayat 31 mengenai hal ini. “Dan mereka berkata, ‘Mengapa Al Qur’an tidak diturunkan kepada salah seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha’if) ini?’” Allah SWT pun menjawab dalam firman-Nya pada ayat selanjutnya dengan berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhamnu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”
“Sikap permusuhan yang diperlihatkan Bani Umayyah terhadap Rosululloh SAW dan dakwahnya,” Abdussyafi menjelaskan. “bukanlah monopoli mereka, melainkan diperlihatkan pula oleh para pemimpin dari keluarga besar suku Quraisy lainnya, seperti Bani Makhzum, Bani Jamh, dan lain-lain.”
Kendati semua kalangan Bani Umayyah masuk Islam setelah Fathu Makkah dan mereka menjalankan ajaran agamanya dengan sangat baik, bahkan mereka memberikan pengorbanan luar biasa dalam menolong agama Islam dan meninggikan agama Allah, tetapi sebagian orang melupakan permusuhan suku Quraisy terhadap Rosululloh SAW. Mereka hanya mengingat permusuhan Bani Umayyah terhadap beliau. Seolah-olah hanya Bani Umayyah saja yang bersikap antagonis.
“Para propagandis,” kata Abdussyafi. “melupakan sebagian orang dari Bani Umayyah yang tergolong dalam As sabiqunal Al awwaluun(orang-orang yang pertama kali masuk Islam). Bahkan jumlah Bani Umayyah bisa jadi lebih banyak daripada Bani Hasyim,” jelasnya. Beberapa orang dari Bani Umayyah itu adalah Ustman bin Affan bin Abul Ash bin Umayyah, Khalid bin Sa’id, dan Amr bin Sa’id. Khalid bin Sa’id adalah orang kelima yang masuk Islam.
Mereka (para propagandis) senantiasa mengatai Bani Umayyah dengan julukan ath thulaqa’ wa abna ‘uth thulaqa’ (tawanan yang dibebaskan beserta keturunannya). Ibnu Taimiyah termasuk yang membantah penulis Minhaj Al Karamah yang mengatai Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai tawanan yang dibebaskan sekaligus putra tawanan yang dibebaskan. Hal tersebut beliau uraikan penjelasannya dalam kitab Minhaj As Sunnah An Nabawiyah.
Maka ungkapan ath thulaqa’ wa abna ‘uth thulaqa’ yang disematkan kepada bani Umayyah menunjukkan sejauh mana kedengkian terpendam ekstrimis Syi’ah dan lain-lain.
Oleh Ridwan Hd.
![]() |
| Sebuah mural dukungan kemerdekaan | Foto: cas oorthuys |
“Waktu itu bulan puasa,” cerita Mohammad Hatta dalam buku otobiografinya Untuk Negeriku, “Sebelum pulang aku masih dapat makan sahur di rumah Admiral Maeda. Karena tidak ada nasi, yang kumakan ialah roti, telur, dan ikan sardin, tetapi cukup mengenyangkan.”
Cerita Hatta ini berlangsung ketika sedang berada di rumah Laksamana Maeda setelah menyusun tek proklamasi. Para tokoh terdiri dari anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan berbagai kalangan pemuda sedang berkumpul hingga larut malam. Hingga pukul 03.00, naskah proklamasi berhasil diselesaikan untuk dibacakan pada pukul 10 pagi.
Berdasar kalander tahun Masehi yang mengikuti peredaran bumi mengelilingi matahari, hari proklamasi jatuh pada hari Jum’at, 17 Agustus tahun 1945. Jika mengikuti kalender tahun Hijriah yang mengikuti peredaran bulan mengelilingi bumi, maka hari proklamasi bertepatan pada 9 Ramadhan tahun 1364. Dalam situasi bulan Ramadhan inilah, dengan Rahmat Allah Swt, Rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya ditengah pengawasan Jepang dan ancaman Sekutu di masa-masa akhir Perang Dunia ke 2.
Sebenarnya, ketika Soekarno dan Hatta diundang ke Dalat, Vietnam, oleh Jenderal Terauchi, pihak Jepang sudah menjanjikan kemerdekaan yang akan dilangsungkan pada 24 Agustus 1945. Berdasarkan rancangan Jenderal Terauchi juga, wilayah-wilayah seperti semenanjung malaya, Singapura, dan Kalimantan Utara (termasuk Brunei) masuk dalam satu wilayah Indonesia.
Rupanya, ada kehendak lain. Sekitar 16 Agustus, sebagai negeri kalah perang, Jepang dituntut oleh pihak Sekutu agar tidak menyerahkan status quo wilayah kekuasaannya di Nusantara. Janji kemerdekaan akhirnya dibatalkan.
Hari sebelumnya sepulang dari Dalat, Soekarno dan Hatta didatangi oleh gerombolan pemuda agar proklamasi dilaksanakan saat itu juga tanpa melalui PPKI, sebab badan panitia kemerdekaan itu adalah bentukan Jepang. Mereka ingin kemerdekaan lepas dari tangan Jepang. Para pemuda yang dipimpin Sukarni mengancam, jika tidak memproklamasikan kemerdekaan saat itu juga para pemuda akan melakukan revolusi. Tetapi kedua tokoh itu tidak mau mengikuti tuntutan pemuda. Mereka berharap, untuk urusan ini dapat dibicarakan di dalam sidang PPKI. Karena tidak dapat memenuhi tuntutan pemuda, Soekarno dan Hatta diculik ke Rengasdengklok dengan alasan pengamanan ketika revolusi berlangsung. Namun sampai tanggal 16 Agustus sore, revolusi yang direncanakan para pemuda itu juga tidak berlangsung.
Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta pada 16 Agustus malam dan langsung ke kediaman Maeda bersama para tokoh lain untuk menyusun teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan hari.
Menurut penjelasan Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah jilid 2, bahwa Soekarno mendapat kepastian waktu yang baik untuk melaksankan proklamasi pada 17 Agustus diperoleh dari K.H. Abdoel Moekti, yang merupakan pimpinan Muhammadiyah Madiun. Bila tidak diproklamasikan pada tanggal tersebut hanya akan menemui hari yang demikian bahagia itu 300 tahun yang akan datang.
Keterangan Ahmad Mansur Suryanegara ini didapat dari KH. Abdoe Moekti sendiri saat Seminar Sejarah Perjuangan Umat Islam di Indonesia pada 1967. Ia ditunjukan bukti tentang kesaksian ini dengan tanda tangan beberapa tokoh yang hadir dalam proklamasi yang membenarkan bahwa penentu proklamasi pada 17 Agustus 1945, jum’at Legi, 9 Ramadhan adalah K.H. Abdoel Moekti.
Memang sejak Belanda menguasai Nusantara, penggunaan kalender tidak lagi menggunakan tahun Hijriyah yang biasa dipakai oleh kerajaan-kerjaaan Islam sebelumnya, tetapi diganti dengan kalender Masehi. Sejak itu pula ketika Negara Indonesia berdiri, penanggalan yang digunakan adalah masehi. Maka, peringatan kemerdekaan Republik Indonesia lebih dipilih menggunakan hari 17 Agustus dari pada 9 Ramadhan.
Ahmad Mansur Surynegara berkata, “Kalau demikian kenyataan sejarahnya, apakah salah ataukah bid’ah jika umat Islam pada setiap 9 Ramadhan, sebagai mayoritas bangsa Indonesia, menjadikan tanggal 9 Ramadhan sebagai tanggal syukuran Umat Islam menerima anugerah nikmat kemerdekaan Republik Indonesia dari Allah Yang Maha Kuasa, selain diperingati setiap 17 Agustus?”
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.
Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Sukarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).
sumber: Wikipedia
Oleh Ridwan Hd.
![]() |
| Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture |
Nakalnya sudah terkenal di seluruh kampung Padang Panjang, Sumatera Barat. Adalah Malik nama anak Syeik Abdul Karim Amrullah yang nakal itu. Sampai-sampai ayahnya Malik berkali-kali berkata tentang dirinya, “ketika kecil ayah sudah alim”, sehingga kepada Malik bertanya,“Mengapa engkau belum alim?” Dalam hati Malik malah bertanya, “Apakah ayahnya dahulu tidak pernah bermain?”
Malik atau nama kecil dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) lahir dari ayah seorang ulama besar dan berpengaruh di Sumatera Barat yang akrab dipanggil Haji Rasul. Dalam otobiografinya di Kenang-kenangan Hidup jilid 1, Hamka bercerita bahwa sering kali ayahnya tak segan memukul dengan tongkat karena kenakalannya. “Nakalnya bukan buatan, membuat pusing orang kampung.” pengakuannya.
Haji Rasul pernah sangat berang ketika Malik ketahuan menipu anak-anak kampung dengan menjadi menteri cacar. Awalnya Malik melihat mentri cacar sedang mencacar anak-anak. Disuruh engkunya membuatkan kaca mata dari daun pandan untuk meniru mentri cacar yang berkaca mata. Lalu ia mengumpulkan anak-anak kira-kira sepuluh orang. Dikatakannya kepada mereka bahwa ia adalah mentri cacar dan ingin mencacar. “Heran, semuanya patuh saja menuruti perintah.” kata Hamka. Kemudian ditorehnya anak-anak itu dengan duri jeruk limau. Ada yang menangis kepedihan dan ada yang berdarah.
Keesok hari, Malik di ajak ibunya ke Surau dengan baju baru pemberian ayahnya. Baru saja sampai di atas Surau, mata ayahnya sudah berapi-api karena sudah mengetahui ulah si anak. Diambilah tongkat besar lalu meminta Malik menjulurkan kakinya untuk dipukul. Malik bersimpuh minta ampun. Tetapi ayahnya tetap ingin memukul. Malik terus bersimpuh minta ampun. Untungnya, ada dua orang lain yang ada di Surau itu menyaksikan dan menahan amarah ayah. “Dia sudah minta ampun, engku! Dia sudah minta ampun.” kata mereka. Pukulan tak jadi diterima Malik berkat kedua orang itu. “itulah, jangan nakal juga. Mujur ada orang yang memisahkan tadi, kalau tidak tentu hancur badanmu dipukul ayahmu.” ucap ibunya setelah disuruh pulang.
Malik kecil hanya senang bermain. Di suruh mengaji sulit sekali. Ketika umurnya memasuki 6 tahun, ia disuruh ayah belajar mengaji dengan kakaknya, Fatimah. Cara mengajar kakaknya tidak disukai Malik. Kalau Malik tidak bisa membaca seperti yang diajarkan kakaknya selalu mendapat cubitan. Cara mengajar sang kakak membuatnya kesulitan meyelesaikan bacaan mengaji Juzz Amma. Sudah tiga bulan tak rampung-rampung. “Untunglah ada satu penolong yang datang dengan tiba-tiba.” cerita Hamka.
Mengajinya mulai lancar ketika ada seorang anak perempuan bernama Chamsinah. Anak perempuan itu ikut mengaji bersama Malik tanpa ada cubitan. Semangat mengaji timbul kalau bisa mengaji berdua dengan Chamsinah. Kalau biasanya habis magrib berpetualang dahulu keliling kampung Padang Panjang, setelah adanya anak perempuan itu pikirannya hanya pergi mengaji hingga berhasil khatam.
Pada umur 7 tahun, Malik di masukan ke sekolah desa. Setahun kemudian berdiri sekolah diniyah di Padang Panjang yang pelaksanaan belajarnya sore hari. Malik juga dimasukan ke sekolah diniyah itu sore harinya untuk belajar bahasa arab. “Dalam usianya diantara 7 dengan 10 tahun, tidak ada lagi satu kampung keliling Padang Panjang yang tidak mengenal anak nakal itu.”
Ia selalu pergi ke sekolah pagi sekali, agar menyempatkan bermain. Selesai sekolah pukul 10, kembali bermain; bergelut, bertinju, cari-carian, banting-bantingan, hingga jelang sore. Selelesai sekolah Diniyah sore, sekitar pukul 5, kembali lagi bermain di jalanan sambil mengganggu anak-anak perempuan. Tuduhan sering diterima, “Si Malik nakal!”, “Si Malik jahat!”.
Senakal-anaklnya Malik, ia juga bisa berbuat baik. Orang buta yang sedang meminta-minta di sebuah pasar di Padang Panjang pernah mengetuk hati Malik. Ia mencoba membantu si buta itu dengan membimbing jalan atau ikut mencarikan uang sedekah. Ketika si buta mau memberinya bagian, Malik tak mau menerima. Ia senang sekali seharian bisa membantunya. Hingga suatu saat, ia kepergok sang ibu. Rasa malu si ibu melihat Malik memaksanya pulang. “Perbuatannya itu, memberi malu ayahnya.” ucap ibunya. Ia heran, padahal ayahnya sendiri dalam setiap pengajian disuruh membantu fakir miskin. Berat benar perasaan Malik meninggalkan si buta.
Pernah juga ketika terjadi pembagian beras saat masa sulit bahan pokok, ia melihat perempuan yang lemah tidak kuat berdesak-desakan. Di dekatinya perempuan itu, dan diminta surat pengambilan beras agar Malik saja yang mengambilkan. Belum selesai mendapatkan beras, ia ketahuan murid Ayahnya. Malik di suruh pulang. Tetapi ia tak mau sebelum selesai membantu perempuan ini. Sampai di rumah, ia kena marah. Perbuatannya dikatakan memberi malu ayahnya.
“Lantaran itu dan beberapa sebab yang lain, dia lebih suka banyak jalan. Bermain jauh-jauh, mengelak dari rumah. Banyak benar peraturan di rumah yang berlawanan dengan hatinya. Dia hendak berbuat baik menolong orang. Membela, tetapi di rumah dilarang. Rupanya ada beberapa fatwa yang diberikan ayahnya, tetapi dia sendiri tidak boleh melakukan.” cerita Hamka dengan menarik.
Setelah bulan puasa pada 1918 atau bertepatan umur 10 tahun, ayahnya baru pulang dari Jawa. Madrasah Sumatera Thawalib yang didirikan ayahnya mengalami perubahan sistem pendidikan, yaitu berubah menjadi sistem kelas seperti sekolah modern pada umumnya. Malik yang sebelumnya sudah masuk kelas 3 Sekolah Desa di suruh berhenti dan dimasukan ayahnya ke Sumatera Thawalib agar bisa fokus belajar agama. Sejak lahir, Haji Rasul memang berharap Malik dapat melanjutkan kiprahnya sebagai seorang ulama. Berbagai upaya ia lakukan agar Malik mendapat mendidikan agama yang baik.
Di Madrasah Sumatera Thawalib, Malik harus menghafal Matan Taqrib (Nahwu). Beberapa kaidah tentang nahwu dan sharaf mesti hafal. Malik yang baru 10 tahun harus duduk bersela di atas lantai, menghadap guru, mendengarkan penyampaian materi tentang kedudukan baris tiap-tiap kalimat, mengapa jadi baris atas (nasab), atau di depan (rafa’), atau baris bawah (djar) dan mati (djazam). Hafalan-hafalan itu sangat memusingkannya. Ketika berhadapan dengan guru yang agak keras, hampir semua pelajaran yang diberikan tidak ada yang masuk. Disuruhnya juga menghafal hadist empat puluh (Arba’in An Nawawiyah). Bagi yang tidak hafal di hukum berdiri lama-lama. Malik adalah anak yang selalu berdiri jika masuk pelajaran hafalan hadist.
Satu materi yang menarik hatinya adalah pelajaran Arudh, yaitu timbangan syair Arab. Syair-syair dalam pelajaran itu dengan mudah dihafalnya. Berbeda dengan pelajaran lain yang lebih banyak mengantuk. Kalau pun matanya melihat kitab, pikirannya jauh di tempat lain. Setiap selesai pelajaran langsung diletakkan kitab-kitab yang berat itu, “berat diangkat dan berat dipelajari.” Di letakkan di atas rak, dan tidak dipegang lagi. Ditengoknya pun tidak sampai hari berikutnya. Ia langsung berlari ke Pasar Usang untuk menonton film di bioskop, main layang-layang, menonton adu sapi, atau sepak bola. “Tidak ada waktu untuk menghafal. Main! Main yang perlu.” kata Hamka.
Bersambung..
Oleh Rofi'ulmuiz
![]() |
| Uang keping bergambar Khalifah Abdul al Malik dari Dinasti Bani Umayyah | Foto: commons.wikimedia.ord |
Bagian dari periode terburuk dalam sejarah peradaban Islam adalah terbunuhnya Khalifah Ali bin abi Thalib dan diangkatnya Muawiyyah bin Abu Sofyan menjadi pelanjut kekhalifahan. Tak hanya pelanjut, ia juga menempatkan kekhalifahan Islam dengan sistem monarki. Banyak kalangan menilai, keputusan Muawiyyah itu dianggap sebagai bentuk kudeta, atau gila kekuasaan, yang menyebabkan konflik panjang antara Bani Umayyah dengan para ahlul baitatau keluarga Nabi, dikenal juga dengan Bani Abbas, sehingga sejarah Islam penuh dengan cerita perang saudara. Tak sedikit sejarawan menempatkan Bani Umayah sebagai antagonis. Terhadap masalah ini, Abdussyafi dalam mukadimah Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyahmenuliskan, “Periode dari sejarah umat Islam masih membutuhkan kajian dan penelitian intensif yang penuh kesadaran.”
Dinasti Umayyah seringkali menjadi sorotan para cendikiawan kontemporer, sebagian besar tulisannya cenderung bersifat menghakimi. Dalam hal ini mereka mempergunakan berbagai riwayat yang dikemukakan musuh-musuh Bani Umayyah atau pendapat dari pakar sejarah yang cenderung memihak golongan tertentu. Akibatnya, sejarah para khalifah dan kepala daerah Bani Umayyah penuh dengan kepalsuan, berbagai penyimpangan, dan jauh dari sejarah yang hakiki.
Sayyid Quthub , seorang kolumnis muslim ternama yang menelurkan banyak buku tentang pergerakan Islam, tak luput ikut bersuara mengenai Bani Umayyah dalam buku Al Adalah Al Ijtima’iyyah. “Pun, Bani Umayyah di era Islam adalah Bani Umayyah di era Jahiliyyah. Mereka tidak hanya sebagai zhalim dan penjahat, keyakinan dan keikhlasan mereka dalam beragama meragukan!” ungkapnya.
Kolumnis kontemporer yang juga berkomentar negatif tentang Bani Umayyah adalah Mahmud Abbas Al-Aqqad. “Kalaulah sejarah ditulis dengan benar, tentulah julukan yang disematkan pada dirinya (Muawiyah bin Abu Sufyan) hanyalah mufarriqul jama’ah (pemecah belah persatuan),” umpatnya.
Dari pernyataan itu, Abdussyafi, mencoba membantah. Ia berkata, “Dalam berbagai sumber sejarah bersepakat dan ini pun diakui oleh mereka yang memusuhi Bani Umayyah, bahwa karakter yang paling menonjol dari seorang Muawiyah bin Abu Sufyan adalah sabar, toleran, dan dermawan. Diakui juga oleh berbagai sumber sejarah bahwa periode kekhalifahannya merupakan periode amul jama’ah (tahun persatuan),”
Citra negatif tersebut tentunya tidak tanpa faktor yang melatar belakanginya. Ada beberapa faktor yang saling mendukung dalam menciptakan citra negatif dan mencemarkan nama baik mereka, sehingga periode Bani Umayyah dicap dengan berbagai sebutan kegelapan dan keburukan.
Pertama, sebagian besar Bani Umayyah pada awalnya (pra-Islam) mutlak menentang kedatangan risalah Muhammad Rosululloh SAW, bahkan mengusung bendera perlawanan dan menabuh genderang perang serta melancarkan berbagai serangan terhadapnya selama lebih dari dua puluh tahun. Bani Umayyah bersedia masuk Islam ketika peristiwa Fathu Makkah.
Kedua, Bani Umayyah terlibat dalam konfrontasi politik dengan Ahlu Bait sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, sehingga emosional sebagian besar umat Islam cenderung memihak Ahlu Bait demi memandang kedudukan merak dikalangan umat Islam.
Ketiga, beberapa kesalahan fatal yang dilakukan sebagian khalifah Bani Umayyah, seperti menyerang dua kota suci umat Islam-Makkah dan Madinah-yang mengguncang emosional umat Islam dan gaungnya senantiasa mewarnai jiwa dan aneka tulisan mereka.
Keempat, banyaknya kelompok yang memusuhi Bani Umayyah, seperti Syiah, Khawarij, dan para pendengki mereka yang tamak dalam memperoleh kekuasaan yang menjerumuskan mereka dalam pertemuparan sengit.
Kelima, provokasi dan informasi-informasi negatif itu senantiasa menyebar dalam pembicaraan masyarakat hingga masa pembukuan.
“Meskipun sebagian Bani Umayyah sangat memusuhi Islam pada awalnya,” lanjut Abdussyafi. “Ketika masuk Islam pada Fathu Makkahmereka memperlihatkan aneka kebaikan dengan berbagai penaklukan mereka. Mereka juga memperlihatkan peran signifikan dalam mengibarkan bendera tauhid. Mereka memperlihatkan rasa cinta pada agama Allah dan perjuangan di jalan-Nya yang layak diapresiasi. Bahkan Rosululloh SAW sendiri mengamanatkan berbagai tugas besar nan penting kepada mereka. Begitu juga dengan keberhasilan yang dicapai ketiga khulafaur rasyidin sepeninggal beliau.”
“Benarkah bahwa keislaman Bani Umayyah tidak berpengaruh positif terhadap etika dan prilaku mereka, sehingga dikatakan masih bagian dari masyarakat jahiliyah? Apakah semua itu tidak diketahui Rosululloh SAW ketika beliau merasa senang dengan keislaman dan kedekatan mereka?” tanya Abdussyafi kepada para kritikus yang hanya menampakkan sisi negatifnya saja, “Sampai-sampai beliau (Rosululloh) melimpahkan kepada mereka berbagai tugas penting berkaitan dengan perkembangan pemerintahan dan stabiitas keamanan. Bahkan, dalam hal yang berkaitan dengan akidah, beliau mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pencatat wahyu!” jelasnya kemudian.
Maka tak lain lagi, Bani Umayyah yang menyatakan dirinya masuk Islam dialah termasuk dari sahabat nabi yang pernah berjuang bersama dengan beliau. Imam Ahmad bin Hambal dalam Fadha’il Ash Shahabahberpendapat bahwa seluruh sahabat Rosulullah SAW memiliki karakter lurus (udul) berdasarkan kesaksian dan pengakuan Allah dan Rosul-Nya bagi mereka. Sangat banyak ayat Al Quran dan hadist Rosululloh SAW yang menyebutkan tentang mereka dan kelurusan mereka.
Sejalan dengan yang disampaikan Imam Ahmad, Ibnu Hajar berkata, “Hanya saja, seandainya tidak ada satu keterangan pun dari Allah dan Rosul-Nya tentang mereka, tetap saja sikap dan prilaku mereka, seperti hijrah, jihad, perjuangan menyebarkan dakwah Islam, saling memberi nasehat dalam agama, kuatnya keimanan dan keyakinan, memastikan kelurusan serta kebersihan jiwa mereka. Seluruh sahabat merupakan manusia terbaik jika dibandingkan dengan setiap generasi sesudah mereka.”
Masih dalam pembahasan mengenai keutamaan sahabat nabi, Ibnu Taimiyah dalam Minhaj As Sunnah membedakan antara al adalah (kelurusan) dan al ishmah (kemaksuman). Dalam hal ini beliau menyampaikan bahwa kaidah utama dalam masalah ini menyatakan bahwa tidak meyakini ada orang yang maksum selain Rosululloh SAW. Para Khulafaur Rasyidin boleh jadi melakukan kesalahan.
Sebagai contoh, seorang sahabat dalam hal ini Hathib bin Abu Balta’ah. Dia mengirimkan surat kepada kaum Quraisy yang isinya memberitahukan kepada mereka ihwal pergerakan Rosululloh SAW untuk menaklukkan kota Makkah. Kendati itu merupakan kesalahan fatal yang hukumannya adalah hukuman mati dalam undang-undang kemiliteran, tetapi Rosululloh SAW memaklumi alasannya dan beliau memaafkannya.
Oleh Ridwan Hd.
![]() |
| Bedug sebagai alat komunikasi ibadah | Sumber foto: Tropenmuseum |
Beberapa hari sebelum masuk puasa Ramadhan di tahun 1950, Mohmmad Roem menelpon Mohammad Natsir. Tokoh yang populer dari Perjanjian Roem - Royen ini ingin menanyakan waktu mulai berpuasa. Sebagai pengikut Ru’yatul Hilal, Roem biasa mengikuti suara bedug sebagai informasi telah masuk bulan puasa ataupun menanti hari lebaran. Tetapi, sejak tinggal di daerah Merdeka Barat, Jakarta, karena sebagai pejabat negara dan tidak hidup dilingkungan perkampungan lagi, suara bedug jarang terdengar. Teman-teman dilingkungannya juga lebih banyak mengikuti metode hisab.
Natsir menjawab bahwa puasa akan masuk dua hari lagi. Mendengar jawaban itu, lekas Roem mengatakan kepada istirnya, ”Kita lusa mulai puasa.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya istri Roem yang dijawabnya kalau tahu dari Natsir. “Dari bedug sampai ke Natsir. Sayang tidak dua puluh tahun lebih dulu kau telpon Natsir.” kata istrinya lanjut. “Kenapa komentar kau begitu?” balas Roem.
“Saya tidak perlu lagi bikin ketupat dengan mendadak.” ucap istri Roem yang dikisahkannya di buku Bunga Rampai Sejarah jilid 2.
Sekitar tahun 1930 hingga 1940an, Roem tinggal di wilayah yang ramai dengan suara bedug. Suara bedug memiliki peranan penting dalam informasi waktu-waktu masuknya kegiatan ibadah, seperti masuk waktu sholat, hingga bedug sebagai informasi munculnya hilal ketika masuk Ramadhan atau Syawal.
Bagi penganut Ru’yatul Hilal seperti Roem, malam hari ke 29 Ramadhan adalah hari yang mendebarkan, “apakah esok hari kita sudah berlebaran, atau harus mencukupkan puasa tiga puluh hari.” tulisnya.
Kadang-kadang isyarat bedug itu datangnya terlambat. Susasana sudah tenang, dapur sudah gelap, dan orang-orang sudah akan beristirahat, tiba-tiba suara bedug terdengar kalau besok lebaran. Para ibu tiba-tiba langsung sibuk. Warung yang tadinya sudah tutup, dibuka lagi. Dapur kembali mengepul. Suara takbiran di masjid juga terdengar semalaman. Kalau suara bedug tidak terdengar, maka artinya besok masih berpuasa satu hari lagi.
Berbeda dengan para pengikut Muhammadiyah yang menggunakan hisab, mereka tak perlu bergantung keputusan lebarannya kepada bedug. Maka sering kali adanya perbedaan hari pertama puasa atau lebaran antara pengikut Ru’yatul Hilal yang notabene dari kalangan tradisional, dan pengikut hisab yang kebanyakan orang Muhammadiyah.
"Begitulah penulis di tahun 1950 beralih dari pengikut ru'yat menjadi pengikut hisab, dan penulis tidak merasa murtad." tulis Roem kemudian. Inilah sebab istri Roem sampai berkomentar: "tidak dua puluh tahun lebih dulu kau telpon Natsir."
"Begitulah penulis di tahun 1950 beralih dari pengikut ru'yat menjadi pengikut hisab, dan penulis tidak merasa murtad." tulis Roem kemudian. Inilah sebab istri Roem sampai berkomentar: "tidak dua puluh tahun lebih dulu kau telpon Natsir."
Mengapa Kita Tidak Dapat Bersatu?
Pernah suatu kali sekitar 1930an, Roem berdiskusi dengan kawannyanya dari Muahmmadiyah yang baru saja selesai Sholat Ied Idul Fitri. Roem yang masih berpuasa mengucapkan, “Selamat Hari Raya Idul Fitri”.
“Terimakasih.” balas kawan Roem yang tidak disebutkan namanya dalam tulisannya itu. “Besok saya akan mengucapkan yang sama kepada saudara.”
Roem yang masih berpuasa berkomentar, “Kalau begitu puasa saya haram karena hari ini sudah bulan baru.”
“Tidak begitu,” kata kawannya, “Kalau saya masih berpuasa maka haramlah puasa saya karena saya menganut paham hisab. Bagi saudara larangan itu besok berlaku. Ini haru saudara masih wajib berpuasa.”
“Dengan tafsiran itu ajaran menjadi terang, berhubung dengan adanya kemungkinan perbedaan jatuhnya bulan baru.” kata Roem.
Kawannya itu menanggapi, “Begitulah. Soalnya bukan menentukan bulan baru semata-mata. Berpuasa bulan Ramadhan tidak selamanya 30 hari, sedang agama membolehkan kita menentukan bulan Ramadhan itu, baik secara Ru’yat maupun hisab.”
“Mengapa kita tidak dapat bersatu?” tanya Roem.
“Bersatu yang bagaimana?” kawannya itu lalu menjelaskan panjang, “Yang begini ini tidak terjadi tiap tahun. Sering penetapan dengan 2 cara itu sama hasilnya. Tapi kalau hasilnya berlainan, itu hanya hari yang ke 30. Dan kita sudah bersatu 29 hari lamanya. Pengikut Ru’yat dan hisab bersatu menjalankan ibadah puasa berdasarkan syariat yang sama. Hanya satu hari yang tidak sama, karena apa? Karena Agama Islam memberikan kebebasan kepada umatnya untuk memilih diantara dua cara itu. Puasa tidak selamanya 30 hari. Nabi sendiri berpuasa lebih banyak jumlah bulan yang ke 29 hari daripada yang 30 hari. Yang kita berbeda itu pada hari ke 30. Dan berpesta serta sembahyang Id sunnah, sedang berpuasa wajib. Mengapa kita lebih suka melihat adanya perpecahan? Mengapa tidak seperti yang dikatakan Nabi, bahwa perbedaan paham itu rahmat Tuhan.”
“Tidak dapat dipersatukan?”
“Perbedaan paham itu sudah berjalan berabad-abad.”
Masalah perbedaan hari lebaran itu juga, dalam tulisan Roem ini, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan libur lebaran dua hari. Tujuannya, agar ketika terjadi perbedaan hari lebaran, kedua penganut ru’yat dan hisab bisa mendapatkan libur.[]
Oleh Fahmi Mudaliyanto
Tantangan hidup di Eropa adalah musim dingin. Maka sumber kehangatan selain alkhohol yang sangat dibutuhkan disana adalah rempah-rempah dari bangsa timur. Manfaat rempah-rempah selain menambah daya taham tubuh, menyehatkan, juga memberi kehangatan. India, China, dan Nusantara adalah beberapa lokasi dimana mereka mendapatkan rempah-rempah itu.
Ratusan tahun bangsa kulit putih ini berlayar mengitari Afrika dan Asia untuk mendapatkan barang kebutuhan mereka. Namun pelayaran yang sedianya membahagiakan itu di rentan tahun 1664 - 1827 telah menjadi momok yang menakutkan. Hampir seluruh kapal dagang di rampok, bahkan tak tanggung-tanggung perompak laut ini menyerang dan merampok pula kapal perang kerajaan.
Tersebutlah Kerajaan Asyraf Hasaniyin di Sajalmasah, Maghribi Al-Aqsa (Morocco). Awalnya negeri ini hanya bermaksud mengamankan negerinya dari serangan laut bangsa lain. Namun seiring berganti kepala negara yang pandai menjaga dan mengatur siasat berganti dengan kepala negara yang serakah mengejar keuntungan. Armada laut yang sedianya mengamankan negara ini di sulap menjadi bajak laut. Sesiapa melintas dalam wilayah teretorialnya akan di rampok. Tak peduli kapal dagang, kapal kerajaan, bahkan kapal tempur sekalipun dirampok juga.
Gegara beringas dan kuatnya bajak laut ini bangsa-bangsa Eropa mau tak mau bersedia membayar pajak nan mahal setiap tahunnya agar kapal mereka yang membawa rempah-rempah tidak diserang.
Pada pertemuan tahunan 1827 seperti biasanya wakil-wakil negara Eropa mengirimkan pajaknya ke Morocco. Monseur Dauval, seorang wakil dari Perancis yang bertugas membawa Jizyah ke Morocco, karena satu dan lain hal, telah berlaku congkak di hadapan Raja Husain. Baginda raja marah dan memukul wajah wakil itu dengan kipas. Wakil tersebut pulang dan mengadukan yang ia dapat saat menyerahkan Jizyah.
Louis XIV adalah Raja Perancis yang berkuasa saat itu. Tak terima wakilnya dipukul maka ia meminta bantuan Inggris untuk menyerang Morocco. Hingga tahun 1910 an M Perancis tak berhasil pula mengalahkan Morocco.
Kala itu Morocco di kepala Sultan Maulaya Abdul 'Aziz. Beliau memiliki adik yang telah di peralat oleh Perancis yang bernama Maulaya Abdul Hafidz. Pada 1912, melalui propagandanya, Perancis berhasil menumbangkan Sultan Maulaya Abdul 'Aziz kemudian digantikan Maulaya Abdul Hafidz yang memihak Perancis.
30 Maret 1912 rakyat Morocco menuntut di turunkannya Sultan Maulaya Abdul Hafidz karena kecenderungannya pada Perancis. Maka Abdul 'Aziz yang dicintai rakyat namun tak disukai Perancis pun diasingkan ke Tanjah (Tanger) sedang Abdul Hafidz yang disukai Perancis namun tidak disukai rakyat pun di pindah ke Paris. Ia meninggal di Paris 1940 M. Lalu diangkatlah Sultan Maulaya Yusof yang sebelumnya sudah ada hitam di atas putih untuk tunduk pada Perancis dan mengakui kekuasaannya.
Perancis mengeluarkan Undang-undang "Zahir el Barbari" yang berisi pemisahan bangsa Bar-bar dengan bangsa Arab pada 1924 . Namun Sultan Maulaya Yusof tidak berkenan untuk menandatangani piagam tersebut. November 1927 Perancis mengundang Sultan Maulaya Yusof ke Paris. Ketika di Paris sang Sultan di racun hingga sepanjang perjalanan pulang beliau sakit. Beliau meninggal beberapa hari setelah tiba kembali di Morocco.
Sultan Maulaya Yusof berputra dua orang. Maulaya Idris nan dicintai oleh rakyatnya dan si bungsu Maulaya Muhammad nan akrab dengan Perancis. Setiba di Morocco Sultan langsung memberi Wasiat kepada Maulaya Idris untuk menggantikannya. Namun lagi-lagi Perancis menjadi penengah sehingga Maulaya Muhammad ibn Yusof lah yang diangkat menjadi Sultan. Kemudian Maulaya Idris ibn Yusof diasingkan.
Pada 1930 kembali Perancis menyuruh Morocco untuk menandatangani Undang-undang pemisahan bangsa Barbar dengan bangsa Arab. Demi mengetahui apa yang telah dilakukan Perancis pada ayah dan kakak nya, maka Sultan Maulaya Muhammad ibn Yusof memimpin rakyatnya menuntut dan memperjuangkan kemerdekaan Morocco.
Morocco merdeka penuh dari Perancis pada 2 Maret 1956.
Bacaan : Sejarah Islam, Prof Dr HAMKA
![]() |
| Pasukan Asing Perancis di Maroko, 1914. | sumber: ww1blog.osborneink.com |
Tantangan hidup di Eropa adalah musim dingin. Maka sumber kehangatan selain alkhohol yang sangat dibutuhkan disana adalah rempah-rempah dari bangsa timur. Manfaat rempah-rempah selain menambah daya taham tubuh, menyehatkan, juga memberi kehangatan. India, China, dan Nusantara adalah beberapa lokasi dimana mereka mendapatkan rempah-rempah itu.
Ratusan tahun bangsa kulit putih ini berlayar mengitari Afrika dan Asia untuk mendapatkan barang kebutuhan mereka. Namun pelayaran yang sedianya membahagiakan itu di rentan tahun 1664 - 1827 telah menjadi momok yang menakutkan. Hampir seluruh kapal dagang di rampok, bahkan tak tanggung-tanggung perompak laut ini menyerang dan merampok pula kapal perang kerajaan.
Tersebutlah Kerajaan Asyraf Hasaniyin di Sajalmasah, Maghribi Al-Aqsa (Morocco). Awalnya negeri ini hanya bermaksud mengamankan negerinya dari serangan laut bangsa lain. Namun seiring berganti kepala negara yang pandai menjaga dan mengatur siasat berganti dengan kepala negara yang serakah mengejar keuntungan. Armada laut yang sedianya mengamankan negara ini di sulap menjadi bajak laut. Sesiapa melintas dalam wilayah teretorialnya akan di rampok. Tak peduli kapal dagang, kapal kerajaan, bahkan kapal tempur sekalipun dirampok juga.
Gegara beringas dan kuatnya bajak laut ini bangsa-bangsa Eropa mau tak mau bersedia membayar pajak nan mahal setiap tahunnya agar kapal mereka yang membawa rempah-rempah tidak diserang.
Pada pertemuan tahunan 1827 seperti biasanya wakil-wakil negara Eropa mengirimkan pajaknya ke Morocco. Monseur Dauval, seorang wakil dari Perancis yang bertugas membawa Jizyah ke Morocco, karena satu dan lain hal, telah berlaku congkak di hadapan Raja Husain. Baginda raja marah dan memukul wajah wakil itu dengan kipas. Wakil tersebut pulang dan mengadukan yang ia dapat saat menyerahkan Jizyah.
Louis XIV adalah Raja Perancis yang berkuasa saat itu. Tak terima wakilnya dipukul maka ia meminta bantuan Inggris untuk menyerang Morocco. Hingga tahun 1910 an M Perancis tak berhasil pula mengalahkan Morocco.
Kala itu Morocco di kepala Sultan Maulaya Abdul 'Aziz. Beliau memiliki adik yang telah di peralat oleh Perancis yang bernama Maulaya Abdul Hafidz. Pada 1912, melalui propagandanya, Perancis berhasil menumbangkan Sultan Maulaya Abdul 'Aziz kemudian digantikan Maulaya Abdul Hafidz yang memihak Perancis.
30 Maret 1912 rakyat Morocco menuntut di turunkannya Sultan Maulaya Abdul Hafidz karena kecenderungannya pada Perancis. Maka Abdul 'Aziz yang dicintai rakyat namun tak disukai Perancis pun diasingkan ke Tanjah (Tanger) sedang Abdul Hafidz yang disukai Perancis namun tidak disukai rakyat pun di pindah ke Paris. Ia meninggal di Paris 1940 M. Lalu diangkatlah Sultan Maulaya Yusof yang sebelumnya sudah ada hitam di atas putih untuk tunduk pada Perancis dan mengakui kekuasaannya.
Perancis mengeluarkan Undang-undang "Zahir el Barbari" yang berisi pemisahan bangsa Bar-bar dengan bangsa Arab pada 1924 . Namun Sultan Maulaya Yusof tidak berkenan untuk menandatangani piagam tersebut. November 1927 Perancis mengundang Sultan Maulaya Yusof ke Paris. Ketika di Paris sang Sultan di racun hingga sepanjang perjalanan pulang beliau sakit. Beliau meninggal beberapa hari setelah tiba kembali di Morocco.
Sultan Maulaya Yusof berputra dua orang. Maulaya Idris nan dicintai oleh rakyatnya dan si bungsu Maulaya Muhammad nan akrab dengan Perancis. Setiba di Morocco Sultan langsung memberi Wasiat kepada Maulaya Idris untuk menggantikannya. Namun lagi-lagi Perancis menjadi penengah sehingga Maulaya Muhammad ibn Yusof lah yang diangkat menjadi Sultan. Kemudian Maulaya Idris ibn Yusof diasingkan.
Pada 1930 kembali Perancis menyuruh Morocco untuk menandatangani Undang-undang pemisahan bangsa Barbar dengan bangsa Arab. Demi mengetahui apa yang telah dilakukan Perancis pada ayah dan kakak nya, maka Sultan Maulaya Muhammad ibn Yusof memimpin rakyatnya menuntut dan memperjuangkan kemerdekaan Morocco.
Morocco merdeka penuh dari Perancis pada 2 Maret 1956.
Bacaan : Sejarah Islam, Prof Dr HAMKA
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
About Me
Popular Posts
-
Jembatan Merah Surabaya Tempo Dulu
Foto-foto Jembatan Merah Surabaya tempo dulu yang berhasil admin himpun dari commons.wikimedia.org De Willemskade langs de Kali Mas, Soeraba... -
Ketika Soekarno (muda) Ditolak Cintanya
Oleh Ridwan Hd. Ilustrasi dari Film Soekarno (2013) Usianya 18 tahun. Impian terbesar pemuda pribumi itu adalah bisa memiliki gadis Belanda ... -
Mengenal HAMKA (Bagian 1): Masa Kecil yang Nakal
Oleh Ridwan Hd. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), seorang ulama dan sastrawan | Foto: gambar bebas Google Picture Nakalnya sudah terk... -
Upaya Belanda menduduki Indonesia pada 1946 dalam Video Warna
Sumber/penerbit video : Dutch Docu Channel Link : https://www.youtube.com/watch?v=NZvM9rTXqwY&spfreload=5 -
Tata Kota tentang Hakikat Manusia
oleh Salim A. Fillah Tugu Jogja yang di foto oleh Th. van de Burgt pada Desember 1948. Sumber: Het Nationaal Archief | gahetna.nl “Yogya it... -
Mengenal Jong Islamieten Bond – Bagian 2
Oleh Ridwan Hd. Baca sembelumnya: Mengenal Jong Islamieten Bond - Bagian 1 Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Kasman Singodimedjo da... -
Pertandingan Sepakbola Hindia-Belanda Melawan Belanda pada 1938
Sumber: KNVB Fotocollectie | gahetna.nl Tim Nasiona Hindia-Belanda sedang berfoto bersama di Amsterdam bersama pada pejabat Belanda setelah ... -
Menjawab Citra Negatif Bani Umayyah (Bagian 1)
Oleh Rofi'ulmuiz Uang keping bergambar Khalifah Abdul al Malik dari Dinasti Bani Umayyah | Foto: commons.wikimedia.ord Bagian dari perio... -
Video Dokumenter Ki Hajar Dewantara yang Dibuat Tahun 1956
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menul... -
Tentang Negeri-negeri di Andalusia
Oleh Fahmi Mudaliyanto Benteng Palacio de La Aljafer a warisan peradaban Islam di Spanyol | sumber: gambar bebas google picture Layaknya se...
Labels
- Agus Salim
- Batavia
- Budaya Islam
- Budi utomo
- Dunia
- Dunia Islam
- Dunia Modern
- Foto
- Hamka
- Headline
- Hindia-Belanda
- Kebangkitan Nasional
- Kemerdekaan
- Ki Hajar Dewantara
- KNIL
- Mohamad Natsir
- Mohammad Roem
- Mozaik
- Nasionalisme
- Nusantara
- Nusantara Lama
- Nusantara Modern
- Pancasila
- Perang Dunia I
- Portugis
- Sarekat Islam
- Soekarno
- Soekiman
- Tjokroaminoto
- Tokoh
- Umayyah
- Video





